Social Media

Share this page on:

Tuan, Kami Berpuasa Sepanjang Hidup

22-05-2018 - 08:20
Penulis tulisan ini (Nana)
Penulis tulisan ini (Nana)

*dd nana

Desa Kopi Tubruk beberapa hari ini dibuat heboh. Bukan karena masalah pil-pil-an yang kian tidak menarik itu. Ataupun tentang bom yang kembali menyalak. Ini tentang kehebohan di setiap terik matahari saat semua orang sedang berusaha menahan hasrat atas nikmat makanan dan minuman di bulan puasa. 

iklan

Kehebohan tersebut dipicu oleh seorang bocah yang entah datang dari mana dan pergi yang entah kmana pula. Bocah sekitar sembilan atau sepuluh tahun dengan warna kulit kotor,  kusam dibasuh debu dan cuaca. Kulit yang dimungkinkan 99,99 persen tidak pernah disentuh air. 

Tapi,  bukan karena tongkrongannya yang bikin heboh. Di negara yang memiliki pasal anak-anak terlantar dan fakir miskin dipelihara negara ini, penampilan bocah tengil tersebut, begitu akhirnya orang-orang kampung menghardiknya, sangat biasa dilihat. Apalagi pada saat bulan  puasa dan lebaran nanti. 

"Eneg gua lihat bocah tengil itu. Bukannye ikutan puasa eh malah tanpa dose siang-siang keliling kampung gode anak-anak,  remaja ampe orang tue," ujar Somad dengan bibir mecucuk. 

"Anak mana sih tuh orang ya? Apa kiriman desa sebelah yang pingin kita semua tiap hari batal puasanya. Kebangetan dah,  coba tuh orang gede, tak kepret juga, " celetuk Subro. 

Pokoknya, keberadaan anak tersebut telah memancing amarah warga Kopi Tubruk. Bagaimana tidak,  di siang bolong,  dimana makanan dan minuman begitu berlipat kali nikmatinya untuk dipandang. Apalagi dicicipi. (Konon, makanan dan minuman terlezat di bulan puasa adanya pada siang hari). Dengan santainya ditenteng kemana-mana oleh si bocah tengil. 

Bukan hanya ditenteng,  dengan nikmatnya si bocah belagak tak berdosa,  memakan makanan yang dibawanya di tengah kerumunan orang berpuasa. Es degan dengan campuran madu dan susu yang dibawanya dengan plastik serta sruputan di bibir si bocah,  bikin air liur yang berpuasa netes-netes. Membayangkan kesegarannya,  membayangkan kenikmatan manisnya daging degan campuran susu madu. Bahkan,  tetesan dari sudut bibir si bocah tengil,  kurus dekil itu,  bikin mata orang-orang yang lagi berpuasa, sampai nanar. 

"Mau bang... Nih sumpeh deh enaakk bingit. Seger dan manisnya duh,  bisa usir nih panas siang hari. Minum nih bang... " rayu si bocah kepada siapapun yang kebetulan berkerumun dan pada lagi puasa. 

Siapa tidak sewot coba. Apalagi semenjak si bocah tengik itu muter menawarkan makanan dan minuman tersebut,  matahari di desa Kopi Tubruk,  kaya lebih dekat saja dengan bumi. Puanasnya minta ampun. Tidak biasanya,  desa yang terbilang sejuk ini disengat panas yang membakar. 

Godaan si bocah tengik itu,  semakin membuat warga frustasi. Sempat orang-orang mau menangkapnya, tapi dengan gesit tuh bocah berlari menghindar dari tangkapan orang-orang bertubuh kuat. Bahkan dengan kurangajarnya, saat orang-orang menggos-menggos kecapean, si bocah malah mendekati mereka dan menjulurkan tangannya. 

"Nih bang es degan surga. Sumpeh sueggeeer bingit,  apalagi panas-panas begini. Lihat nih daging degannya. Tebel,  empuk,  manis di lidah dan tenggorokan, " ujarnya. 

Warga hampir pasrah. Sebagian diam-diam mokel dengan berbagai alasan. Sebagian kecil lainnya, akhirnya curhat kepada Gus Mas. 

"Tolong kami Gus, bocah tengil itu kayak setan saja. Entah setan darimana, padahal katanya bulan puasa semua setan di rantai, " ucap Subro. 

Gus Mas akhirnya berjanji kepada warga untuk menegur si bocah tersebut. Dia tidak tega juga akhirnya melihat warga sudah payah banget mendapat godaan si bocah. "Padahal kalian hanya digoda sama makanan dan minuman saja kan? Belum sama yang lainnya. Coba kalau yang goda  bukan  bocah kumal itu. Tapi perempuan cantik dengan pakaian serba ketat dan mini. Apa  pada tidak pingsan kalian," kata Gus Mas sambil terkekeh. 

