Social Media

Share this page on:

Habiskan Nakalmu sebelum Usia Tua Menghampirimu

16-06-2018 - 07:00
Ilustrasi doang (Ist)
Ilustrasi doang (Ist)

* dd nana

Entah kenapa, ujaran tersebut begitu melekat dalam kepala saya. Padahal seingat saya, ujaran yang entah masuk dalam klasifikasi apa ini (pepatah, nasihat, motivasi atau mungkin omong kosong) bisa terbilang sangat lama saya dengar. 

iklan

“Nak, kalau mau jadi orang itu, maka habiskan dulu kenakalanmu sebelum kau masuk pada usia dewasa. Jangan sampai nakalmu telat. Bisa kualat dan beresiko tinggi. Ibaratnya kanker, jangan sampai masuk pada stadium paling gawat,” begitulah kata-kata itu mengiang dalam kepala saya sampai saat ini.

Terus terang, dulu, saat entah siapa yang menyampaikan hal tersebut kepada saya, sumpah saya lupa. Yang pasti bukan kedua orang tua saya, karena mereka mengetahui saya adalah anaknya yang paling tidak neko-neko (dalam konteks masa dulu). Habis sekolah, pulang ke rumah dan berkutat sampai sore hari dengan berbagai buku komik karangan para komikus terkenal Indonesia, seperti Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Ganes TH, Hasmi, RA Kosasih, Wid NS, Dwi Koendoro. Atau cersilnya Wiro Sableng Bastian Tito (yang entah kenapa setiap kali di-film-kan membuat saya bingung. Kok malah seru baca bukunya yak dibanding filmnya. Semoga film Wiro Sableng yang diperankan sang anak dari pencipta pendekar 212 ini bisa menghapus image masa lalu saya).

Jadi saya ini tipikal seorang anak yang waktu usia sekolahan sampai SMP, tidak neko-neko atau nakal di mata kedua orang tua saya. Paling kenakalan saya saat itu, yak tetap berkutat diseputar hobi membaca. Mulai berani tapi sembunyi-sembunyi membaca buku stensilannya Enny Arrow atau membaca buku karangannya Pramoedya Ananta Toer yang pernah menjadi buku terlarang itu.

Nah, kembali pada topik di atas, saya kerap menganggukan kepala dengan ujaran tersebut. Dan membayangkan para koruptor yang tentunya berusia di atas 30 tahun adalah bukti nyata bahwa mereka saat kecilnya tidak pernah nakal. Diusia yang sudah dewasa mereka baru nakal. Tentunya kenakalannya disesuaikan dengan usia mereka. Bukan kenakalan anak-anak, misalnya ngupil dengan asyiknya, lantas upil yang menempel di jari telunjuk di “ting-kan” kearah temannya. Atau memelorotkan celana temannya, baik yang laki-laki maupun perempuan, untuk bahan candaan.

Kenakalan yang terlambat dari para koruptor itu levelnya disesuaikan dengan usia dan jabatan. Main bersih, tidak lewat upil yang dilemparkan serupa spiderman. Kalaupun masih meniru kenakalan masa kecil, memerosotkan celana, celana yang dipilih tentunya yang bersih. Dimana isi di dalam celana itu bikin nafas ngos-ngosan. Sang pemilik celana yang dijaili juga tidak teriak dan menangis, tapi malah ikut memerosotkan celana yang memerosotkan celananya.

“hahaha..lo itu kalau kasih contoh absurd. Kayak Albert Camus saja lo…” kata Songaji.

Nah, para pembaca yang masih berkenan membaca tulisan tak ilmiah ini, karena ujaran itu setelah saya jadi anak yang tidak neko-neko di rumah. Padahal diluar rumah, tentunya, setelah saya masuk bangku SMA (bisa anda bayangkan bagaimana cara saya masuk bangku? Abaikan brow…) saya kata teman sebaya termasuk golongannya yang nakal. Mulai mencoba alcohol, ngisap ganja yang dulu tidak dilarang Negara, kelahi tapi rombongan, pacaran juga brow walau hanya untuk meresapi para tokoh si Enny Arrow yang pernah saya baca. Pokoknya di zaman itu saya kalau diluar rumah tergolong nakal deh.

