Social Media

Share this page on:

Menyiasati Kemiskinan Dengan Tawa

18-06-2018 - 03:00
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Bagi Gus Mas,  kemiskinan harta benda bukanlah sesuatu yang menakutkan. Apalagi sampai harus melakukan atraksi demo dan gugatan. Baik pada pemerintahan maupun kepada pemilik segala kekayaan di seluruh alam dan isinya ini. 

iklan

Kemiskinan pun bagi Gus Mas, bukanlah suatu produk atau komoditi yang wajib diperjualbelikan. Ada cerita tentang hal ini,  dimana warga Kopi Tubruk, seumur-umur baru mengetahui orang seperti Gus Mas bisa juga marah besar. 

Di suatu waktu, desa yang hidup dan menghidupi si biji hitam ini,  kedatangan para pembesar pemerintahan. Tentunya dalam rangka menyampaikan berbagai keberhasilan pembangunan yang dilakukannya sebagai pejabat.

Desa Kopi Tubruk pun berhias diri,  tidak seperti biasanya dikarenakan instruksi dari para pejabat wilayahnya yang akan didatangi para pejabat dengan pangkat yang lebih tinggi. 

Suwigyo Kepala Desa (Kades) Kopi Tubruk pening tujuh keliling. Karena dia akhirnya harus mengeluarkan ultimatum gotong royong kepada seluruh warganya untuk berpartisipasi.

Urunan duit untuk berbagai persiapan. Saat itulah Gus Mas menyampaikan sesuatu kepada Suwigyo. 

"Kenapa sampean kok bingung pak kades. Biarlah kita terlihat apa adanya. Menyambut tamu itu memang berkah bagi kita,  tapi jangan sampai membuat uang warga yang harusnya untuk keperluan beli beras atau bayar SPP sekolah anaknya terpangkas gara-gara mereka datang," ucapnya. 

Belum selesai,  Gus Mas menyambung kalimat,  "kenapa kita malu dengan kekurangan kita di mata mereka. Sehingga harus menutupinya. Kalau itu hanya untuk riasan sesaat. Kemiskinan bukan sesuatu aib, tapi tantangan untuk kita semua," ujarnya. 

Suwigyo tambah pening kepalanya mendengar omongan Gus Mas. Karena dalam hirarki pekerjaannya,  sesuatu di mata juragannya yang tidak elok adalah bentuk ketidakberhasilan dirinya memimpin warga. 

Singkat cerita, akhirnya para pejabat tinggi pun datang. Tentunya dengan sambutan meriah di wajah para warga yang entah sejak kapan selalu mahir memerankan peran orang-orang bahagia,  walau pun hanya dalam hitungan jam saja. Setelah sambutan si A, B, C (bukan merk batre) dan janji adanya berbagai bantuan kepada warga, Gus Mas  dipanggil secara khusus salah satu pejabat tersebut. Bisik punya bisik,  Suwigyo menceritakan omongannya dengan Gus Mas. 

Kata si pejabat, "Gus,  saya faham dengan cara jenengan melihat kondisi. Tapi tentunya jenengan tidak ikhlas toh kalau desanya dicap desa miskin. Kemiskinan mendekatkan kepada kekufuran,  gus tau itu,". 

Si pejabat belum selesai ngomong,  melanjutkan lagi,  "Tapi tentunya kita juga tidak bisa begitu saja mengeyahkan kemiskinan di desa ini. Karena kalau semua desa sudah tidak miskin,  bagaimana kita bisa membangun. Padahal gus tau juga kan,  negara penyumbang dan pengutang dana masih memakai alat kemiskinan untuk membantu kita,". 

"Jadi untuk beberapa jam desa kami dianggap maju. Setelahnya bapak jual untuk dapat dana atau hutangan ke negara lain,  begitukah?" kata Gus Mas. 

Si pejabat mengangguk,  mantap. Dan sandal Gus Mas pun melayang. Untungnya si pejabat ini mungkin mantan pesilat. Sehingga mampu mengelak dari sawatan sandal Gus Mas bermerk swallow itu. Ramailah seketika. Gus Mas ditarik warga untuk menjauh,  si pejabat langsung dilindungi pengawalnya. 

