Social Media

Share this page on:

Gara-Gara Percobaan Burung Baru Sunat, Siswi SMP Rasakan Khasiatnya

23-05-2018 - 08:28
Warning : Bukan untuk uji coba (Ist)
Warning : Bukan untuk uji coba (Ist)

*dd nana

Miris. Itu mungkin kosakata yang kurang tepat untuk menggambarkan kejadian yang menimpa seorang siswa SD kelas V dengan siswi SMP. Kejadian yang membuat heboh warga di sebuah kota T tersebut membuat kita terpana, terlongo-longo, bingung dengan kenyataan yang terjadi di zaman yang katanya semakin maju dan beradab ini. 

iklan

Bagaimana tidak miris. Miris menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah rasa waswas,  cemas,  diambil dari bahasa Jawa. Dengan mencuatnya kabar tersebut, saya sebagai orang tua (dikatakan tua karena memiliki anak. Walau akhirnya arti ini harus segera direvisi dengan banyaknya kasus para bocah yang juga punya anak), tentunya deg-degan dan teramat takut. 

Bagaimana tidak. Apabila anak kita yang untuk jajan chiki saja masih minta uang sama orang tua,  tapi sudah ahli melakukan aktivitas layaknya orang-orang dewasa. Bersetubuh dengan lawan sejenis tanpa rasa takut akan hasil perbuatannya. Ini yang terjadi dengan siswa SD dan siswi SMP di kota T. 

Mereka berhubungan layaknya suami istri dan akhirnya membuat si cewek yang masih ingusan,  perutnya melentung. Hamil. Perbuatan dua anak yang seharusnya masih sibuk dengan ilmu pelajaran di sekolah atau bermain dengan sesamanya ini,  membuat siapapun miris. Mengelus dada dan berdoa,  agar ujian atau siksa (?) tersebut tidak menimpa siapapun yang menjadi orang tua. 

"Mirisnya,  kok bisa-bisanya si ayah siswa SD itu dengan santainya ngomong bahwa kejadian itu membuktikan kejantanan anaknya, " kata Sobrot saat siang mulai meredup menuju sore. 

Sobrot melanjutkan, "Apa tidak bikin geregetan tuh jawaban si bapak itu. Katanya lagi hamilnya si siswi merupakan buah hasil percobaan burung anaknya yang baru disunat, ". 

"Kok ya ono toh ortu seperti itu. Kalo kita pasti sudah semaput bolak balik toh, " timpal Sukro sambil geleng-geleng,  tak habis pikirnya. Bagaimana dua anak di bawah umur bisa melakukan persetubuhan berulang-ulang layaknya orang dewasa. Bagaimana bisa mereka begitu cepat dewasa secara seksual. 

"Dunia ini masuk zaman opo toh? Anak-anak SD sudah pada fasih berpacaran. Melakukan hubungan badan yang sakral. Bahkan dengan terang-terangan menampilkan kemesraannya di medsos. Enggak habis pikir saya," lanjut Sukro. 

"Itu burung si anak juga kok sudah tahu fungsinya,  selain untuk kencing. Pengaruh apa yang membuatnya bertindak seperti itu ya? Video porno, terpapar kebiasaan ortu saat bersenggama dan tidak sadar dilihat anaknya. Atau lingkungan yang memang menyediakan hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa. Seperti di kampung-kampung prostitusi," Sukro masih melanjutkan kebingungannya. 

Gus Mas yang dari tadi diam dan sibuk melakukan sesuatu,  akhirnya angkat bicara. Dia perlihatkan sesuatu kepada orang-orang yang sejak membicarakan burung si anak yang baru sunat tapi bisa langsung tancap gas dan ces pleng juga khasiatnya,  yaitu membuat hamil seorang cewek. 

Sebuah boneka dari bahan malam (entah kenapa mainan anak-anak berbentuk permen warna warni ini disebut malam) diperlihatkan. "Ini bentuk apa? " tanya Gus Mas. 

"Kayak orang Gus. Tapi enggak lengkap itu. Enggak ada mata,  hidung,  mulut. Kaki,  tangan dan tubuh juga tidak proporsional gus, " jawab Sokib. 

"Seperti itu yang terjadi saat ini. Kita yang diamanahkan untuk memberi bentuk baik dan benar kepada anak kita tapi kita tidak menguasai ilmunya," ujar Gus Mas sambil tersenyum. 

Ketiadaan ilmu mempengaruhi keyakinan. Maka tidak heran orang-orang yang berilmu itu punya keyakinan kuat. Sebaliknya pun demikian. Semakin jauh dari ilmu,  keyakinan atas baik-buruk,  benar-salah, yah semakin samar dan sumir. 

"Jadi kasus percobaan burung baru sunat sampe bikin hamil anak orang itu gegara orang tua juga tah Gus?" tanya Sobrot. 

Gus Mas tersenyum. "Gegara kita semua. Awalnya dari lingkup keluarga, lingkungan sampai pada sisi kemajuan zaman. Maka pada agama sebenarnya ilmu disempurnakan,". 

Orang-orang terdiam. Berpikir dan menakar dirinya sendiri. Sudah sampai manakah kita memberi busana yang baik dan benar pada anak kita. Sudah seberapa dalam kita islam-kan anak-anak kita. Hingga pergaulan di lingkungan dan perubahan zaman tidak menjadi mesin cuci otak dan kepribadian anak-anak kita yang fitrahnya bersih. 

"Nah dari pada percobaan burung gituan,  lebih baik pelihara burung beneran dan coba ajarkan baca al-quran. Betul tidak? ". 

*Penikmat kopi lokal gratisan



TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top