Social Media

Share this page on:

Ketika Tuhan Menciptakan Alam Semesta Melalui Hitungan Sangat Teliti

27-05-2018 - 08:09
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Terus terang, saya mungkin satu dari sekian miliar manusia yang paling ndedel (bodoh, red) kalau sudah berhubungan dengan angka-angka atau hitung-hitungan.

iklan

Curiculum vitae saya terkait hal tersebut bisa ditelusuri dari angka-angka di rapor sekolah.

Dari SD sampai SMA. Untungnya saat saya singgah di Perguruan Tinggi dan dibebaskan untuk memilih fakultas, dengan cepat saya pilih yang tidak berhubungan dengan angka atau bilangan.

Saking ndedel-nya saya dengan angka, maka hidup saya sampai saat ini, yak begini-begini saja. Kaya enggak, miskin juga tidak.

Karena tidak termasuk dalam angka di berbagai institusi yang menerapkannya sebagai indikator warga miskin.

Saya, orang yang dijauhi angka. Orang yang menapikkan angka yang ternyata bukan untuk sekadar menghitung uang semata (banyak mata yang bisa didekati angka, ternyata). Atau rumus-rumus fisika maupun kimia dalam pelajaran di sekolahan.

Angka ternyata begitu menariknya orang-orang besar. Sejak zaman purba sampai modern saat ini. Mereka yang menguasai ilmu angka yang bertahan dan berjaya.

Semua kehidupan tidak bisa lepas dari angka. Bahkan mengenai penciptaan-penciptaan yang membuat dunia berwarna seperti saat ini.

Angka memberi kejayaan dan teka-teki kehidupan yang membuat orang-orang yang tidak seperti saya terus menggumulinya.

Seperti para pemikir masa lalu, Pythagoras, Plato, Cusanus, Kepler, Leibnitz, Newton, Euler, Gauss. Pun para revolusioner abad ke-20, Planck, Einstein dan Sommerffeld.

Mereka meyakini bahwa keberadaan angka dan bentuk geometris merupakan konsep alam semesta dan konsep yang bebas (independent).

Bahkan, Galileo sendiri beranggapan bahwa matematika adalah bahasa Tuhan ketika menulis alam semesta.

“Wih...ngeri Cak. Dari angka matematika sampai penciptaan alam semesta. Kagak nyaho gue,” ujar Sukro yang melanjutkan,”Tuh si Sokib aja yang dengarin tuh penjelasan lu cak,”.

Sokib yang keseharian memang sangat gandrung angka, walau hanya untuk kepentingan duniawi sesaat saja, menoleh.

“Kalau sudah urusan angka dengan penciptaan alam semesta, nyerah aku Cak. Tapi apa memang benar yak bahwa Tuhan mencipta alam semesta dengan hitungan matematika berupa angka-angka?,” tanyanya.

"Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasut-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Rabb-Nya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” (QS al-Jinn 72:28).

“Ngacu ayat Al-qur’an itu sudah jelaskan, Kib,” ucapku.

Dari surah Al-Jinn tersebut tersurat dan tersirat bahwa semua kejadian, objek alam, penciptaan di bumi dan langit, dan struktur al-Qur'an, tidak ada yang kebetulan. Semuanya ditetapkan dengan hitungan yang sangat teliti. 

“Angka-angka yang mencengangkan untuk otak kecil kita, Kib,” ujarku yang memberikan contoh yang dinukil dari karya tulis Peter Plichta, God’s Secret Formula mengenai hormon manusia.

Seperti ini,”Hitungan yang sangat teliti atau lebih rumit kita dapatkan pada hormon manusia. Misalnya, C18H24O2 adalah horman estrogen yang bertanggung jawab atas sifat-sifat kewanitaan. Berlebih hitungan satu atom karbon saja, ia menjadi C19H28O2 Hormon testosteron, yang bertanggung jawab atas sifat-sifat pria,”.

