Social Media

Share this page on:

Ujung Tombak

25-05-2018 - 08:28
Ilustrasi (lakenheath.af.mil)
Ilustrasi (lakenheath.af.mil)

Ujung Tombak

*dd nana

iklan

Tentunya sangat familiar dengan kalimat tersebut. Ujung tombak. Kalimat tersebut kerap tercetus di dalam berbagai peristiwa,  khususnya dalam sebuah organisasi. Baik itu organisasi pemerintahan maupun swasta. "Kalian adalah ujung tombak perusahaan. Bangkit dan hancurnya kita ada di ujung tombak kalian." Begitulah yang kerap kita dengar. 

Ada sebuah pengakuan. Penegasan. Terhadap suatu unit dalam organisasi apapun terhadap keberhasilan atau kehancuran masa depan. Ada suatu kewajiban atau sebuah beban besar juga di unit yang diruncingkan ujung tombaknya ini. Sebuah berkah atau bisa juga kutukan. Tapi menjadi ujung tombak bukanlah suatu takdir. 

Karena takdir,  kata seorang bijak, adalah akhir dari suatu peristiwa. Sedang rangkaian menujunya adalah perjalanan,  proses menuju takdir itu sendiri. 

Sebagai ujung yang dicipta runcing atau tajam, siapapun yang menerima tugas tersebut, dirancang untuk merobek. Menusuk dan membuat luka. Sebisa mungkin objek atau bahkan subjek dari runcingnya ujung tersebut,  terkapar dan mati. Ujung yang runcing ini yang dikenakan pada sebuah tombak. Senjata tradisional bangsa timur dalam berbagai perburuan atau peperangan. 

"Kenapa tombak,  bukan pistol,  rudal atau pisau? " tanya Sokib si peramal togel desa Kopi Tubruk yang ramalannya akhir-akhir ini kerap mbeleset. Kalah pamor dan sakti oleh Roy Kiyoshi. 

Karena kita bagian dari bangsa yang timur. Atau ketimur-timuran dalam konteks polarisasi kubu zaman dulu. Tombak adalah bagian dalam perjalanan panjang bangsa timur ini. Ada kearifan dan keseimbangan dalam tombak. Sebagai senjata, tombak menyerap kearipan sumber daya yang ada. Karenanya badan tombak didominasi kayu yang tumbuh subur di wilayah tropis seperti kita ini. Pada tombak juga sifat keserakahan manusia diredam dalam kancah pertempuran. Ujungnya yang diruncingkan sedemikian rupa untuk melukai,  didesain untuk tidak menjadi senjata massal yang membunuh banyak manusia dalam satu hentakan. Seperti pistol atau rudal. 

"Pada tombak ilmu keseimbangan juga diterapkan. Ada kebijakan matematika saat tombak dicipta. Kebijakan purba yang juga mencipta semesta, " ujar Sukijan pecinta barang kuno. 

Maka,  lanjut Sukijan, berbanggalah kalian yang terpilih menjadi ujung tombak. Alasan utamanya sederhana, karena sebagai ujung tombak,  kalian dilahirkan untuk menjadi martir. Dilahirkan untuk mencipta suatu kemenangan walau di fananya medan tempur bernama dunia,  kalian akan merasakan sunyi yang begitu menggigil. Sunyi yang tak pernah dirayakan siapapun,  selain oleh para martir lainnya yang siap untuk menuju ruang tersebut. 

Sunyi yang dirasakan para nabi atau kekasih Tuhan. Atau oleh mereka yang terus mencari kesejatian di tengah derap nafas kepalsuan yang kini menjadi kiblat manusia. 

"Berat banget cak jadi ujung tombak. Mending jadi penciptanya saja deh kalau ada pilihan," ujar Sokib garuk-garuk kepala. 

Karena kau belum pernah menjadi pencipta,  maka pikiranmu terkotak pada nikmat-siksa,  ringan-berat,  untung-rugi. Sawang Sinawang. 

"Kamu tahu Kib bagaimana perasaan para pencipta saat ciptaannya menuju ngilu sunyi? Mereka juga menyandang rasa itu. Bahkan dua,  tiga kali lipatnya dari produk yang mereka cipta, " kata Sukijan sambil memejamkan matanya. 

"Lha kelihatannya tidak seperti itu sekarang cak. Itu mereka yang mencipta senjata bernama teror,  korupsi,  berita bohong,  ujaran kebencian,  kok anteng dan senyum-senyum bangga dengan senjata yang diciptanya, " kejar Sokib. 

"Karena mereka bukan pencipta. Mereka juga alat. Sebuah ujung juga. Ujung yang tumpul. Ingatlah dalam suatu senjata apapun namanya,  ujung yang tumpul hanya melahirkan kebodohan besar. Kalau mereka tersenyum bangga,  itu senyum kebodohan yang mereka anggap kemenangan. Padahal kemenangan dalam sebuah peperangan,  bukan diakhiri dengan kibaran bendera dan pesta pora. Tapi air mata," urai Sukijan. 

"Jadi setiap yang bernama ujung kalau tumpul itu tanda kebodohan cak? ". 

Setiap ujung yang tumpul dan difungsikan untuk menjadi senjata dalam pertempuran  itu adalah ciri dari sebuah kebodohan. Terselip juga kekejian di sana. Ada sisi purba dalam ujung yang tumpul saat melukai sesama. 

"Tapi ujung tumpul yang difungsikan untuk menumbuhkan kebijakan,  kelestarian dan keseimbangan hidup lain lagi. Ia wajib tumpul sesuai fungsinya. Kalau runcing ya bisa berabe Kib," lanjut Sukijan. 

Sokib melonggo. Ceu Imas penjual kopi tubruk paling rupawan di desa Kopi Tubruk yang sedari tadi sibuk menyiapkan takjil buka puasa,  tersipu malu. Mendengar ada ujung yang tumpul dan menjadi alat kebaikan. 

"Namanya apa ujung yang tumpul itu cak? " tanya Sokib lagi. 

Tongkat. Baik yang hidup maupun yang mati. Kalau ujung yang runcing namanya Tombak. 

*Penikmat kopi lokal gratisan



TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top