Social Media

Share this page on:

Kopi Nusantara, Identitas Indonesia (7)

Presiden Jokowi: Bandingkan Rasa Aroma Kopi Kita dengan Brand Luar, Enak Mana?

18-01-2018 - 10:56
Angkat Kopi Lokal Malang. Sekda, Bupati, Wabup, Kadisparbud dan Inspektorat serta seluruh pemangku kepentingan bersepakat mengangkat kejayaan kopi asli Kabupaten Malang. (Imam Syafii MalangTIMES)
Angkat Kopi Lokal Malang. Sekda, Bupati, Wabup, Kadisparbud dan Inspektorat serta seluruh pemangku kepentingan bersepakat mengangkat kejayaan kopi asli Kabupaten Malang. (Imam Syafii MalangTIMES)

MALANGTIMES - Bukan hanya di daerah, geliat menumbuhkan rasa cinta dan branding kopi lokal bergema. Di tingkat pusat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun turun tangan dalam upaya menggugah dan mengembalikan kesadaran seluruh elemen di dunia perkopian.

Tidak hanya di tingkat petani. Bahkan Jokowi meminta para eksporter tidak lagi menjual kopi mentah petani kopi Nusantara ke luar negeri yang kerap dihargai relatif murah.

iklan

Hal ini disampaikan Jokowi secara langsung, seperti dilansir beberapa media nasional. di Istana Negara, Jakarta, pertengahan tahun lalu. "Kopi Nusantara semuanya enak dan kita kaya dengan berbagai jenis kopi yang tumbuh di berbagai daerah. Jangan jualan kopi mentah lagi ke luar negeri. Tapi kita bersama branding kopi yang berasal dari Indonesia ke luar negeri," kata presiden.

Jokowi pun menyatakan, pemerintahannya siap mengangkat brand-brand lokal yang memproduksi kopi berkualitas di tanah air ke luar negeri. “‎Sekali lagi kita ingin mengangkat brand lokal dengan bahan baku 100 persen dari negara kita, Indonesia. Rasanya silakan langsung bandingkan dengan brand luar, enak mana," ujarnya. 

Kopi dengan berbagai jenis tersedia banyak di Indonesia. Dari Gayo, Mandailing, Wamena, Jawa, Bali dan lainnya. Tinggal, lanjut Jokowi, mencetak sebanyak mungkin para barista andal guna menggarap besarnya potensi kekayaan jenis kopi yang dimiliki Indonesia. "Pangsa pasar kopi Indonesia di luar negeri besar. Pun di dalam negeri sendiri," imbuhnya.

Melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, kesadaran petani kopi terus dikuatkan. Baik melalui berbagai bantuan perkebunan, pendampingan, penyedian fasilitas promosi dan pemasaran. Bahkan Rendra terus mengupayakan berbagai strategi baru dalam menggairahkan dunia kopi lokal yang tumbuh subur di bumi Arema ini.

Menjadi ironis saat kopi kita dikenal di luar negeri, tapi di dalam daerah sendiri atau luar daerah tidak bergaung. Apalagi misalnya sampai tidak tahu dan merasakan nikmatnya meminum kopi lokal sendiri. "Kalah dengan, misalnya, brand kopi luar," ujar Rendra.

Dia berharap dunia kopi di wilayahnya terus melakukan inovasi-inovasi baru. Inovasi itu yang akan semakin menguatkan identitas Kabupaten Malang di dalam masyarakat RI maupun di luar negeri.

Kopi tidak lagi sekadar komoditas. Tapi menjadi energi besar dalam mewujudkan visi misi Kabupaten Malang yang diejawantahkan dalam tiga program kerja. Yaitu menurunkan angka kemiskinan, optimalisasi sektor pariwisata serta memperkuat daya dukung lingkungan hidup. Dan melalui budidaya kopi yang masih terus menjadi andalan di sektor perkebunan Kabupaten Malang, tiga program kerja tersebut terangkum.

Kopi telah meningkatkan taraf kesejahteraan para petani secara bertahap. Kopi juga mewujud sebagai bagian dari dunia pariwisata dengan bermunculannya desa wisata edukasi kopi. Geliat kesadaran masyarakat pun semakin terbangun. Bergotong-royong membangun desanya melalui potensi kopi yang bukan hanya sekadar jualan saja. Tapi juga memberikan edukasi mengenai kopi kepada masyarakat.

"Ini konsep pariwisata sesungguhnya. Tidak sekadar menjual produk tapi menguatkan produk tersebut dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada pengunjung dan masyarakat,"  ujar Made Arya Wedanthara, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang.

"Berbagi pengetahuan dan pengalaman berbudidaya kopi secara harmonis. Antara kepentingan pariwisata dan menjaga lingkungan tempat hidup tanaman. Menjadi tindakan nyata mendukung daya dukung keberlangsungan lingkungan hidup. Masyarakat secara langsung didorong untuk menjaga lingkungan hidupnya dalam menopang wisata yang mereka kelola," pungkas Made kepada MalangTIMES. (*)


Pewarta : Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Top