Wajah Gus Mas yang teduh biasanya,  terlihat begitu merah padam. Amarahnya meluap,  kemanusiannya terlihat. Baginya,  omongan yang dikeluarkan harus sesuai dengan tindakan. Si pejabat dalam sambutannya menyatakan dengan jelas,  kemakmuran dan keberhasilan pembangunan tanpa adanya campuran hutang atau intervensi negara lain. Masyarakat diwajibkan mandiri dengan dua kaki menginjak bumi. Kerja,  kerja dan kerja. Kemiskinan akan diberantas dengan ajaran Pancasila. Dari sila pertama sampai kelima. Tapi,  si pejabat malah membungkusnya dan tidak sesuai dengan apa yang disampaikannya. Masyarakat suruh kerja,  dirinya asyik berhitung angka kemiskinan untuk angka dengan nol yang berderet. 

Kemiskinan bukan untuk diselesaikan, tapi dijadikan komoditi. Ada upaya memelihara angka kemiskinan yang disesuaikan dengan standar negara lain untuk mendapatkan bantuan. Gus Mas marah besar. Dirinya beserta warga Kopi Tubruk hanya diposisikan sebagai angka dalam kertas. Dimiskinkan tapi saat mereka berbicara tidak ada yang miskin di wilayah kerja mereka. Bagi Gus Mas itu adalah pelecahan harkat dan martabak kemanusiannya. 

Memperdagangkan manusia untuk duit,  sama buruknya dengan perbudakan manusia. Para kekasih Allah juga berjuang melawan hal tersebut selain mengajarkan bagaimana menikmati kemiskinan dengan tawakal dan terus berjuang agar tidak terjebak dalam lubang kekufuran. 

"Lantas bagaimana kita harus menyikapi kemiskinan Gus?" kata Sukro yang hidupnya kembang kempis. 

"Contoh cerita Abu Nawas Kro," jawab Gus Mas. 

Konon,  dalam sebuah cerita Abu Nawas, pada suatu hari datang seorang  tamu yang merupakan kawan lamanya,  ke rumahnya. Seperti layaknya seorang tuan rumah,  Abu Nawas mempersilahkan sohib lamanya tersebut duduk di teras rumahnya yang berbentuk panggung itu. 

Saat mereka asyik bercerita,  datanglah sang angin yang cukup kencang dan membuat teras rumah Abu Nawas bergoyang dan berbunyi. Kreat,  kreot,  kreat,  kreot.  Begitulah bunyinya. 

Si sohib lama Abu Nawas pun bicara. "Wah rupanya  teras ente ini sudah tua dan reyot juga yak,  kayak orangnya,". 

Abu Nawas yang memang miskin,  karena dirinya sedang mengabdi kepada kekurangan dunia dan membuktikan ujaran kemiskinan mendekatkan pada kekufuran. Dengan santainya menjawab si sohib lamanya. 

"Ooo, jangan salah sangka ente, teras ana ini berbunyi karena sedang bertasbih. Mengagungkan Tuhannya," jawab Abu Nawas yang membuat temannya itu keheranan. 

"Ah masa, kok' bisa begitu yak? emang benda mati juga bisa bertasbih," tanyanya. 

Abu Nawas pun berbicara,  bahwa semua makhluk di langit dan di bumi,  walaupun itu benda mati menurut kita,  selalu bertasbih. Memuja dan memuji Allah yang memperkenankan wujudnya mengada di dunia. Untuk memperkuat dalilnya ini Abu Nawas mengutip salah satu firman Allah yang berbunyi seperti ini. 

"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang  ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun". (QS.Al-Isra':44). 

Baru Abu Nawas ngomong tersebut, angin kembali datang. Dengan membawa keluarganya lebih banyak,  sehingga membuat teras rumahnya bergoyang keras. Melihat hal itu Abu Nawas refleks meloncat keluar rumah. 

"Kenapa ente lompat ketakutan begitu? Bukankah teras ente sedang bertasbih," tanya temannya yang juga ikut loncat. 

Abu Nawas setelah reda kagetnya,  menjawab dengan kalem. "Ana khawatir, jika semakin khusyu' teras ini bertasbih dia akan bersujud,". 

Begitulah Kro,  cara menyikapi kemiskinan ala Abu Nawas. Bukan menutupi kekurangan yang kita miliki, apalagi menjualnya  untuk uang.  

*Penikmat kopi lokal gratisan



TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top