Social Media

Share this page on:

Kopi Nusantara, Identitas Indonesia (3)

Bumikan Kopi Lokal, Poktan Mekar Tani Edukasi Warga Kelola "Si Merah"

16-01-2018 - 20:59
Teguh saat menyiapkan kopi merah Jambuwer di salah satu gazebo yang dibuat secara bergotong-royong oleh poktan Mekar Tani dan warga, Selasa (16/01). (Nana)
Teguh saat menyiapkan kopi merah Jambuwer di salah satu gazebo yang dibuat secara bergotong-royong oleh poktan Mekar Tani dan warga, Selasa (16/01). (Nana)

MALANGTIMES - Saatnya masyarakat merasakan nikmatnya minum kopi berkualitas. Bukan sekadar kopi sisa sortir kualitas buruk atau sachetan saja. 

Begitulah awalnya pemikiran sederhana seorang petani kopi di wilayah Jambuwer, Kromengan,  Kabupaten Malang, bernama Teguh Suwiyono (41). Dia akhirnya mencurahkan pemikirannya kepada petani lain di kelompok tani (poktan) Mekar Tani. 

iklan

Pemikiran tersebut juga didasari dengan melimpahnya kopi yang dihasilkan para petani di Desa Jambuwer yang terkenal dengan kopi merah-nya. "Kita punya kopi bagus yang diapresiasi orang luar.  Tapi masyarakat jarang merasakan nikmatnya kopi lokal yang tumbuh di desanya sendiri. Ini bagi kami menjadi ironis, " kata Teguh kepada MalangTIMES,  Selasa (16/01). 

Kopi merah Jambuwer yang pernah menyabet juara III Festival Kopi Nusantara dalam kategori cita rasa kopi  memang terbilang jarang bisa dinikmati warga desa yang memiliki luas lahan perkebunan kopi 200 hektare ini.  Dengan produksi setiap tahun kopi sebanyak 300 ton,  biji-biji kopi ini terserap para pembeli dari luar daerah. 

Terkenal di luar,  tapi di tanah tumbuhnya biji-biji kopi ini sendiri semakin asing di kenal warganya sendiri. "Dari sini kami  bersepakat bersama anggota petani Mekar Tani dan pemerintah desa untuk melakukan gerakan mencintai kopi lokal kita sendiri, " ujar Teguh. 

Edukasi kopi merah pun dilakukan dengan cara mendirikan beberapa gazebo kopi di pinggir sawah dekat pembibitan tanaman kopi. Pendirian gazebo kopi ini dimaksudkan sebagai ruang bagi warga untuk bisa mengakses kopi unggulannya sendiri. 

Pasalnya,  sampai saat ini penjualan kopi merah Jambuwer kalau tidak diambil pembeli langsung. Penjualannya mengandalkan even-even tertentu saja. "Belum ada tempat untuk mengakrabkan kopi lokal kepada masyarakatnya sendiri di sini. Karena itu, kami dirikan dulu gazebo ini, " terang Teguh yang menjadi salah satu pelopor kopi merah. 

Hasilnya,  masyarakat pun kembali mengenal dan bisa mencicipi cita rasa kopinya.  Edukasi kopi pun berjalan. Dengan cara masyarakat desa yaitu berkumpul di gazebo dengan latar sawah menghampar ditemani secangkir kopi pekat khas Jambuwer. 

Cerita pun mengalir tentang berbagai hal.  Khususnya kopi sebagai bagian dari kultur dan identitas masyarakatnya. Pun tentang pola penanaman. Cara petik sampai pada pengolahan biji kopi menjadi bubuk yang siap diracik dan disuguhkan. 

"Walau ini relatif baru kami  lakukan,  ternyata antusiasme masyarakat cukup tinggi. Bahkan warga lain pun berdatangan ke sini, " kata eguh dengan sumringah. 

Dalam kesempatan berbeda,  Kepala Desa Jambuwer Tuwuhadi bersama pihak Kecamatan Kromengan pun ancang-ancang akan melakukan pendirian pembangunan edukasi wisata kopi merah. 

"Kita memiliki potensi di kopi.  Para petani yang bergabung dalam poktan Mekar Tani juga bersemangat tinggi untuk mengembangkan potensi ini. Karenanya kita mencoba untuk mendirikan wahana edukasi kopi, " kata Tuwuhadi. 

Tentunya,  wisata edukasi kopi merah Jambuwer ini selain sebagai ruang mengenalkan potensi kepada masyarakat agar tumbuh rasa memiliki yang kuat terhadap produk sendiri.  Juga sebagai upaya dalam mengangkat kesejahteraan para petani kopi yang ada. (*)


Pewarta : Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Top