Singkat cerita,  suatu siang dengan terik matahari yang menyengat sekali, orang-orang yang sengaja di kumpulkan di surau oleh Gus Mas,  telah pada hadir semua. Mereka dijanjikan sama Gus Mas yang akan menangkap anak tersebut. Bocah tengil yang tidak bisa ditangkap warga setiap kali mereka murka atas godaannya.  

Mbegeg si bocah yang dijanjikan itu memang datang tepat di pelataran surau. Dengan gayanya yang memuakkan dan membuat setiap orang disurau semakin ngiler melihat gaya dan menu yang  dibawa si bocah. 

Gus Mas mendekat dan mengucap salam. Si bocah cuek tetap makan dan minum dengan gaya artis di iklan tivi. Gus Mas dua kali uluk salam. Si bocah akhirnya mendelik kepadanya. Matanya api. Gus Mas sempat kaget dan akhirnya membaca dalam hati beberapa ayat suci. "Bismillah... " ucapnya sambil menangkap tangan si bocah. 

Aneh si bocah yang gesit dan licin kayak belut, dengan mudah tangannya dipegang Gus Mas. Diajaknya dia ke dalam surau di mana warga telah semakin klepek-klepek menahan hasrat mokel. Setelah duduk, Gus Mas bertanya nama, asal dan lain sebagainya. Sampai pada alasannya bersikap seperti yang dilakukannya setiap hari. Menggoda warga untuk membatalkan puasanya. 

Si bocah bukannya takut disidang begitu. Dia malah dengan santai bertanya, "Apa tidak boleh saya makan dan minum yang merupakan milik saya sendiri ini. Apa tidak boleh saya tawarkan juga kepada mereka,". 

"Tapi ini puasa, nak. Tidak baik menggoda orang berpuasa seperti itu," ucap lembut Gus Mas. "Harusnya kamu juga ikut puasa, bukannya ikut menggoda, " imbuhnya. 

"Bukankah kalian juga sangat seringkali menggoda kami. 11 bulan bahkan kalian mempertontonkannya dan membuat puasa kami yang sepanjang hidup digoda sedemikian rupa, " ucap si bocah bak seorang politikus saat berbicara. 

Si bocah melanjutkan omongannya. Saya hanya mempertontonkan sesuatu yang kecil sekali dari suatu kemewahan dunia,  tapi kalian memperlihatkannya setiap hari dalam duabelas bulan,  saat kami hidup dengan perih dihati,  perih ditubuh dan pikiran. 

Bukankah  kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta  sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Kalau aku tertawa hari ini, bukankah kalian juga selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Kalian sakit hati dengan perilakuku,  berapa jam kalian menderita? Saat maghrib tiba, kalian lampiaskan dendam lapar dan haus seharian. Puasa bagi kalian hanyalah menggeser waktu makan dan minum. 

Tapi,  tahukah kalian saat kami mengerang kelaparan, kesakitan hingga ajal menjemput, apakah ada yang bisa kami pakai untuk mengobatinya. 

Surau Kopi Tubruk senyap. Nafas-nafas warga terasa begitu lambat dihembuskan. Berat. Gus Mas bibirnya berkali-kali komat-kamit. Matanya terlihat mendung mendengar omongan si bocah tengil itu. 

Ketahuilah tuan, kami berpuasa sepanjang hidup kami. Sementara tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja dalam satu bulan dari 12 bulan yang ada. 

Tuan bilang, perilaku saya menyakiti perasaan kalian. Tapi tahukan tuan, perilaku bermewah-mewah dalam berpakaian,  mempersiapkan makanan berlimpah-limpah setiap berbuka apalagi saat lebaran. Kalianlah yang mengolok-olok kami selama  11 bulan dan tanpa kecuali di bulan ramadan ini. 

"Apa  yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap  orang-orang kecil seperti kami, " ucap si bocah. 

Kalian meminta surga hanya dengan jatah satu bulan yang ada di ramadan. Mata kalian dibuka untuk membaca kitab-kitab,  tapi tidak pada lembaran kitab hidup di sekitar kalian. Kitab itu kami,  tuan,  yang berpuasa sepanjang hidup dan menonton perilaku menyolok kalian yang begitu sombong mempertontonkan dunia. 

Kamilah,  tuan yang berpuasa sepanjang hidup. 

Mata Gus Mas meneteskan air matanya. Kembali. 

*Penikmat kopi lokal gratisan



TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top