Social Media

Share this page on:

Mengawal Malang Jadi Kota Mode

Ini Cara Kreatif Wanita Asal Malang Ikuti Tren Mode

07-02-2018 - 13:30
Berawal dari kecintaan akan mode, mahasiswi Malang Niken Anisa Jayanti memproduksi sendiri hijab dengan dibantu dua orang penjahit. (foto: Niken for MalangTIMES)
Berawal dari kecintaan akan mode, mahasiswi Malang Niken Anisa Jayanti memproduksi sendiri hijab dengan dibantu dua orang penjahit. (foto: Niken for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Mode senantiasa berkembang. Dan bahkan perkembangan fashion cukup gencar sehingga seringkali fashion item tertentu bisa jadi tidak lagi ngetren hanya dalam waktu beberapa bulan saja.

   Dinamika industri fashion itulah yang banyak membuat wanita harus ekstra-hati-hati. Bila tidak pintar mengatur keuangan, bisa-bisa kantong jadi bolong. 

iklan

Industri fashion yang dinamis justru menantang mahasiswi Malang bernama Niken Anisa Jayanti. Wanita yang menempuh studi di Universitas Islam Malang itu mengaku cukup gemar berbelanja kerudung. Kesukaan dia terhadap mode itulah yang membuat Niken cukup sering mengeluarkan rupiah tak sedikit. 

"Daripada sering beli kerudung, saya akhirnya berpikir kenapa enggak produksi sendiri kerudung yang saya inginkan. Karena memang sejak SMK ada pengalaman juga buka usaha meski di dunia kuliner," cerita mahasiswi semester empat ini kepada MalangTIMES, Rabu (7/2/2018).

Niken menjelaskan dirinya tak lantas memproduksi sendiri hijab. Niken yang gemar membuka tren mode hijab dari internet itu baru memberanikan diri memproduksi hijab setahun belakangan. Label hijab yang ia buat diberi nama Haylabshijab. 


Produk hijab besutan mahasiswi Universitas Islam Malang dengan label Haylabshijab (foto: Niken for MalangTIMES) 

Produk hijab Niken menggunakan berbagai material kain. Ia menerangkan beberapa kain ia pilih untuk koleksi hijab segiempat dan pashmina produknya. 

"Mulai dari square pollycotton dan juga marble squre atau juga disebut dengan istilah madinah square yang jadi favorit di kalangan mahasiswa. Selain itu, juga saya pakai bahan seperti maxmara, diamond, dan cerutty," sambung ia. 

Dia dibantu oleh dua orang tenaga penjahit. Untuk jahit hijab, Niken menjelaskan dikerjakan di rumah mereka masing-masing.

"Penjahit masih dua. Tapi produksinya bukan di rumah saya. Jadi,  dikerjakan di rumah penjahitnya jadi saya setiap hari atau dua hari sekali sering mondar mandir ke rumah penjahit untuk mengecek jahitannya," papar Niken. 

Niken menjelaskan usahanya ini memang banyak dijalankan melalui sistem online. Pemasaran produk dilakukan melalui akun Instagram @haylabshijab.

Rupanya Niken juga tak segan membawa produk hijabnya ke kampus. "Dan biasanya saya juga bawa ke kampus, tapi saya juga buka stand di Car Free Day Malang," kata dia. 

Soal harga Niken mengatakan ia mematok harga mulai Rp 22.000. "Untuk harga sampai Rp 38.000 tapi biasanya ada yang costum ukuran gitu jadi saya bandrol harga 45.000 ukuran square syar'i," tukas dia. (*)


Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan

Top