Social Media

Share this page on:

Sepenggal Sejarah Kuliner Indonesia, Perjalanan Panjang Memanjakan Lidah Masyarakat

03-06-2018 - 15:29
Keluarga C.H. Japing bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman dalam sebuah acara Rijsttafel, Mei 1936 (KITLV.nl)
Keluarga C.H. Japing bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman dalam sebuah acara Rijsttafel, Mei 1936 (KITLV.nl)

MALANGTIMES - Sejarah kuliner Indonesia memang menjadi sebuah bahasan empuk yang banyak menarik perhatian. Bukan hanya karena berkaitan dengan lidah, kuliner dalam perkembangannya tak lepas dari proses politik, ekononi, dan budaya.

Dalam dokumen sejarah, budaya kuliner di Indonesia tak lepas dari pengaruh budaya asing. Mulai dari India, China, hingga Eropa yang sampai saat ini bahkan masih berkembang dalam kebiasaan masyarakat. 

iklan

Sebut saja kebiasaan makan di atas meja menggunakan sendok dan garpu yang disebut mendapat pengaruh budaya Eropa. Begitu juga dengan kebiasaan mengonsumsi kentang, roti, dan steak yang mendapat pengaruh besar dari bangsa Barat.

Setiap daerah di Indonesia sudah pasti memiliki cita rasa yang berbeda dengan hidangan kulinernya. Namun hebatnya, masing-masing daerah dapat mempertahankan budaya adiluhung, bahkan mampu memengaruhi bangsa lain.

Salah satu budaya kuliner yang banyak disinggung dalam sejarah kuliner di abad 19 M adalah rijsttafel. Istilah ini digunakan sekitar tahun 1870, yang mencerminkan perpaduan antara Belanda dan Jawa dalam bidang kuliner.

Fadly Rahman dalam bukunya Rijsttafel; Budaya Kuliner di Indonesia Masa 1870-1942 menyebut jika isitilah rijsttafel ini muncul karena kebiasaan memakan nasi dari generasi dan keturunan Belanda yang tinggal di Jawa. Rijst sendiri berarti nasi. Sedangkan tafel, selain bermakna meja, juga diartikan sebagai hidangan.

Di masa itu, nasi merupakan salah satu hidangan pokok masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya. Namun dalam budaya rijsttafel ini, para keturunan Belanda menambahkan sentuhan mewah.

Jika orang Jawa makan menggunakan tangan dan cukup hanya duduk di lantai, maka tidak dengan orang Belanda yang memilih menghidangkan sederet olahan perpaduan Jawa dan Belanda di atas meja makan lengkap dengan table manner.

Meminjam istilah Auguste de Wit, Fadly menyebut jika kebiasaan mengadaptasi diri terhadap pola makam masyarakat bumiputera itu tak hanya sebatas menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada akibat perbedaan persediaan bahan makanan di Eropa dan Indonesia saat itu. Namun kebiasaan yang mulanya identik dengan bumiputera itu malah dijadikan wujud status sosial. "Itu seperti yang dikatakan Auguste de Wit terkait rijssttafel," tulis Fadly.

Sebagian besar keluarga Belanda yang tinggal bersama nyai (perempuan asli Indonesia) ataupun membawa serta istrinya memilih menikmati hidangan nasi sebanyak tiga kali sehari. Namun ada beberapa juga golongan yang memakan hidangan nasi hanya satu kali sehari, tepatnya saat jam makan siang.

Keluarga kaya Eropa yang memakan hidangan nasi sekali sehari biasanya menyertakan beragam hidangan. Seperti nasi dengan tambahan kuah-kuahan, sayuran, daging ayam, daging sapi, daging babi, ikan laut, udang, telur, dan sambal. 

Sedangkan keluarga Eropa yang memakan nasi tiga kali dalam sehari selalu menyertakan nasi dengan ikan bakar dan sayur lodeh. Kebiasaan itu hampir sama dengan yang dilakukan oleh bumiputera.

Sementara itu, sejarawan Onghokham berspekulasi jika kebiasaan dan kemewahan yang dihidangkan dalam rijsttafel bisa jadi terpengaruh dari kebiasaan makan di keraton-keraton Jawa pada masa lalu. 

Dia menyebut, Duta VOC Rijklofs vansGoens yang berkunjung ke Keraton Mataram pada 1656 merasa heran saat melihat hidangan yang disajikan. Meliputi daging, ayam, ikan, hingga sayuran yang diolah mulai dari dibakar, digoreng, dan dikukus.

Anggapan Onghokham tersebut didasarkan pada melimpahnya hidangan dalam penyajian serta besarnya penggunaan tenga pelayan yang setia mengabdi kepada keluarga raja. Kemungkinan tersebut besar terjadi karena proses imitasi budaya sangat potensial terjadi di tengah kehidupan masyarakat.

Sampai saat ini, budaya rijsttafel ini sendiri masih dapat ditemui di Indonesia ataupun di Belanda. Beberapa rumah makan mewah menyediakan fasilitas supermewah dari hidangan warisan bidaya Belanda-Jawa itu. Di Kota Malang, rijsstafel salah satunya masih dihidangkan dan bisa ditemui di Hotel Tugu Malang. (*)


Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Top