Banyak contoh lain mengenai perhitungan sangat teliti Tuhan dalam berbagai kejadian yang coba diungkap para ilmuwan. Sebut saja mengenai umur alam semesta yang menurut  NASA diperkirakan berumur antara 12-18 miliar tahun berdasarkan pengukuran seberapa cepat alam semesta ini ekspansi setelah terjadinya Big Bang. Atau dari hasil penelitian Mohamed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything dan Prof jean Claude Batelere dari College de France yang mengatakan bahwa umur alam semesta, berdasarkan penyelidikannya terhadap bintang-bintang tertua, adalah antara 17-20 miliar tahun. 

Coba kita cek dengan ayat dalam Al-quran mengenai perhitungan alam semesta di Surat al-Ma’arij (70:4) yang menyampaikan, "Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun".

Satu hari yang dilalui para malaikat untuk menghadap bukan waktu bumi, tapi waktu relatif disuatu tempat di langit. Yang kisarannya satu hari sama dengan 1.000 tahun waktu bumi. Kalau di konversikan waktu relatif alam semesta adalah sebagai berikut :

50.000 x 365,2422 = 18.262.110. Hasil tersebut dikalikan dengan 1.000 tahun di bumi, jadi 18.262.110 x 1000 = 18.262.211.000 tahun atau 18,26 miliar tahun. 

“Nah bandingkan dengan penelitian para ilmuwan di atas. Akan dihasilkan nilai yang hampir sama mengenai umur alam semesta,”.

Nah, karena mumpung bulan Ramadan, momen bagi kaum muslimin untuk meningkatkan derajat keimanannya, saya dengan ke-sok-an nya yang lain akan mengaitkan hukum Benford dengan keberadaan ayat Al-quran. Hukum Benford ini saya pakai untuk meyakinkan saya yang Islam-nya didapat dari warisan orang tua, terhadap ayat-ayat dalam al-Quran. Bukan dari proses pengembaraan otak yang panjang dan akhirnya membuat hati menjadi semakin teguh dalam keyakinannya.

Melalui hukum Benford, saya diyakini bahwa ayat Al-Quran benar-benar diturunkan oleh Tuhan dengan kodetifikasi bertingkat. Dalam hukum Benford yang ditemukan oleh Frank Benford, fisikawan dari General Electric, merumuskan pola angka setelah meneliti dan menganalisis 20.229 satuan angka dari mana saja mereka berasal; sungai, konstanta fisika, tingkat kematian, dan sebagainya.

Dengan hasil pola distribusi angka dimulai dari angka 1 sekitar 30,1%, 17,6% dimulai dengan angka 2, 12,5% dimulai angka 3, 9,7% dimulai angka 4. 7,9 % dimulai angka 5, 6,7% dimulai angka 6, 5,8% dimulai angka 7, 5,1 % dimulai dengan angka 8 dan 4,9 % dimulai angka 9. 

“Hubungannya dengan ayat alquran ?” tanya Sukro yang mulai mual mendengar detail kecil tentang angka tersebut.

Aplikasi Hukum Benford ini bisa diterapkan pada al-Qur'an dengan menemukan jumlah ayat tiap surat. Dari 114 surat yang berawal dengan digit 1, 2,3 sampai 9. Misalnya saja, surat kesatu adalah al-Fatihah, jumlah ayat adalah 7, dengan awalan digit 7. Sedangkan surat kedua, al-Baqarah jumlah ayatnya 286, diawali digit 2, dan seterusnya.

Artinya ada 30 surat dengan jumlah ayatnya dimulai dengan digit "1", ada 17 surat dengan jumlah ayatnya dimulai digit "2", dan seterusnya. Distribusi tiap digit akan sama dengan rasio distribusi Hukum Benford. 

“Artinya?” lanjut Sukro

“Ada struktur matematis yang bertingkat dalam alquran. Apabila ada penambahan, pengurangan, penyisipan satu digit saja, akan membuat ketidakseimbangan dalam struktur matematisnya. Artinya, perlu dipertanyakan keabsahan kitab tersebut. Al-quran terjaga dan benar-benar kitab suci dari Tuhan dengan berbagai pengujian ilmiah manusia,” ucapku.

*Penikmat kopi lokal gratisan

Sumber : berbagai sumber, khususnya buku Kodefikasi Bilangan Prima Dalam Al-Quran karangan Arifin Muftie 



TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top