Social Media

Share this page on:

Koperasi Rentenir Memakan Korban (1)

Merasa Jadi Korban Rentenir, Ibu Rumah Tangga Asal Malang Lapor Presiden Jokowi

09-06-2018 - 11:03
Dewi Rahmawati, istri Roy Darmawan saat mengadukan kasus yang dialaminya ke MalangTIMES, Rabu (6/6/2018) (Foto : Pipit Anggraeni/MalangTIMES)
Dewi Rahmawati, istri Roy Darmawan saat mengadukan kasus yang dialaminya ke MalangTIMES, Rabu (6/6/2018) (Foto : Pipit Anggraeni/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Merasa jadi korban rentenir, seorang ibu rumah tangga asal Kota Malang melaporkan masalahnya ke Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Sebuah surat dengan perihal laporan pengaduan dan perlindungan itu dikirim Dewi Rahmawati, warga Kelurahan Bareng Kecamatan Klojen Kota Malang dengan tembusan ke berbagai lembaga. Di antaranya Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Yudisial, Kejaksaan Agung, Kapolri, Propam Mabes Polri, Irwasum Polri, Kapolda Jatim, DIV Propam Polda Jatim, Bank Indonesia, OJK Malang, Kapolresta Batu, Kapolsek Batu, dan Arsip dan tertanggal 5 Juni 2018.

iklan

Dalam aduannya kepada Presiden Jokowi itu, Dewi menyampaikan keluhannya atas proses pinjam meminjam yang dilakukan suaminya hingga berujung pada kasus pidana.

Kepada MalangTIMES, ibu dua anak ini menyebut jika suaminya sengaja meminjam uang ke Koperasi Simpan Pinjam Delta Pratama Kota Batu pada 2014 silam sebesar Rp 40 juta. Dalam akad peminjaman tersebut, suami Dewi menjadikan BPKB mobil Luxio sebagai jaminan.

"Saya dan suami memulai usaha sejak tahun 2007, dan 2014 sengaja pinjam untuk mengembangkan usaha rental dan travel kami," katanya, Rabu (6/6/2018).

Dalam kesepakatan yang dibuat, Suami Dewi dapat mencairkan pinjaman sebesar Rp 38.170.000 dari total yang diajukan Rp 40 juta. Karena ia dibebani biaya administrasi Rp 1.830.000.

Pasca mendapat pencairan, ia dan suami pun mulai mencicil pinjaman sebagaimana kesepakatan. Enam bulan pertama, pasangan suami isteri ini memilih membayar bunga pinjaman dan mengesampingkan biaya pokok angsuran.

Dewi menyebut jika enam bulan pertama ia membayar bunga sebesar Rp 1.120.000 setiap bulan tanpa angsuran pokok.

Kemudian di bulan ketujuh ia dan suami kembali memperbarui perjanjian pembayaran angsuran. Saat itu, ia diwajibkan membayar angsuran pokok sebesar Rp 2.380.000 per bulan selama 24 bulan.

"Itu pun masih disertai dengan biaya tambahan antara Rp 400 ribu sampai Rp 700 ribu secara sepihak oleh koperasi," beber perempuan berambut panjang itu.

Tak lama, usaha yang dirintisnya bertahun-tahun itu mengalami pailit dan suaminya tak dapat melakukan kewajibannya membayar angsuran selama 22 kali, terhitung sejak 4 Mei 2015.

Surat peringatan dari koperasi pun dilayangkan kepada dirinya dan suami oleh Koperasi Simpan Pinjam Delta Pratama Kota Batu.

Dalam surat peringatan pertama ia langsung merasa kaget karena dicantumkan biaya tunggakan angsuran sebesar Rp 52.507.400 yang harus diselesaikan dalam jangka waktu dua bulan.

"Saat itu suami saya menyanggupinya untuk mencicil, dan memang belum bisa melunasi," tambahnya.

Lantaran belum dapat melunasi, Koperasi Simpan Pinjam Pratama Kota Batu pun kembali mengirim surat somasi. Lagi-lagi, Dewi dikagetkan dengan besaran hutang yang harus dibayarnya dengan suami.

Di surat somasi ke dua itu, disebutkan jika Roy Darmawan (Suami Dewi) selaku peminjam diwajibkan untuk membayar tunggakan sebesar Rp 52.507.400 dan denda menunggak 22 kali tidak melakukan pembayaran Rp 118.702.700. Total, dari somasi ke dua itu Roy dibebani membayar hutang sebesar Rp 171.210.100.

Lebih lanjut Dewi menjelaskan jika total rincian pembayaran angsuran yang dilakukannya bersama sang suami di KSP Delta Pratama sebesar Rp 16.180.000.

Dia pun menyertakan beberapa bukti pembayaran yang dilakukan melalui transfer ke rekening atas nama Elysa Fransisca.

"Dan selebihnya kami bayar langsung ke petugas koperasi," tambahnya lagi.

Secara rinci ia pun menyebut jika alasan lain tidak dapat membayar angsuran secara teratur dikarenakan mobil yang disewakan yang notabene jaminan meminjam uang di koperasi telah lenyap lantaran dibawa kabur oleh tetangganya sendiri yang berpura-pura meminjam mobil.

"Koperasi mengetahui jika mobil kami dibawa kabur orang, selanjutnya suami saya dilaporkan ke pihak berwajib," urainya lagi.

Sejak November 2017, suami Dewi pun ditahan atas tuduhan mengalihkan barang jaminan yang digunakan untuk meminjam modal ke Koperasi Simpan Pinjam Delta Pratama Kota Batu.

Kemudian pada 12 Februari 2018 oleh pengadilan sang suami diputus bersalah dan dijatuhi hukuman delapan bulan subsider tiga bulan atau denda Rp 5 Juta.

"Suami saya ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Lowokwaru Malang," jelasnya.

Dewi pun merasa kapok setelah melakukan peminjaman di Koperasi Simpan Pinjam Delta Pratama Kota Batu.

Karena jumlah pinjaman sebesar Rp 40 juta kini beranak menjadi Rp 171 juta lebih. Dari berbagai upaya yang dilakukan dan tidak menemukan hasil ia pun akhirnya memilih melayangkan surat ke Presiden Jokowi dengan harapan dapat memperoleh bantuan.

"Saya sudah ke mana-mana dan tidak mendapat bantuan," jelasnya lagi.

Dia pun berpesan agar masyarakat yang sedang membutuhkan modal tidak asal meminjam uang di sembarang koperasi. Melainkan melihat terlebih dulu kondisi dan kesehatan dari koperasi yang akan dituju. "Jadi jangan hanya asal cepat cair saja," pungkas Dewi.

Bagaimana tanggapan pengelola Koperasi Delta Pratama Batu atas kasus ini? Bagaimana pula kondisi sebenarnya koperasi yang dimaksud?Bagaimana mekanisme penetapan suku bunga oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)? Simak terus kelanjutannya hanya di MalangTIMES (JatimTIMES Network)


Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha

Top