Nakal yang disesuaikan dengan usia tentunya, seperti ujaran dalam judul tulisan tidak ilmiah ini. Sampai suatu ketika menjadi dewasa (walau konotasi dewasa sampai saat ini masih patokannya umur). Saya stuck. Rasa bosan menyergap saya atas kenakalan-kenakalan tersebut. Sampai-sampai saya bingung sendiri, diajak ngombe malas, paling-paling rasa dan efeknya begitu-begitu saja. Diajak kelahi, males minta ampun, bahkan untuk pacaran pun saya sampai merasa bosan banget. Lah, ternyata berhubungan dengan lawan jenis dalam konteks pacaran, rasanya seperti itu-itu saja. Jenuh.

Kata si pemberi ujaran awal, yang entah kenapa mewujud pada sosok perempuan, tidak cantik-cantik banget kayak Via Vallen apalagi artis porno yang kok bisa bentuk tubuhnya bisa serupa buah mangga yang padat banget. “Wayahe insyaf bang. Belajar menjadi orang,” ujarnya kepadaku sambil mengelus-elus rambutku yang dulu masih gondrong.

Perempuan itu kembali berkata,”Jangan sampai usia udah segitu, tapi nakalnya diteruskan. Atau baru mau ancang-ancang nakal. Belajar jadi orang yak bang,”.

Nah, dengan pengalaman tersebut saya meyakini ujaran awal dan kata-kata perempuan yang begitu senangnya kalau elus-elus rambut saya saat saya rebahan di pahanya itu.

“Tapi kalau ujaran itu tetap lo pake dan ajarkan pada orang, bahaya. La sekarang anak-anak nakalnya sudah mirip nakal orang-orang dewasa. Lo nyaho sendiri kan,” ujar Songaji.

Saya berpikir. Betul juga sih kata si Songaji. Kenakalan zaman saat ini kayaknya tidak ada habisnya. Dengan maha guru internet yang sangat mudah diakses siapapun, berbagai cara dan teknik kenakalan bisa dipelajari. Agar tidak menimbulkan rasa bosan seperti yang saya alami tempo dulu. Contoh saja gaya pacaran anak-anak sekarang sudah plek banget bahkan melampaui para tokoh dalam buku enny Arrow. Guru mereka adalah video porno yang menyuguhkan berbagai teknik bersenggama dan dilebaykan dengan gaya sinetron dalam pemakaian bahasanya. “Papah sayang buka puasa pake apa. Ni mama hanya puasa sampe bedug dhuhur saja. Papah yang kuat ya puasanya, mama sayang dan cinta sama papa. Forever and full deh. Muaachh..” itu percakapan anak-anak SD yang sudah pacaran. Dulu, saya saat jatuh cinta monyet, bertemu saja dengan yang diincar, jantung bisa berdentum lebih keras dari suara soundsystem dangdut.

Nah, para pembaca yang sampai alinea ini masih setia membaca (sumpah saya akan terharu banget kalau njenengan masih kuat membaca  tulisan ini) dengan kondisi tersebut, saya kok masih tetap mempercayai ujaran di judul. Tapi dengan sedikit modifikasi kalimat. Jadi seperti ini, “Habiskan nakalmu sebelum kau ingin menjadi orang. Apalagi orang besar dan dikenal. Karena segala yang setengah-setengah tidak akan membuatmu menjadi orang besar nan terkenal. Sejarah telah mencatatnya. Kalau kau memilih bersetia dengan kenakalan, maka istiqomahlah sampai akhir hayatmu. Menjadi orang nakal. Maka kau akan dikenal orang. Kalau kau sudah bosan dengan nakalmu yang stoknya dirasa telah habis kau reguk, maka istiqomah juga dengan memilih jalan nir-nakal-mu,”.

*Penikmat kopi lokal gratisan



TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top