Social Media

Share this page on:

Bikin Baper, Api Cinta Ken Arok dan Ken Umang di Masa Revolusi Tumapel

11-03-2018 - 07:31
Ilustrasi Kisah Cinta dan Tahta Ken Arok by Zhaenal Fanani. (Istimewa)
Ilustrasi Kisah Cinta dan Tahta Ken Arok by Zhaenal Fanani. (Istimewa)

MALANGTIMES – Sejarah masa lalu yang diterakan di berbagai kitab atau prasasti kerap memberi ruang interpretasi. Pun dalam kisah percintaan sang pendiri Kerajaan Singosari Ken Arok yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi.

Seperti diketahui, Ken Arok yang memperistri Ken Dedes setelah merebut tampuk kekuasaan Tunggul Ametung ternyata memiliki cinta lain sebelumnya kepada seorang perawan bernama Umang. Umang adalah anak bungsu Ki Bango Samparan, bapak angkat Ken Arok ketika masih muda. Saat itu Arok masih dikenal sebagai anak bengal dan biang kerok di masa kerajaan Tumapel. Arok muda adalah Robin Hood di masa tersebut. Pemimpin begal yang meresahkan para pejabat Tumapel yang saat itu dengan sewenang-wenang memberlakukan penarikan upeti kepada rakyat. Uang upeti inilah yang jadi incaran Arok muda melalui berbagai aksi perampokan. 

iklan

Dalam petualangannya itulah, Arok yang meninggalkan Bango Samparan dan Umang untuk menimba ilmu kedigjayaan lain kepada para brahmana kembali bertemu. Umang yang telah memendam perasaan sayang kepada Arok sejak kecil, cintanya kembali membuncah. Pun, Arok yang sejak berada di rumah Umang telah memiliki perasaan sayang kepada Umang.

Kisah cinta Arok dan Umang ini secara indah dituliskan dalam buku Arok Dedes karya (alm) Pramoedya Ananta Toer. Diceritakan, setiap kali pulang berjudi atau mencuri, Arok selalu memberi Umang berbagai hadiah. Berbagi perhatian dan rasa sayang kedua insan tersebut terhenti sejak Arok kembali melanglang buana mencari ilmu.

Takdir mempertemukan kembali mereka dalam masa pergolakan di Tumapel. Berbagai kerusuhan dan kemiskinan masyarakat yang semakin diperparah dengan tabiat para pejabat saat itu menimbulkan reaksi keras. Yaitu dengan melakukan perlawanan gerilya dari sudut-sudut gelap Tumapel. Umang di masa itu tampil menjadi salah satu perempuan yang berjuang dalam perlawanan tersebut. Otak cerdas dengan kemampuan yang tangkas dalam melakukan berbagai perlawanan membuat dirinya tampil menjadi pemimpin wanita satu-satunya di masa itu.

Sampai saatnya Umang kembali dipertemukan dengan cinta pertamanya yang ternyata merupakan pucuk pimpinan gerombolan perlawanan prajurit Tumapel. Arok, yang saat itu telah menyandang gelar Ken dari gurunya, Empu Loh Gawe, bahu-membahu melakukan revolusi terhadap Tumapel. Suka duka memimpin perlawanan tersebut semakin mendekatkan kedua hati yang lama terpisah. Rasa cinta dan sayang keduanya akhirnya diikat dalam sebuah perkawinan sederhana. Ken Arok memberikan gelar Ken kepada Umang yang dengan setia mendampinginya berjuang. Perkawinan mereka juga berjalan terus dalam pasang surut perjuangan melawan kelaliman Ametung.

Sampai akhirnya Ken Arok menikahi Ken Dedes sebagai perempuan yang diramalkan akan melahirkan para raja Jawa dari rahimnya. Ken Umang yang berasal dari kasta Sudra harus mengikhlaskan cinta sejatinya kepada Ken Arok yang saat itu telah mampu menumbangkan Ametung dan menjadi raja pertama Singosari menggantikan nama Kerajaan Tumapel. Ken Umang juga ikhlas dirinya hanya dijadikan selir, bukan permaisuri yang sudah digenggam oleh Ken Dedes.

Tapi cinta tidak mengenal kasta maupun kejelitaan raga saja. Ken Arok yang telah memperistri Ken Dedes kerap mengunjungi Ken Umang di salah satu candi bernama Telih di Dusun Sumbul, Desa Klampok, Kecamatan Singosari. Di Candi Telih yang memiliki ketinggian sekitar 2 meter dan lebar bangunan dasarnya sekitar 2,5 meter itu, menurut beberapa sumber yang ada, Ken Arok kerap melakukan pertemuan dan melepas kerinduan dengan Ken Umang yang merupakan istri pertamanya. Dalam setiap kencan, Ken Arok berangkat dari Tumapel (Singosari), Ken Umang berangkat dari Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso sekarang.

Dari hasil cinta Ken Arok dan Ken Umang tersebut, menurut Prasasti Mula Malurung 1255, lahirlah empat anak.  Yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola, dan Dewi Rambi. Kelak, Tohjaya kemudian menjadi raja bawahan di Kerajaan Kadiri. (*)

 

Dari Beberapa sumber diolah


Pewarta : Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Top