Social Media

Share this page on:

Dibius Tayangan Karma, Warkop Ceu Imas Geger Gara-Gara Susuk

07-05-2018 - 09:30
Pasang susuk penglaris (Ist)
Pasang susuk penglaris (Ist)

*dd nana

Anda penonton setia tayangan Karma di ANTV? Itu tuh tayangan berbalut mistis yang dipandu oleh Robby Purba dan penasihat spiritual Roy Kiyoshi. Tayangan yang membuat deretan sinteron tepar karena kalah ratingnya. Padahal tuh Karma tayangnya malam lho,  bukan waktu ideal masyarakat pecinta kotak hidup ini khusyuk menatapnya. 

iklan

Dari rilisan rating televisi, Karma ANTV mendapat nilai 4,8. Atau 32,3 persen penduduk Indonesia menonton tayangan yang kerap dianggap settingan itu. Lepas fenomena alam gaib itu settingan atau memang benar adanya, Karma memang jadi raja tontonan saat ini. 

Fenomenalnya Karma nih sampai juga di desa kopi tubruk. Terutama bagi mereka yang memang sudah kecanduan dunia alam sebelah. Sayangnya,  gara-gara Karma juga, terjadi peristiwa yang membuat Kang Emil harus terjun langsung melerai perselisihan yang terjadi di warung kopi Ceu Imas. 

Aktor yang bertikai bukan orang sembarangan gegara Karma ini,  yaitu Sotoy anak lulusan pendidikan timteng (bukan Timur Tengah tapi Timur Tenggarong,  sebuah wilayah yang rata-rata warganya katanya sangat muak dengan segala klenik. Timteng ini berbatasan dengan desa kopi tubruk)  dengan Ceu Imas si seksi pemilik warkop. 

"Kalau dodolan tidak pake susuk,  bisa bangkrut saya. Susuk ini tradisi,  ilmu tua sejak manusia berniaga. Kok lo ngotot aja bilang susuk haram. Haram apanya, " kata Imas dengan mata indah bola pingpongnya. 

Sotoy yang sukanya bercelana di atas mata kaki dan dahinya terlihat ada bulatan hitamnya,  melotot. "Nah tuh dengar kalian semua. Si Imas jelas-jelas pake susuk dalam jualan kopinya. Musyrik, dosa besar ente , " ujarnya. 

Imas yang keukeuh bahwa susuk bukan hal yang dilarang menurut kepercayaannya sejak berdagang,  semakin memperlihatkan mata belonya. (Perempuan cantik walau marah tetep ayu lek). "Kalau lo g suka saya pake susuk sudah pulang sana. Emang gue pikiran,  ngapain juga masih nyeruput kopi gue. Bagi saya susuk itu wajib dilakukan. Titik., " teriak Imas. 

Somad, Sukro, Sokib,  Sodron dan lainnya yang kebetulan ada di warkop Imas,  semakin gelisah. Melihat Macan (mama cantik) mulai mengaum. Sotoy bukannya mengalah,  malah menggebrek meja. 

"Ente kalo mati tidak akan tuh tanah nerima tubuhmu. Kafir. Ini masalah akidah wajib dibela sampe mati. Makanya ente kalo nonton jangan yang klenik-klenik kayak Karma itu, " semprot Sotoy. 

Debat semakin panas. Serupa air  yang baru saja dikucurkan pada cingkir-cingkir kopi. Mereka mempermasalahkan susuk yang kini kembali trend,  karena tayangan Karma. Bagi Imas sebagai  pedagang,  susuk adalah keharusan. Bahkan bagi seluruh pedagang apapun. Dari yang dodolan konvensional maupun modern kaya supermarket atau mall. Mereka semua melestarikan susuk. Kecuali pedagang yang pake cara online. 

Sotoy yang dididik keras untuk memberantas hal-hal maksiat,  merasa wajib menjadi martir. Akidah harus ditegakkan walau harus berperang. Nyawa taruhannya Sotoy rela. Maka saat Sotoy datang ke warkop Imas dan memesan kopi,  dia marah besar. Pasalnya mata Sotoy bersitumbuk dengan banner besar yang dipasang Imas di warkopnya. 

"Warkop Jujur Pake Susuk. Dont Worry ya Pelanggan".  Begitu tulisan besar dari banner di warkop Imas. 

Saat ludah dua orang ini berhamburan,  Kang Emil datang. "Nah akaang Emil datang. Urusin tuh si Sotoy,  mentang-mentang merasa paling suci sendiri seenaknya aja larang-larang orang, " ucap Imas yang mata merahnya karena amarah mulai memudar melihat Emil datang. 

"Kang jangan ikut-ikutan jadi kafir. Walo itu si Imas yang minta tolong. Sudah jadi kafir die kang. Beraninya terang-terangan ngaku pake susuk segale, " cerocos Sotoy. 

Emil setelah nyalamin orang-orang duduk dan memesan kopi. Matanya melihat banner yang jadi masalah kedua orang tersebut. Setelah kopi di depannya,  Emil bicara. 

Susuk bagi pedagang itu lumrah. Ini tradisi berdagang kita. Saya pribadi malah salut dengan susuk ini ditengah mulai meraksasanya dagangan online. Kalau pedagang tidak memakai susuk,  bisa bangkrut dia. Ditinggal pelanggan yang jelas tidak akan datang lagi. "Walau pun saya yakin kalau di Imas,  pelanggan akan rela sih kalau tidak di susukinya. Betul lur? " yang dijawab serentak dengan anggukan berjamaah. 

Pipi Imas jelas merona merah kayak tomat yang siap petik. Tapi Sotoy semakin membelalak matanya,  tidak percaya atas apa yang diucapkan Emil. 

Emil tertawa. "Sabar toy,  sabar. Bukannya masalah lo karena tulisan itu kan?" Sotoy mengangguk cepat. "Susuk yang itu bukan susuk yang lo pikirkan. Tapi susuk itu kembalian dalam bahasa kita. Itu bahasa Jawa toy, " ujar Emil yang melanjutkan, "hoby nonton Karma ya lo toy? " tanyanya yang disambut tawa pelanggan lainnya. 

Sotoy bengong. Ada rasa malu di parasnya. Diteguknya kopi,  lantas dikeluarkannya uang duapuluh ribuan untuk membayar. 

"Susuk nya mane Imas?"

"Lo katanya anti susuk. G tak susuki daripada lo mati tanah enggak nerima lo nanti, " jawab Imas sambil senyum indah sekali. 

"Akang Emil suka nonton Karma juga ya? " manja Imas sambil melempar senyum mautnya. "Enggak. Tapi nih kalau mau nonton ya ada film yang judulnya Ghost Stories karya Andy Nyman dan Jeremy Dyson. Ni film bisa jadi alternatif solusi bagi kita tentang peristiwa supranatural, ". 

"Lebih seru dan serem dari  Karma itu film Kang? " tanya Sokib. 

Emil tersenyum dan menjawab bahwa film itu memang horor tapi ceritanya mempertanyakan tentang hantu. "Intinya,  bahwa yang kita yakini bisa saja menipu dan sama sekali tidak nyata, " pungkasnya sambil menyeruput kopi buatan Imas. 

*Penikmat kopi lokal gratisan 



TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top