Social Media

Share this page on:

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang (24)

Diperiksa Polisi, Pembeli Ngotot Tak Pernah Menjanjikan Uang Rp 350 Juta kepada Penjual Ginjal

02-01-2018 - 19:36
Kuasa Hukum Erwin Susilo, Maskur,SH (kanan) (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Kuasa Hukum Erwin Susilo, Maskur,SH (kanan) (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang (24)

 

iklan

MALANGTIMES- Kasus dugaan jual beli ginjal yang melibatkan Ita Diana (penjual) dan Erwin Susilo (pembeli)  kini dalam penanganan serius Polres Malang Kota.

Hari ini (2/1/2017) pembeli ginjal, Erwin Susilo memenuhi panggilan Polres Malang Kota untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus yang menderanya.

Erwin Susilo datang bersama dua kuasa hukumnya yakni Maskur SH MH dan Suwito SH. Pemeriksaan yang dilakukan unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Polres Malang Kota berlangsung selama lima jam dimulai pukul 09.00 WIB.

Sementara, kedatangan Erwin sendiri sama sekali tidak terlihat oleh awak media yang menungguinya di depan Mapolresta Malang. 

Bahkan, sekitar pukul 14.00 WIB usai pemeriksaan dua kuasa hukum Erwin terlihat keluar tanpa disertai kliennya tersebut.

Maskur, hukum Erwin menjelaskan bahwa kliennya tersebut telah keluar melalui pintu belakang. Di sana sopirnya sudah menunggu.

Dalam keterangannya usai pemeriksaan, Maskur mengungkapkan bahwa selama pemeriksaan yang berlangsung sejak pagi tersebut kliennya dicecar 33 pertanyaan oleh pihak penyidik. 

Namun, secara garis besar, lanjut Maskur, pertanyaan penyidik masih seputar awal perkenalan kliennya dengan Ita Diana. 

Pertemuan awal diperkenalkan oleh siapa dan kontribusi yang pernah diberikan kliennya kepada Ita Diana. Termasuk proses tranplantasi ginjal  yang dilakukan dan tempat diselenggarakannya operasi.

"Nah, pembicaraan terkait angka Rp 350 juta itu tidak ada. Itu rekayasa dari Ita Diana. Tidak ada janji dari kedua belah pihak. Semua sudah diserahkan kepada tim dokter, dan tim dokter telah memberikan syarat-syarat dan itu sudah terpenuhi melebihi apa yang disampaikan tim dokter," ungkapnya.

Lanjutnya, untuk tali asih sesuai yang disarankan tim dokter sudah diberikan sebelum dilaksanakannya transplantasi. Karena dokter mensyaratkan semua  harus sudah terpenuhi sebelum operasi dilaksanakan.

"Munculnya angka Rp 350 juta ini adalah pemerasan. Nah, yang disarankan dokter adalah tali asih selama tiga bulan tidak bekerja, setiap bulannya Rp 15 juta. Ditambah lagi asuransinya Rp 5 juta. Jadi totalnya Rp 50 juta. Nah, ditambah lagi di luar itu sebesar Rp 20 juta," jelasnya.

Dengan perlakuan Ita Diana yang dinilai mencemarkan nama baik kliennya, pihaknya masih bersabar dan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang terjadi pada Ita Diana saat ini.

Keduanya dinilai sama-sama gagal. Ita gagal dalam usahanya sehingga mempunyai hutang banyak, sementara Erwin gagal ginjal. 

"Sama dengan Ita, klien saya juga mengalami gagal ginjal. Jadi, keduanya sama-sama susah sehingga kami harapkan masing-masing bisa menahan diri. Namun, kalau Ita bertindak berlebihan, tak menutup kemungkinan kami akan lakukan tindakan hukum balik," bebernya.

"Dan sekali lagi kami tegaskan bahwa angka Rp 350 juta itu asing bagi Erwin. Dari awal semua sudah sesuai, ada hitam di atas putih di rumah sakit. Sebelum pasien pendonor pulang sudah selesai haknya, bahkan kwitansinya ada," pungkasnya.


Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Heryanto
Publisher :


Top