Social Media

Share this page on:

Tim Pengendali Inflasi Sebut Kebijakan Pemkot Malang Terbatas

05-06-2018 - 08:00
Ilustrasi pesawat yang tengah mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Ilustrasi pesawat yang tengah mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Inflasi Kota Malang mengalami kenaikan hingga dua kali lipat di angka 0,29 persen pada Mei 2018. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang menyebut ada sebagian faktor pemicu inflasi yang terpengaruh perekonomian nasional maupun internasional. Sehingga, kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang pun terbatas pada sektor-sektor tertentu.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua komoditas penyumbang inflasi terbesar di Kota Malang adalah transportasi udara atau tiket pesawat dan bahan bakar rumah tangga utamanya elpiji 3 kilogram. Selain dua itu, ditambah beberapa komoditas bahan pangan seperti harga telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah, apel, tahu mentah, sepeda motor, dan anggur. Kenaikan harga juga terjadi pada sepeda motor dan emas perhiasan.

iklan

Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang Dudi Herawadi mengungkapkan bahwa pihaknya tidak bisa secara langsung turun melakukan intervensi terhadap dua komoditas penyumbang inflasi itu. "Kalau tiket angkutan udara, karena menghadapi Ramadan. Juga Sabtu Minggu ada kenaikan permintaan. Kami mohon dimaklumi karena perengahan bulan lalu rupiah juga sedikit terganggu," urainya saat ditemui usai paparan data inflasi di kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang.

Terlebih, lanjut Dudi, tiket pesawat memang sangat terpengaruh dengan kurs mata uang internasional. "Penghitungan harga tiket angkutan udara itu biasanya didasarkan tarif tengah kurs rupiah. Mau tidak mau, kalau rupiah terganggu, batas atas dan batas bawah harnyanya juga terpengaruh," paparnya.

Selain itu, harga tiket masih tinggi. "Kalau keluar Malang bulan-bulan ini, (tiket) sedang murah. Tapi yang masuk ke sini, masih mahal. Apalagi nanti saat mudik, rata-rata orang datang dan pesawat ke sini penuh," ujarnya. 

Pada momen Lebaran nanti, diprediksi akan ada kenaikan trafik lalu lintas udara di Malang. Dudi berharap hal tersebut tidak akan kembali memengaruhi inflasi.

Sedangkan terkait elpiji, TPID sudah berkoordinasi dengan Pertamina bahwa tidak ada pengurangan pasokan. Justru ada penambahan selama Ramadan. Hanya, ada kebijakan penggunaan elpiji 3 kilogram bersubsidi yang lebih diperketat. "Elpiji bulan lalu memang ada keluhan kekurangan kuota. Salah satunya karena penggunaan tidak sesuai peruntukan. Seperti buat restoran, ternak ayam dan lain-lain," terangnya.

Pemerintah daerah, dalam hal ini Pemkot Malang, lanjut Dudi, hanya dapat melakukan pengendalian terhadap harga-harga komoditas pangan. Misalnya menggelar pasar sembako murah bagi masyarakat maupun operasi pasar untuk menekan kenaikan harga. "Kami akan fokus di sana, yakni yang bisa diintervensi daerah akan ditekan sehingga inflasi tidak semakin besar," pungkas dia. (*)


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Top