Social Media

Share this page on:

Seru, Orang Jerman Berpidato dan Mendongeng Cerita Rakyat Indonesia

30-05-2018 - 19:15
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Jerman di Berlin Dr Ahmad Saufi berfoto bersama dengan pemenang lomba pidato dan bercerita rakyat Indonesia tahun 2018. (foto: Iwa Sobara for MalangTIMES)
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Jerman di Berlin Dr Ahmad Saufi berfoto bersama dengan pemenang lomba pidato dan bercerita rakyat Indonesia tahun 2018. (foto: Iwa Sobara for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Rumah Budaya Indonesia di Theodor-Franke-Strasse 11, Berlin, Jerman, dipenuhi masyarakat Indonesia dan Jerman untuk menghadiri acara lomba pidato dan bercerita rakyat Indonesia. Menariknya, semua peserta yang mengikuti kedua lomba tersebut adalah orang Jerman dan orang asing yang tinggal di Jerman.

Rumah Budaya Indonesia di Berlin atau Haus der indonesischen Kulturen Berlin yang dibuka kembali pada 29 Oktober 2017 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman saat itu, yaitu Dr Ing Fauzi Bowo, belakangan kembali sering menggelar acara berbau Indonesia.

iklan

Rumah Budaya Indonesia di Berlin ini diresmikan pertama pada 26 Mei 2012 oleh Menteri Pendidkan dan Kebudayaan RI  Prof Dr Ir H Mohammad Nuh DEA. 

Acara “Lomba Pidato dan Bercerita Rakyat 2018” diawali dengan tampilan dari kelompok gamelan “Lindhu Raras”. Kelompok ini merupakan kelompok gamelan Jawa yang sebagian besar pemainnya adalah warga negara asing. Tema lomba pidato tahun 2018 ini adalah "Persatuan dalam Keberagaman“. Sementara itu, tema bercerita adalah "Cerita Rakyat Indonesia“.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Berlin Dr Ahmad Saufi saat memberikan sambutan mengungkapkan bahwa negara Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke di 17.000 pulau. Keberagaman yang begitu besar tersebut sudah merupakan suratan takdir dari Tuhan. Namun, Indonesia mengikatnya dalam persatuan.    

Pada final lomba pidato, enam peserta yang semuanya masih menyandang status mahasiswa tampil dengan begitu meyakinkan. Bahasa Indonesia mereka sudah terdengar seperti bukan penutur asing, meski sesekali aksen mereka masih muncul. Sama halnya dengan lomba pidato, empat orang finalis lomba bercerita juga masih duduk di bangku perguruan tinggi. 

Dari total sepuluh finalis tersebut, enam orang sedang menempuh studi di perguruan tinggi HTWG Konstanz pada jurusan studi terapan bahasa-bahasa ekonomi se-dunia, satu orang dari Universitas Leipzig di jurusan ilmu tentang Islam, dan tiga peserta lainnya dari Universitas Hamburg yang kini tengah mendalami ilmu bahasa dan budaya Asia Tenggara.

Lomba pidato dan cerita rakyat merupakan program rutin tahunan KBRI di berbagai negara di dunia. Kegiatan ini digelar untuk pertama pada tahun 2012. Untuk KBRI Berlin sendiri, lomba pada tahun ini telah memasuki tahun yang kedua. 

Tujuan diadakannya lomba ini tiada lain memberikan motivasi kepada warga negara asing untuk belajar bahasa Indonesia serta menjadi wadah untuk meningkatkan kompetensi penutur asing berbahasa Indonesia, baik secara lisan ataupun tulisan. Lomba ini juga memberikan kesempatan emas bagi pelajar asing untuk menyalurkan bakatnya dalam berpidato dan bercerita. 

Adalah Leon (22) dari Universitas Hamburg yang menjadi pemenang lomba pidato pada tahun 2018 ini. Ia saat ini sedang mengambil jurusan bachelor on East Asia and South East Asia dengan fokus bahasa Indonesia. Isi pidatonya tentang kebersamaan komunitas Indonesia di dalam dan di luar negeri.

Leon sebetulnya baru belajar bahasa Indonesia sejak enam bulan yang lalu. Meski demikian, penggunaan bahasa Indonesia dan pelafalannya hampir sempurna. Leon pernah melakukan magang di Kalimantan Barat selama 2,5 bulan. 

Pengalaman menariknya ketika ia berada di Kalimantan Barat saat melakukan magang menjadi bagian dari materi pidatonya. Ia terkagum-kagum dengan kehidupan tiga komunitas besar di sana yang hidup berdampingan dengan damai. Tiga suku tersebut yaitu masyarakat Suku Dayak, Melayu, dan Tionghoa.

Tidak hanya itu. Leon juga mengangkat sila ketiga Persatuan Indonesia dengan contoh kehidupan sehari-hari yang sering dijumpainya. Persatuan tersebut dapat ia amati pada komunitas Indonesia di luar negeri seperti di kota Hamburg, Jerman. Mereka sering mengadakan pertemuan dengan sesama orang Indonesia.

Mereka memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman. Tradisi arisan dan gotong royong orang Indonesia yang tidak dimiliki oleh komunitas lainnya sangat membuatnya terkesan. Oleh karena itu, tiga juri lomba sepakat memutuskan bahwa Leon pemenang lomba pidato kali ini. 

Adapun pemenang lomba bercerita rakyat tahun 2018 ini adalah Samantha Grace (23). Mahasiswi dari HTWG Konstanz yang sedang menempuh jurusan bahasa perekonomian Asia dan manajemen hari itu mengenakan pakaian batik. Menurut dia, melodi bahasa Indonesia sangatlah menawan. Itu alasan mengapa ia mendalami bahasa Indonesia. 

Dongeng “Timun Emas” yang dikisahkannya membawa dia sebagai pemenang lomba. Ia berkisah dengan sangat menarik. Semua penonton terhanyut dalam cerita yang dituturkannya. Ia bercerita seperti halnya penutur asli bahasa Indonesia. Alat bantu yang dipakai saat mendongeng menambah serunya dongeng yang dia ceritakan. 

Sebagai hadiah, keduanya berhak untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, pada tanggal 17 Agustus mendatang. Selain itu, mereka berkesempatan berkunjung ke situs-situs bersejarah di Indonesia. (*)


Pewarta : Iwa Sobara
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan

Top