Social Media

Share this page on:

Berusia 68 Tahun, Kedai Es Talun Kota Malang Ini Pas Temani Buka Puasa Kalian

17-05-2018 - 15:20
Es Talun, salah satu kuliner jadul di Kota Malang yang pas untuk temani buka puasa kalian (Pipit Anggraeni)
Es Talun, salah satu kuliner jadul di Kota Malang yang pas untuk temani buka puasa kalian (Pipit Anggraeni)

MALANGTIMES - Namanya Depot Es Talun. Sebuah kedai yang sudah ada di Kota Malang sejak tahun 1950 itu memang selalu ramai setiap harinya.

Saat ramadan tiba seperti sekarang, olahan yang satu ini sepertinya pas banget biat temani buka puasa kalian.

iklan

Sudah berusia 68 tahun dan tergolong berumur, depot es yang terletak di Jl. Arif Rahman Kota Malang itu memang memiliki resep tersendiri. Sehingga tak heran, banyak pelanggan yang bolak balik datang untuk menikmati hidangan yang pas dengan cuaca Kota Malang itu.

Kedai yang menyuguhkan aneka jenis es ini tergolong sebagai pelopor penjualan es campur di kota pendidikan ini.

Hal itu disampaikan pemilik Depot Es Talun, Afni Nafida yang menyebut jika di tahun 1950 belum ada pedagang yang menjual es campur dan es buah selain keluarganya.

"Ini juga yang menyebabkan saat itu es kami banyak dikenal dan diburu oleh konsumen," terangnya pada wartawan baru-baru ini.

Awalnya, depot tersebut menurut Afni dimiliki seorang keturunan Cina yang sering dipanggil Om Loek oleh warga sekitar. Dia pun menjadi pedagang pertama yang menjual es campur dan es buah, sampai akhirnya banyak dikenal sampai sekarang.

Depot kenamaan itu pun dipegang keluarga Om Loek hanya sampai pada generasi ke dua.

Lantaran tak ada yang meneruskan, usaha tersebut diwariskan kepada sepupu Om Leok, dan pada akhirnya dijual kepada ibu kandung Afni yaitu Wiwik.

"Jadi ibu saya memang dekat dengan keluarga Om Loek dan dulunya jualan sate di sekitar depot sini. Sampai akhirnya ditawari untuk membeli depot dan diambil tawaran tersebut," terangnya.

Tak hanya membeli jedqi, resep keluarha yang dibuat secara turun temurun pun diwariskan kepada ibunda Afni. Tujuannya adalah untuk mempertahankan cita rasa dari es yang sudah ada sejak 1950 itu.

Lebih jauh dia menjelaskan jika cita rasa yang membedakan es campur miliknya dan es campur pada umumnya terletak pada ketan hitam serta jenis sirup yang digunakan. Di mana sejak dari dulu, tape ketan hitam tak pernah absen menjadi bagian dari es campur.

"Dan untuk sirupnya kami tidak membeli. dan membuat sirup sendiri," jelasnya.

Sementara itu, dibandingkan dulu, menu yang disajikan Depot Es Talun kini lebih beragam dan banyak. Selain es campur dan es buah, juga tersedia es teler, es tape ketan hitam dan jus. Kemudian juga menyajikan makanan tradisional lainnya, seperti rujak cingur, gado-gado, tahu campur dan mi pangsit.

Untuk menikmati es fenomenal ini, pengunjung perlu mengeluarkan uang sekitar Rp 9 ribu sampai 12 ribu. Harga ini ditunjukkan untuk menu es yang dimiliki Depot Es Talun. Depot ini buka dari pukul 08.00 hingga 20.00 WIB untuk semua kalangan.

Soal mengenai penyebutan nama Talun, Afni menegaskan, hal tersebut masih berkaitan dengan lokasi yang ditempatinya. Depot sejak dulu berdiri di Kampung Talun, Kauman, Klojen, Kota Malang. 

"Nama Talun itu julukannya dari lokasi yang kita tempati, sama seperti Pasar Talun yang di dekat sini," tambah perempuan ramah itu.

Dalam sehari, Afni mengungkapkan, setidaknya dapat mendapatkan keuntungan sekitar Rp 1 juta di hari biasa. Sementara di hari libur, dia mampu mengumpulkan uang sekitar Rp 1,5 juta. Berbeda pada umumnya, depot di hari libur biasanya banyak pembeli dari luar kota seperti Surabaya, Jakarta dan sebagainya.

"Apalagi kalau hari raya, ini sering dijadikan tempat reuni. Ya mungkin sekalian nostalgia mereka waktu masih muda pernah jajan di sini," tutupnya.


Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Heryanto
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : Malang TIMES

Top