Social Media

Share this page on:

13 SMP di Kabupaten Malang Buktikan Matematika Bukan Monster Menakutkan

27-05-2018 - 12:15
Ilustrasi, mata pelajaran matematika masih menjadi momok bagi siswa dalam UN. (Istimewa)
Ilustrasi, mata pelajaran matematika masih menjadi momok bagi siswa dalam UN. (Istimewa)

MALANGTIMES - Ujian Nasional (UN) bagi SMP tahun 2018 dinilai banyak kalangan mengalami penurunan kualitas dalam pencapaian nilai siswa. Baik tingkat nasional maupun di daerah. 

Matematika menjadi salah satu momok yang membuat para siswa ngedrop dalam UN 2018 ini.

iklan

Tingkat kesulitan soal matematika tersebut bahkan sampai ramai di  media sosial dan menjalar juga kepada para pemangku kepentingan dunia pendidikan. 

Tapi, di  Kabupaten Malang, matematika yang menjadi momok siswa SMP saat UN ternyata bisa dipatahkan.

Dengan hasil sempurna di sekitar 13 SMP yang ada,  nilai untuk mata pelajaran matematika yang mencapai angka 100 mendominasi mata pelajaran lainnya. 

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang yang menyampaikan, ada 31 siswa dari 13 SMP di Kabupaten Malang yang nilai matematikanya mendapat 100.

"Dari 13 sekolah tersebut, nilai sempurna didominasi matematika semua. Sedangkan mata pelajaran lain,  seperti Bahasa Indonesia hanya ada 4 siswa dan Inggris cuma satu orang, " kata M Hidayat Kadisdik Kabupaten Malang, Minggu (27/5/2018) kepada MalangTIMES. 

Pencapaian menaklukkan monster bernama matematika di tingkat SMP tersebut,  kata Dayat-sapaan Kadisdik- patut diapresiasi dan diberi ruang yang semakin lebar.

Dalam upaya menularkan berbagai strategi maupun metode pembelajaran matematika kepada sekolah lainnya yang ada diKabupaten Malang. 

"Kita punya sekitar 509 SMP dan MTS dan sekitar 36 ribu siswa yang tentunya butuh sentuhan dari sekolah yang mampu menunjukkan prestasi belajar dalam UN tersebut, " ujar Dayat yang juga memiliki harapan dari 31 siswa yang mendapat nilai 100 dalam matematika akan terus bertambah setiap tahunnya. 

"Jadi walau terbilang kecil secara jumlah yang mendapat angka sempurna di matematika, ini bisa jadi batu loncatan untuk tahun depannya. Kita juga sedang terus mengupayakan berbagai metode belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman," imbuh Dayat. 

Secara prosentase, apabila perbandingannya seluruh jumlah siswa di daerah,  memang moncernya para siswa dalam matematika angkanya kecil sekali.

Tapi,  seperti yang ditegaskan Dayat, sekecil apapun prestasi atau kemajuan dalam dunia pendidikan  patut diapresiasi dan nilai-nilai inovasi pembelajarannya dimassifkan. 

"Angkanya kecil tapi semangatnya yang patut ditingkatkan dan disebarkan. Apalagi tidak hanya di sini, penurunan nilai UN terjadi secara nasional di seluruh mata pelajaran. Terutama ya itu tadi di matematika," ucap Dayat. 

Di skala provinsi Jawa Timur (Jatim), terjadinya penurunan tersebut terlihat dari indikator banyaknya siswa yang mendapat nilai UN di bawah 55 dari total siswa 402.028 . Prosentasenya cukup mengejutkan,  yaitu 56,52 persen atau sekitar 170.172 siswa mendapat nilai di bawah 55.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan hasil UN tahun lalu (2016/2017). Siswa yang mendapat nilai di bawah 55 tahun 2016/2017 sekitar 55,4 persen. Di tahun 2015/2016 hanya sekitar 34,84 persen siswa yang mendapatkan nilai di bawah 55.

Artinya,  setiap tahun siswa mengalami penurunan dalam kualitas nilai. Dan penurunan nilai UN tersebut dipicu dengan soal-soal matematika yang membuat siswa takluk dan menyerah. 


Pewarta : Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha

Top