Social Media

Share this page on:

Akreditasi Jurusan Kampus Swasta di Malang Dipertanyakan (2)

Dari 55 Kampus Swasta, 33 Belum Terakreditasi, Bagaimana Jaminan Kualitasnya?

27-12-2017 - 16:00
Infografis
Infografis

MALANGTIMES - Para mahasiswa tampaknya musti segera mengecek akreditasi kampus dan program studi (prodi) masing-masing. Jika tidak, bisa-bisa ijazahnya 'tidak berharga' saat diajukan dalam seleksi lembaga pemerintahan maupun 'dihargai rendah' di lembaga swasta. 

Apalagi berdasarkan data yang dihimpun MalangTIMES dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) VII Jawa Timur, masih ada 60 persen perguruan tinggi swasta (PTS) di Malang Raya masih belum terakreditasi secara lembaga. Sementara dari sisi prodi, masih ada puluhan pula yang tak mengantongi pengakuan. 

iklan

(Baca Juga : Ratusan Ribu Mahasiswa Malang Dibohongi Kampus, Jurusan Tak Terakreditasi Tak Bisa Daftar CPNS)

Kopertis mencatat, di Malang Raya terdapat 55 PTS. Dari jumlah itu, 33 lembaga belum terakreditasi secara lembaga. Jumlah itu mencapai 60 persen dari keseluruhan lembaga yang terdaftar.

Di antaranya Universitas Ma Chung, Universitas Wisnuwardhana, Universitas Katholik Widya Karya, Universitas Widyagama, dan lain-lain. 

Sisanya, ada 12 kampus yang mengantongi akreditasi C dan 9 PTS terakreditasi B. Di antaranya Universitas Merdeka (Unmer), Universitas Islam Malang (Unisma), IKIP Budi Utomo (IBU), dan lain-lain. Yang memprihatinkan, meski digadang-gadang sebagai penunjang predikat Kota Pendidikan, hanya ada satu PTS di Malang Raya yang mendapat akreditasi A. Yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). 

Akreditasi Jurusan Kampus Swasta di Malang Dipertanyakan (2)

Namun seperti kampus-kampus lain, meski secara lembaga terakreditasi A, masih ada prodi-prodi di UMM yang terdata masih terakreditasi C. Tepatnya ada 11 prodi, sedangkan 21 prodi terakreditasi B dan 22 lainnya terakreditasi A. Data tersebut didasarkan dari Direktori PTS Kopertis Wilayah VII 2016.

Kampus-kampus swasta lainnya juga demikian. Misalnya Unisma yang termasuk salah satu PTS terkemuka di Malang. Masih ada 8 prodi terakreditasi C, 18 prodi terakreditasi B, dan 5 prodi saja yang terakreditasi A. Secara rinci, masing-masing kampus akan dibahas dalam rangkaian laporan khusus yang disusun MalangTIMES. 

Selain risiko yang telah dipaparkan di tulisan pertama, belum terakreditasinya prodi di PTS juga berpengaruh pada kualitas lulusan. Barangkali, masih banyak mahasiswa yang berpikir asal kuliah atau asal mengantongi ijazah. Padahal, kualitas tersebut nantinya akan berpengaruh saat persaingan di dunia kerja. 

Kepala Seksi Kelembagaan dan Kerja Sama Kopertis VII Budi Hasan menguraikan, akreditasi A berarti kampus dan prodi sudah memiliki kualitas yang bagus. Jika B berarti sedang, sementara akreditasi C tidak serta merta berarti buruk. Namun, masih dalam proses peningkatan mutu. 

"Akreditasi tersebut menjamin adanya kualitas pendidikan di dalamnya. Sementara yang belum akreditasi tidak diketahui kualitasnya karena belum teruji dari Badan Akreditasi Nasional," terangnya. Menurut Budi, verifikasi kampus-kampus tersebut lanngsung ditangani oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT). Pengujiannya pun dilakukan secara independen. 

Budi membeberkan, permasalahan akreditasi tersebut menjadi pekerjaan rumah (PR) hampir semua lembaga PTS di Jawa Timur. Sebanyak 182 di antara 322 kampus swasta yang terdaftar belum terakreditasi secara institusi. Angka itu sekitar 56 persen dari seluruh perguruan tinggi (PT).

Selama ini, lanjut Budi, masih banyak PTS yang mengira bahwa akreditasi hanya dibutuhkan untuk institusi kampus saja. Sedangkan akreditasi program studi dianggap tidak wajib. Padahal, kewajiban itu telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Bahkan, dalam pasal 28 disebutkan, gelar akademi dan vokasi dianggap tidak sah jika dikeluarkan PT yang tidak terakreditasi. Gelar itu bisa dicabut oleh menteri. "Kondisi itu tentu harus menjadi perhatian oleh PTS yang hingga kini belum melakukan akreditasi," jelasnya.

Lalu bagaimana nasib lulusan kampus tersebut? Simak di tulisan berikutnya. 


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha

Top