Social Media

Share this page on:

Ingatlah Pemilik Tangan Suci yang Suapi Yahudi Buta Itu

16-05-2018 - 08:53
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Gus Mas,  begitulah sosok kharismatik pemilik pondok pesantren di desa Kopi Tubruk kerap disapa,  geleng-geleng kepala. Dari matanya terlihat ada genangan air yang siap jatuh ke pipinya yang dimakan usia. 

iklan

Gus Mas sedang begitu sedih melihat para saudara seagamanya terus bertikai. Saling menyalahkan, saling bantai,  saling menghancurkan dengan senjata agama yang dianggapnya milik sendiri  di alam semesta ini. Agama yang sama dengan yang diyakininya sebagai jalan pulang setelah diberi amanah untuk berperan di dunia yang fana ini oleh Tuhan. Amanah hidup untuk saling melindungi,  menjaga,  menyayangi sesama. Amanah untuk menabur bibit kebaikan dan kebenaran dengan cara lembut di dunia. 

"Apa yang membuat mereka begitu tega melumuri tangannya sendiri dengan darah sesama. Kebencian serupa apa yang membuatnya buta pikiran dan hati yang mengarahkan saudaraku ke jalan kematian. Kematian yang tidak disukai Tuhan. Kematian yang merenggut jiwa-jiwa yang mungkin tidak memiliki dosa kepada mereka, " lirih Gus Mas disuatu siang. Ada yang jatuh dari sepasang mata lembutnya. Air mata. 

Orang-orang terdiam. Pikiran mereka melayang mencoba mencari jejak-jejak kebiadaban manusia yang mengusung agama untuk membunuh sesama. 

"Bahkan,  mereka begitu jumawanya untuk merenggut nyawa manusia. Menghalalkan darah sesama, bahkan mencabut kehidupan anak-anaknya sendiri. Anak-anak yang masih suci yang mereka racuni dengan kebencian maha dahsyat. Ya Allah pemilik kelembutan,  apakah telah Kau cabut kelembutan hati mereka ini, " Gus Mas  terisak. Air matanya semakin deras mengalir membasahi terik siang yang membuat tanah merekah. Terik yang membuat jiwa manusia seperti kehilangan budi luhurnya. 

Gus Mas mencoba menahan kesedihannya yang dalam. Menarik nafas panjang dan berkata kepada mereka yang siang hari ini berkumpul di warung kopi Ceu Imas. 

Ingatkah kalian dengan riwayat tangan suci yang dengan telaten setiap hari menyuapi seseorang yang setiap harinya memusuhi pemilik tangan penuh kelembutan itu sendiri. Memusuhi dengan caci maki dan perkataan kotor yang ditujukannya kepadanya setiap hari. Terus menerus tanpa henti. Meludahi dan melemparkan berbagai kotoran kepadanya. Perbuatan itu tidak membuat hatinya yang lembut menjadi keras serupa batu. 

"Ya,  tangan suci itu milik Sayyidul Wujud Muhammad SAW. Tangan yang rela takluk pada kelembutan hati yang mengarahkan tindakannya kepada kebaikan paling luhur, " ucap Gus Mas. 

Baginda Nabi, yang setiap hari dicaci maki,  diludahi,  dilempari kotoran,   tidak membalasnya dengan tindakan yang sama. Apalagi sampai melampauinya dengan tindakan keras. Beliau bahkan setiap hari membalas perbuatan tercela tersebut dengan kebaikan. "Beliau membalasnya dengan menyuapi si  yahudi  tua yang buta itu setiap hari, " ucap Gus Mas dengan kembali berlinang air mata. "Bahkan saat si yahudi yang tidak mengetahui Baginda Nabi yang setiap hari memberinya makan bahkan menyuapi dengan tangan sucinya sendiri, sakit keras, beliau  menjenguk dan mendoakannya, " lanjut Gus Mas. 

Itulah Islam saudaraku semua. Itulah Islam,  agama yang dibawa oleh Kanjeng Nabi untuk mengayomi alam semesta. Islam yang kebenaran dan kebaikannya bukan hanya untuk pemeluknya saja,  tapi untuk seluruh makhluk hidup di bumi ini. 

"Lantas Gus, kenapa mereka ber-Islam dengan cara seperti itu. Mereka sebut nama Allah sambil membunuh manusia. Mereka beragama tapi tidak menjaga kehidupannya sendiri dan manusia lainnya, " tanya Sukro yang berkali-kali mengucap Istigfar saat melihat di layar tivi bom bunuh diri di Surabaya yang dilakukan oleh mereka yang terlihat fasih menyebut nama Tuhan. 

"Apakah dunia di mata mereka begitu kotor? Sehingga mereka berlomba-lomba untuk menghancurkan isinya. Dengan membunuh dan membuat teror. Apakah karena janji Tuhan tentang para bidadari di surga yang membuat mereka rela membunuh dan mati jihad, " tanya Sokib juga. 

Gus Mas menjawab, "Andai kata untuk masuk surga wajib dengan jalan membunuh sesama,  maka saya akan menolak surga yang seperti itu,  Kib. Islam yang dibawa Kanjeng Nabi  tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Kalau pun mereka menyatakan itu ajaran Islam,  maka saya pastikan itu Islam ala egonya, ". 

Mereka,  lanjut Gus Mas, beragama tapi kehilangan jiwa luhur dari agamanya. Mereka hanya ber-Islam tapi kehilangan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. 

"Lantas keyakinan mereka dengan jihad itu sendiri gimana Gus? Apakah benar mereka dinantikan surga yang jadi tujuannya? " tanya Sukro lagi. 

Gus Mas tersenyum tipis dan menjawab,  adakah yang pernah mengetahui surga, selain  Kanjeng Rosul? "Apakah pemimpin mereka,  misalnya,  pernah ke surga dan kenal dengan para bidadari yang akan menyambut orang-orang yang mati jihad dengan cara biadab itu. Sehingga dengan jumawanya mengkapling-kapling surga untuk kepentingannya? Ya Allah yang Maha Mengetahui, apakah telah Kau cabut juga akal mereka setelah kelembutan hatinya tercerabut, ". 

"Bagaimana kita bisa ber-Islam dengan cara Kanjeng Nabi,  Gus? " tanya Sokib. 

Lembutkan hatimu,  lembutkan hatimu,  lembutkan hatimu. Isi pikiranmu dengan cahaya kebenaran yang telah diturunkan Tuhan lewat para kekasihnya. 

"Tanpa hatimu lembut dan otakmu dicahayai kebenaran. Maka tepatlah apa yang disampaikan Gus Mus. Hanya ada kebencian dan kebenaran kerdil dalam pikiran dan hatinya,  " ujar Gus Mas yang menyampaikan ucapan Gus Mus seperti ini. "Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda. Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda. Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda.

Dan Iblis pun tertawa terbahak-bahak. Sumpahnya pada Tuhan menggoda anak cucu Adam semakin nyata di depan mata.  

*Penikmat kopi lokal gratisan



TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top