Social Media

Share this page on:

Terobosan Pendidikan di Tangan Hidayat

03-06-2018 - 11:31
 Kadisdik Kabupaten Malang M. Hidayat (kiri) dan Bupati Malang Dr H Rendra Kresna dalam suatu acara pendidikan. (dok Nana)
Kadisdik Kabupaten Malang M. Hidayat (kiri) dan Bupati Malang Dr H Rendra Kresna dalam suatu acara pendidikan. (dok Nana)

MALANGTIMES - Dunia pendidikan di Kabupaten Malang di bawah kendali Dinas Pendidikan (Disdik) beberapa tahun lalu  bisa dikatakan suram. Pencapaian kualitas pendidikan dasar maupun menengah terbenam di zona dasar atau bawah dalam peringkat di Jawa Timur (Jatim). 

Kondisi tersebut yang membuat M. Hidayat selaku kepala Disdik Kabupaten Malang mencoba mengurai benang kusut persoalan jebloknya kualitas pendidikan yang berada di bawah naungannya.  

iklan

Dari hasil identifikasi serta komitmen awal Dayat,  sapaan kadisdik Kabupaten Malang ini,  yaitu meningkatkan kualitas pendidikan,  ditemukan beberapa persoalan dasar yang selama ini seperti macet. Efeknya adalah terdegragasinya kualitas pendidikan di Kabupaten Malang selama ini di skala Jatim. 

Identifikasi pertama yang ditemukan oleh Dayat dan telah dilakukan beberapa pembenahan adalah mengenai penataan aset internal pendidikan. Aset pendidikan tersebut berupa tanah dan bangunan sejumlah 1.207 unit.  

"Penataan aset pendidikan menjadi penting. Hal ini sebagai upaya tertib hukum dalam kaitannya dengan sisi kepemilikan aset. Dari 1.207 unit,  sudah 185 yang kini bersertifikat, " kata Dayat, Minggu (3/6/2018). 

Dayat melanjutkan, sekitar 991 aset yang tidak bersertifikat sudah ditemukan suratnya,  walaupun berbentuk leter C. "Sebanyak 41 aset yang menjadi temuan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan,  red) karena luasnya nol juga sudah kami validasi," ujarnya kepada MalangTIMES. 

Mengenai peningkatan aset yang belum tersertifikasi, Dayat mengatakan akan melihat terlebih dahulu kemampuan anggaran daerah untuk proses sertifikasi tersebut. 

Komitmen kedua adalah menyelaraskan program strategis Kabupaten Malang dalam bidang lingkungan hidup di dunia pendidikan. Target untuk komitmen Dayat tersebut adalah dengan terwujudnya semua sekolah dasar sebagai sekolah Adiwiyata.  

Aset pendidikan yang telah terlegalisasi diproyeksikan menjadi sekolah ramah lingkungan. "Dua komitmen ini diharapkan membuat sekolahan menjadi ruang belajar mengajar yang kondusif dan membuat betah. Hal ini juga membuat antusias seluruh pelaku pendidikan yang ada untuk mewujudkannya," ujar Dayat. 

Untuk komitmen ketiga,  Dayat mulai membenahi sumber daya manusia yang ada di dunia pendidikan. Baik keberadaan pengawas, Kepala SD dan SMP, guru sampai pada tataran aplikatif dalam penambahan media belajar mengajar kekinian. 

Beberapa langkah yang  telah diambil oleh Disdik Kabupaten Malang dalam tahap tersebut adalah dengan melakukan berbagai evaluasi serta pembinaan secara berjenjang dan kontinyu kepada seluruh pemangku kepentingan dunia pendidikan. Pun dalam mengaktifkan kembali musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) di SMP dan kelompok kerja guru (KKG) SD yang selama ini terbilang berjalan tidak maksimal. 

Proses aktivasi tersebut sebagai upaya memenuhi standarisasi pelayanan pendidikan dasar yang kualitasnya terbilang jeblok di tingkat Jatim. "Selain tentunya musyawarah guru tersebut untuk memecahkan berbagai persoalan yang ada dalam dunia pendidikan di Kabupaten Malang serta mencari solusinya secara bersama-sama. Karena permasalahan pendidikan adalah tanggungjawab kita semua," ucap Dayat yang setiap hari Sabtu secara kontinyu melakukan pembinaan kepada semua guru yang ada di Kabupaten Malang. 

Berbagai pelatihan menuju profesionalitas guru pun terus digeber dengan pembiayaan anggaran daerah."Hasilnya,  tahun ini ada kemajuan cukup signifikan dengan naiknya peringkat SMP di skala Jatim. Peningkatannya juga cukup memuaskan,"ujar mantan jurnalis tersebut. 

Upaya rutin lainnya adalah mendorong seluruh guru untuk membiasakan diri membuat media pembelajaran yang menarik dan disesuaikan dengan generasi pelajar saat ini. Hal ini agar proses belajar mengajar tidak terpaku pada sistem atau metode konvensional berupa ceramah atau dialog satu arah saja. 

"Metode ini sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Karena membuat siswa pasif. Karenanya kita terus dorong guru untuk terus kreatif dan inovatif dalam membuat media pembelajaran," tegas Dayat yang kerap mengingatkan seluruh guru untuk juga membiasakan diri membuat silabus, program tahunan,  rencana pelaksanaan pembelajaran serta jurnal kegiatan harian. 

"Semua ini sebagai indikator guru profesional. Sehingga pembelajaran pun bisa di evaluasi secara tepat dengan adanya metode tersebut," ujarnya. 

Di tingkat Disdik sendiri,  upaya pembenahan dan peningkatan pendidikan,  terus ditingkatkan. Melalui berbagai program pendidikan berbasis IT untuk mempercepat dan mempermudah berbagai kepentingan administrasi guru dan Kepala Sekolah. Seperti aplikasi sistem pelaporan BOS dan lain sebagainya. 

Sedangkan untuk kepentingan siswa, Disdik Kabupaten Malang sedang terus mengupayakan penyempurnaan program SINAU. Program tersebut merupakan aplikasi bimbingan belajar berbasis online yang nantinya bisa dipergunakan oleh seluruh siswa di Kabupaten Malang. (*)


Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : sandi permana soebagio

Top