Social Media

Share this page on:

Kopi Nusantara, Identitas Indonesia (4)

Starbucks Coffee dan Keberadaan Kedai Kopi Lokal Malang, Benarkah Ada Pengaruh?

16-01-2018 - 21:02
Kedai kopi yang menyajikan kopi lokal Malang di kawasan Jalan Kalpataru Kota Malang diisi anak muda. (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)
Kedai kopi yang menyajikan kopi lokal Malang di kawasan Jalan Kalpataru Kota Malang diisi anak muda. (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Suguhan kopi dalam cup putih, pegangan kertas cokelat tua, logo mitologi Yunani Dewi Syren berwarna hijau. Anda mungkin paham benar darimana racikan kopi tersebut berasal. Ya, Starbucks Coffee. Memiliki sekitar 20.336 kedai di 61 negara, pantas rasanya menyebut Starbucks sebagai kedai kopi terbesar di dunia. 

Dan Kota Malang tak luput dari persinggahan Starbucks. Sejak Mei 2016 lalu, gerai Starbucks buka di pusat perbelanjaan kawasan Dieng Kota Malang. Pembukaan gerai di Malang sekaligus menandakan ekspansi Starbucks ke-19 di Indonesia. 

iklan

Fenomena Starbucks merajai percaturan kedai kopi sudah bukan barang baru bagi warga dunia. Malah anak muda, khususnya, menjadikan Starbucks bukan sekedar kopi tetapi gaya hidup dan prestis. Benarkah demikian? 

Tidak semua anak muda nongkrong di Starbucks Coffee. Lorong-lorong kedai kopi lokal Malang masih penuh sesak. Salah satu kedai kopi ialah Telescope yang berada di Jalan Kalpataru Nomor 112C Kota Malang. Selasa (16/1/2018) petang, anak muda yang rata-rata mahasiswa tampak bercengkerama seru. 

Mengapa tidak beralih mengopi ke Starbucks saja? "Harga kopi di sana mahal. Kata temen-temen juga, kalau kopi, mending enggak ke sana. Jadi , aku enggak pernah ke sana dan enggak ada niatan juga sih ke sana," aku mahasiswi Universitas Brawijaya, Deavita Septa. 

Memang untuk segelas kopi berlogo Starbucks Coffee, Anda harus ekstra sabar merogoh isi kantong. Dibanderol di kisaran harga di atas Rp 30.000, tampaknya bukan harga bersahabat bagi kantong mahasiswa. 

Keberadaan Starbucks Coffee di Malang pun membuat owner kedai kopi Telescope M. Asyhari Rachmat bersyukur. Apa karena kedai kopi miliknya tidak surut pelanggan? Pria yang akrab disapa Ary itu menggelengkan kepala. 

"Bukan. Kalau masalah pelanggan, menurut saya, bukan soal ada Starbucks atau tidak ada. Kedai kopi lokal juga banyak. Tapi cara mereka mengelola bisnis kedai kopi Starbucks menurut saya bisa jadi bahan belajar," kata dia. 

Berdiri sejak tahun 1971, bukan waktu sebentar Starbucks membangun kerajaan bisnis hingga bertahan dan besar hingga sekarang. Meski demikian, Ary mengatakan adanya Starbucks Coffee di Malang bukan sebuah persoalan besar.

"Starbucks baru ada setahun belakangan kan. Padahal saya dan teman-teman di kalangan pelaku kedai kopi sudah lama mendengar kabar itu. Empat tahun lalu bahkan. Itu bukan soal. Kenapa? Mereka di Malang butuh waktu segitu lama untuk survei pasar," ungkap pria yang juga konsultan Kedai Kopi itu. 

Owner kedai kopi Telescope  M. Asyhari Rachmat saat menyeduh kopi (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

Pasar Malang, kata Ary, berbeda dengan kota-kota besar lain di Indonesia. Ia mengatakan persoalan harga masih menjadi pertimbangan utama. "Menurut saya, ini soal segmen pasar. Starbucks tahu sendirilah harganya kisaran berapa. Tetapi saya dan kedai-kedai kopi lain jauh harganya di bawah mereka," ungkap dia. 

Selain soal harga, pelanggan masih menyukai kopi varian lokal Nusantara. Kopi Malang varian Arjuna, sambung Ary, merupakan sebuah keharusan dihidangkan di Kedai Kopi yang dia dan dua kawannya kelola itu.

"Menurut saya, Starbucks masuk ke Malang tidak bisa dihindarkan karena bagian dari pasar bebas dunia. Tetapi soal kedai kopi lokal bertahan atau tidak itu masalah lain. Dan anak muda Malang masih mencari kopi dengan cita rasa lokal dan harga bersahabat," tukas ia. (*)


Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Top