Social Media

Share this page on:

Pulang Kampung ke Malang, Destinasi Kuliner Ini Biasa Jadi Pilihan

14-06-2018 - 15:44
Bikin ngiler, olahan kedai legendaris di Kota Malang ini pas jadi jujukan nostalgia saat mudik ke Malang.
Bikin ngiler, olahan kedai legendaris di Kota Malang ini pas jadi jujukan nostalgia saat mudik ke Malang.

MALANGTIMES - Pulang kampung ke Malang, selain bertemu keluarga, pastinya juga kangen dong dengan sederet olahan kuliner yang jarang ditemui di kota lain. Itu sebabnya, selama Lebaran berlangsung, ada banyak destinasi kuliner yang tetap setia buka memanjakan lidah pelanggannya. 

Beberapa kuliner legendaris yang biasanya selalu menjadi jujukan untuk bernostalgia di antaranya Bakso Bakar Pak Man, Bakso Presiden, Mie Bromo, Cwie Mie, Toko Oen, hingga rujak manisnya.

iklan

Di kota bunga ini, tak sedikit memang olahan khas yang bikin ngiler. Salah satu yang paling banyak diminati adalah olahan mi, yang selama ini memang banyak dicari wisatawan.

Olahan mi yang berusia puluhan tahun di Kota Malang tak hanya ada di satu kedai saja. Tapi ada banyak dan kalian bisa memilihnya sesuai selera. Ada Cwie Mie yang terkenal, Mie Gloria, hingga Mie Pangsit Bromo. Semuanya memiliki cita rasa dan ciri khasnya masing-masing.

Salah satu kedai mi legendaris yang mampu bertahan hingga sekarang dan banyak diminati adalah Mie Bromo. Kedai ini pertama dirintis pada 1984. Mi pangsit hingga olahan mi dengan beragam topping tersebut kini banyak disajikan di sana.  

Dulu, mi langganan orang Malang itu terletak di Jl Bromo. Tapi saat ini terletak di kawasan Jl Pattimura sejak 1990. Pelanggan yang datang pun dari berbagai daerah. Terutama saat Kebaran dan libur panjang.

Saat ini, kedai Mie Pangsit  Bromo memiliki empat cabang dan 28 karyawan. Dalam satu hari, sekitar 20 kilogram bahan mi dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. 

Tak jauh dari kedai Mie Bromo, ada kedai legendaris lain yang juga sering menjadi jujukan saat Lebaran tiba. Yaitu Depot Rujak Pojok yang sudah ada sejak tahun 1951. Depot yang berada di Jl Pajajaran itu memang hampir tak pernah sepi pada hari biasa maupun libur panjang.

Kedai yang bertahan selama empat generasi itu pun tak hanya menyediakan rujak cingur, lontong cap gomeh, dan gado-gado saja seperti saat pertama dibuka. Kini kedai itu sudah mengembangkan banyak varian menu baru seperti aneka olahan mi dan nasi.

Setiap menu dibanderol mulai dari Rp 10 ribu untuk pangsit mi ayam sampai dengan Rp 24 ribu untuk rujak cingur. Selain itu, Anda harus mencoba kelezatan rujak nanis yang mereka tawarkan. Sebab, bumbunya yang kental dan harum disajikan dengan berbagai buah segar seperti bengkoang, nanas, mentimun, jambu, dan potongan tahu.

Sementara untuk rujak cingurnya sendiri memang memiliki cita rasa yang berbeda. Bumbu dan petis terasa lebih kental dengan paduan sayuran segar. Cingurnya pun terasa lebih empuk dibandingkan dengan cingur yang disediakan dalam rujak pada umumnya.

Selain itu, di Malang masih bertengger deretan kuliner khas yang melegenda dan menjadi jujukan. Mulai dari soto, rawon, dan bakso yang melegenda. (*)


Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Top