Social Media

Share this page on:

Lahan TPA Bakal Dialihfungsikan, Pemulung Resah

13-03-2018 - 18:48
Para pemulung masih beraktivitas di TPA Lowokdoro di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Para pemulung masih beraktivitas di TPA Lowokdoro di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Rencana pengalihfungsian lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lowokdoro menimbulkan keresahan sejumlah warga setempat. Utamanya yang sehari-hari menjadi pemulung di area tersebut. Meski selama satu tahun terakhir TPA yang berada di kawasan perbatasan Kota dan Kabupaten Malang itu tidak dioperasionalkan, aktivitas pembuangan sampah masih dilakukan. 

Selama ini, lahan yang terletak di Kelurahan Kebonsari Kecamatan Sukun Kota Malang itu dijadikan tempat mengais rezeki oleh puluhan pemulung. Sejak resmi tidak beroperasi, pemulung tetap memilah sampah yang setiap hari dikirim oleh sejumlah petugas kebersihan setempat. 

iklan

Menurut Seladi, salah satu pemulung, petugas kebersihan kampung selalu mengirimkan sampah dari warga sekitar menggunakan gerobak dengan jumlah yang besar. "Petugas kebersihan kampung (bukan petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup) setiap hari masih kirim sampah ke sini. Lalu dipilah pemulung untuk kemudian dijual ke tengkulak," ujarnya saat ditemui awak media, siang ini (13/3/2018). 

Namun, dua hari terakhir aktivitas tersebut terhenti. Pasalnya, menurut Seladi, ada imbauan dari petugas Pemkot Malang agar kawasan tersebut tidak lagi dipakai untuk area pembuangan sampah. "Kalau benar ditutup, pemulung merasa keberatan dan meminta agar TPA tetap difungsikan. Ada sekitar 23 KK (keluarga) yang menggantungkan penghasilan dari mengais sampah," urainya. 

Seladi menuturkan, sehari-hari setidaknya 50 sampai 60 gerobak sampah masuk ke wilayah pembuangan tersebut. Masing-masing gerobak setidaknya memiliki muatan seberat 25 kilogram. Sampah tersebut kemudian dipilah oleh 23 keluarga pemulung yang setiap hari memang menetap di dalam TPA. "Ada juga pemulung yang memang tinggal di dalam sini," tambahnya.

Mengenai alasan penutupan dan larangan pembuangan sampah ke TPA tersebut, Seladi mengaku belum mengetahui. Hanya saja, dia berharap agar pemerintah kembali mempertimbangkan keputusan tersebut. "Kabarnya ada rencana lahan digunakan untuk pembuatan kompos," tambahnya sembari menunjuk salah satu sisi bangunan untuk pembuatan kompos.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Agoes Edy Poetranto mengungkapkan bahwa TPA Lowokdoro sudah tidak difungsikan sejak lama. Rencananya, kawasan tersebut akan ditanami pohon-pohon langka. "Rencana tersebut sudah ada sejak tahun 2017 dan kita anggarkan di tahun 2018 ini, tapi masih proses," katanya.

Pintu dari TPA yang sudah tidak difungsikan itu menurutnya akan ditutup agar tidak lagi dibuangi sampah oleh warga luar kota. Sementara proses pembangunanya sendiri masih akan dilakukan secara bertahap karena membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. "Bekas TPA kita bukan hanya yang di Lowokdoro saja, tapi masih ada daerah lainnya," papar Agoes.

"Selain itu, mereka bukan pemulung asal dari Kota Malang dan bukan dari Kabupaten Malang juga," tambahnya. Sementara itu, pada pintu gerbang bekas TPA tersebut terdapat papan nama dengan tulisan berbunyi 'Tanah Dalam Pengawasan Kota Malang. Dilarang Menggunakan/Memanfaatkan Mendirikan Bangunan'.


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher : bayu pradana

Top