Social Media

Share this page on:

Kenalkan Pendidikan Pradasar di Dusun, Lima Mahasiswa UM Dirikan Sekolah Bhinneka

29-05-2018 - 14:11
Lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) ini dirikan Sekolah Bhinneka di Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, untuk meningkatkan kesadaran pendidikan pradasar. (Istimewa)
Lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) ini dirikan Sekolah Bhinneka di Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, untuk meningkatkan kesadaran pendidikan pradasar. (Istimewa)

MALANGTIMES - Pendidikan memang menjadi salah satu kebutuhan masyarakat. Namun sayangnya, masih banyak warga yang tidak berkesempatan menikmati pelajaran sekolah. Terutama untuk pendidikan pradasar yang selama ini dipandang tak begitu penting.

Bermula dari situlah, lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) ini mencetuskan sebuah ide untuk mengembangkan pendidikan pradasar di sebuah daerah terpencil di Kabupaten Malang. Tepatnya Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

iklan

Kelima mahasiswa itu adalah Riski Aulia, Cindy Desi FS, M. Khafid Febriyanto, M. Deny Adkha S., dan Siti Ma’rifah. Mereka menggagas sebuah program Sekolah Bhinneka sebagai upaya perbaikan kualitas pendidikan anak di desa tersebut. Untuk mewujudkannya, mereka memutuskan untuk turut serta dalam program Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Ketua Tim PKM Riski Aulia menyampaikan bahwa ide tersebut muncul lantaran masih banyak daerah di Malang Raya yang belum mengenal pendidikan pradasar. Padahal, pendidikan pradasar termasuk pendidikan yang penting untuk meningkatkan kemampuan anak-anak usia di bawah lima tahun.

"Jadi, kami melakukan observasi di Dusun Blendongan. Di sana sama sekali tidak ada pendidikan pradasar. Sementara jumlah anak usia tiga sampai enam tahun sekitar 30 anak," katanya kepada MalangTIMES, Selasa (29/5).

Mereka pun merasa tergerak untuk merealisasikan idenya karena Kota Malang sendiri juga sebagai kota pendidikan yang semestinya memiliki peran besar untuk mengembangkan daerah yang ada di sekitarnya, terutama Malang Raya.

Usai mendapat persetujuan dari program PKM, kelimanya mulai beraksi dengan mengaktifkan kembali bangunan bekas madrasah yang sudah lama tidak digunakan. Lokasinya pun cukup terjangkau dan dapat dimanfaatkan untuk pendidikan pradasar bagi anak-anak di Dusun Blendongan. 

Implementasi program Sekolah Bhinneka ini sendiri, menurut Riski, sudah berjalan sejak awal bulan Mei. Diawali dengan persiapan gotong-royong dengan warga untuk membersihkan bangunan bekas madrasah. Kemudian sosialisasi program tersebut dilakukan kepada para orang tua yang memiliki anak usia dini. "Sosialisasi waktu itu bertempat di rumah Pak Purnomo selaku kepala dusun Blendongan," tambahnya.

Usai melakukan sosialisasi, kelima mahasiswa ini melakukan pembelajaran hari pertama pada 5 Mei. Saat itu, antusiasme dari warga dan peserta didik sangat luar biasa. Pada hari pertama itu, kegiatan pembelajaran diawali dengan perkenalan-perkenalan dan anggota tim PKM sendiri yang menjadi pengajarnya. "Selanjutnya, pembelajaran dilakukan selama dua kali dalam seminggu, yakni hari Rabu dan Sabtu, yang dimulai pada pukul 08.30 WIB," jelasnya lagi.

Lebih jauh, salah satu anggota tim, Cindy Desi, menambahkan bahwa Sekolah Bhinneka merupakan nama unik program PKM pengabdian masyarakat yang berfokus pada perintisan sekolah yang diperuntukkan bagi anak usia dini. 

Sedangkan ciri khas Sekolah Bhinneka adalah kegiatan pembelajaran yang mengutamakan tema kebhinnekaan pada setiap proses pembelajarannya. Di antaranya menyanyikan lagu wajib nasional pada awal pembelajaran, mengenalkan warna bendera Indonesia, mengenalkan arti keberagaman secara sederhana seperti perbedaan warna kuli dan perbedaan jenis kelamin..

"Selain itu, mengenalkan sikap toleransi untuk tetap menjaga kebersamaan dengan tidak mengejek satu sama lain meski perbedaan itu ada di mana-mana," urai Cindy.

Sebelumnya, kepala dusun Blendongan menyambut positif dan merasa senang dengan ide yang direalisasikan oleh lima mahasiswa UM tersebut. Dia menilai kebutuhan akan sekolah pradasar memang sangat mendesak. Dia pun berharap program yang telah direalisasikan tersebut nantinya dapat menjadi perhatian lagi dari pemerintah. "Masyarakat di sini menginginkan adanya sebuah sekolah pradasar agar anak-anak tidak terlantar setiap paginya saat ditinggal merumput orang tuanya," paparnya. (*)

 


Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Top