Social Media

Share this page on:

Sarang Copet, Hati-Hati Naik Bus Restu (1)

Tiga Kali Pergoki Copet Beraksi, Diduga Ada Kongkalikong dengan Kru Bus

29-01-2018 - 13:27
ilustrasi
ilustrasi

MALANGTIMES - Warga yang ingin bepergian ke daerah Lumajang, Jember, Banyuwangi dan sekitarnya harus benar-benar waspada. Terutama yang memilih menggunakan armada bus. Sebab, gerombolan pencopet siap menggasak barang-barang berharga penumpang yang lengah.

Bahkan, ada dugaan kogkalikong alias kerja sama antara gerombolan penjahat kelas teri itu dengan para kru bus. Meski ada kelompok yang diringkus polisi, kelompok lain terus bermunculan. Tak sedikit penumpang yang jadi korban.

iklan

MalangTIMES merangkum kesaksian para korban dan calon korban yang dirugikan gerombolan maling di angkutan umum.

Salah satu orang yang memergoki aksi pencopet itu yakni Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Disabilitas Jawa Timur Hari Kurniawan. Rabu (17/1/2018) lalu dia nyaris menjadi korban kejahatan para copet.

"Saya naik bus jurusan Jember dari Terminal Bungurasih (Purabaya, Surabaya), sekitar pukul 22.00. Meski malam tetap berangkat karena Kamis (18/1/2018) saya ada sidang di Lumajang," ujar Wawa, sapaan akrabnya.

Saat itu, dia naik armada Bus Restu berwarna pink (merah muda). Namun, dia tidak sempat mencatat plat nomor kendaraan tersebut.

Wawa mengungkapkan, sebelum naik dia sempat ada sedikit keraguan. "Karena memang Bus Restu selama ini terkenal copetnya dan tidak hanya sekali saya memergoki copet beraksi di Bus Restu warna apa pun," ujarnya.

Pengalaman tak mengenakkan itu dia tuliskan di akun Facebook pribadinya. "Ada Kerja Sama antara Pencopet, Kondektur dan Kenek Bus PO Restu," demikian yang tertulis sebagai judul unggahan itu. Wawa menjelaskan kronologi dia memergoki aksi copet di bus itu.

"Meski sempat ragu, tapi karena malam semakin larut, saya beranikan diri untuk menaiki Bus Restu tersebut. Memang tingkah keneknya sedikit mencurigakan dan tidak ramah," tulisnya.

Kemudian, dia naik dan mulai melihat-lihat bangku yang sekiranya kosong. Dia juga mengamati di bagian belakang bus ada beberapa orang mencurigakan dan sering mencuri pandangan ke arah Wawa.

"Sempat terbersit, masa saya lagi yang jadi sasaran. Sebab ini kali ketiga saya mau dicopet di bus," terangnya.

Saat itu, posisi Wawa membawa tas yang berisi berbagai dokumen serta barang-barang berharga. Sesampai di Bangil, Wawa terpikir untuk menjebak barisan orang yang mencurigakan itu. "Saya pindah duduk agak di belakang. Tas ransel saya letakkan di kiri, saya sendiri mepet ke jendela," terangnya.

Benar saja, saat pura-pura tertidur selama 15 menit, Wawa mulai merasakan ada salah satu dari pencopet mulai mendekat. Setelah memastikan bahwa Wawa tertidur, tangannya mulai beraksi merogoh saku kirinya dan mau mengambil handphone.

"Si copet ketangkap basah, tangannya aku tepis dan aku langsung berkata, kamu mau nyopet ya. Namun copet tersebut berpura-pura tidur," sebutnya.

Tak menyerah, Wawa kembali mengulang perkataan itu dengan volume suara yang lebih keras. "Dari bangku belakang anggota sindikat copet lainnya mendekatiku dan menarik tangan kiriku. Saya diajak duduk di pojok kiri bangku belakang," urai alumnus Universitas Brawijaya itu.

"Dekat bangku belakang saya lihat sang kondektur tertidur, tapi sepertinya dia tidak benar-benar tidur," paparnya. Anggota sindikat copet tersebut mulai menginterogasi Wawa. Mereka bertanya tujuan Wawa. Sempat terjadi adu mulut antara Wawa dan komplotan itu.

Tiba-tiba anggota sindikat yang tadi mau mencopetku tidak berhasil pindah ke bangku belakang sambil menggertak.

"Dia bilang, Bapak jangan ngasih tahu siapapun kalau kami mau mencopet! Awas kalau ngasih tahu orang lain," ujar Wawa menirukan perkataan si copet. Adu mulut kembali terjadi, namun akhirnya copet-copet itu tampak tak ingin ramai sehingga meninggalkan Wawa dengan ancaman.

Setelah itu, menurut Wawa kelompok itu mulai beraksi lagi. Mereka mengincar para penumpang yang lengah tertidur dengan pulas.

Saat bus sampai di Terminal Probolinggo dan mulai bergerak menuju jurusan Lumajang-Jember-Banyuwangi, kondektur yang tadinya tertidur, bangun dan mulai mengurusi penumpang yang baru naik dari terminal Probolinggo.

"Setelah mengurus penumpang kondektur itu duduk di bangku paling belakang dan memanggil para anggota copet dan kemudian meminta upeti kepada pencopet," sebutnya.

Wawa menyimpulkan, ternyata rumor itu benar adanya sindikat copet itu kerja sama dengan kondektur. Ketika sampai Pasar Klakah kenek bus PO Restu tersebut terbangun dan segera berjalan menuju bangku belakang dan meminta jatah juga.

"Para pencopet menjawab dengan Bahasa Madura bahwa mereka gagal mencopet penulis, sehingga setorannya kurang dan hanya untuk kondektur," ungkapnya.

"Pelajaran terpenting untuk semua pengguna kendarasn Bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) yaitu jangan naik bus PO Restu deh, kejadian ini sudah sering menimpa penulis. Mau Restu Panda atau Restu Agung, mending cari bus yang di belakangnya," imbau Wawa.

Yang jadi korban bukan hanya Wawa, salah satu jurnalis yang bertugas di Malang pun pernah kecolongan di dalam bus.

"Saat itu perjalanan dari Banyuwangi ke Malang, malam hari, saya membawa helm motor standar dan diletakkan di bagian belakang bus," ujar Benni, jurnalis salah satu media cetak Jawa Timur.

"Saya sempat tertidur, tapi sampai di Probolinggo saya tengok ke belakang helmnya hilang. Padahal di sana ada kondektur yang melihat saya meletakkan helm. Saat saya tanya, dia ngaku tidak tahu," urainya.

Dalam seri laporan khusus (lapsus) kali ini MalangTIMES akan mengupas soal kejahatan para copet di Bus Restu. Bagaimana tanggapan pengelola armada PO restu dan pihak kepolisian? Simak di tulisan selanjutnya


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha

Top