Social Media

Share this page on:

Khofifah-Emil Menang, Sepupu Pengasuh Ponpes Tunaikan Nazar Jalan Kaki Malang-Surabaya

01-07-2018 - 11:48
Nazar yang merupakan tradisi para nabi dan umat masa lalu yang masih tetap berjalan sampai saat ini. Misalnya dengan nazar yang dilakukan Muslih, warga Pagelaran yang berjalan kaki dari Malang-Surabaya karena hajatnya terkabul. (Ist)
Nazar yang merupakan tradisi para nabi dan umat masa lalu yang masih tetap berjalan sampai saat ini. Misalnya dengan nazar yang dilakukan Muslih, warga Pagelaran yang berjalan kaki dari Malang-Surabaya karena hajatnya terkabul. (Ist)

MALANGTIMES - Lelaki bertubuh tambun itu tersenyum. Raut wajahnya terlihat gembira, walau rasa lelah begitu kentara menyergap seluruh tubuhnya.

Bagaimana tidak lelah. Lelaki bernama  Muslih Ali, warga Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, ini melakukan perjalanan dari Malang menuju Surabaya. Dengan berjalan kaki dari kediamannya di Banjarejo, dia menuju makam Sunan Ampel di Kota Surabaya.

iklan

Aksi jalan kaki menembus keramaian jalanan Malang-Surabaya yang dilakukan sepupu KH Thoriq bin Ziyad, lengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam Banjarejo, Pagelaran, ini merupakan salah satu janji atau nazar Muslih. 

“Betul ini nazar saya apabila pasangan calon (paslon) nomor 1 Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak menang Pilgub Jatim 2018. Ternyata menang dan saya lunaskan nazar saya ini,” kata Gus Muslih yang juga menyampaikan dirinya melakukan aksi jalan kaki Malang-Surabaya dari Kamis (28/6/2018) ba’da salat duhur dari kediamannya. 

Gus Muslih menyelesaikan nazarnya sampai ke Surabaya, Sabtu (30/6/2018) malam kemarin. Tentunya, banyak pengalaman yang dilaluinya selama menunaikan nazar tersebut. Dari kakinya yang terluka dikarenakan paku, baut dan mur ketika melintas di Jalanan Kota Sidoarjo sampai sempat ditolak saat sampai posko kemenangan Khofifah-Emil di jalan raya Diponegoro. 

"Iya, mungkin karena tampilan saya compang-camping. Padahal saya cuma ingin minta air putih saja,” ujarnya sambil tertawa. 

Nazar secara sejarah merupakan tradisi yang telah dijalankan oleh para nabi dan umat terdahulu. Di dalam Alquran terdapat beberapa kisah nazar, misalnya yang dilakukan oleh istri Imran, ibunda Sayidah Maryam. Allah berfirman: "(Ingatlah), ketika istri ' Imran berkata, "Ya Tuhan-ku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.".

Selain itu dalam Surah Maryam juga disebutkan Allah berfirman kepada Sayidah Maryam. “Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, “sesungguhnya aku telah bernazar untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini'." Pun yang menerangkan salah satu kriteria para hamba Allah yang saleh, Al-Qur’an menyebutkan :”Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana-mana,”.

Banyak bentuk nazar yang dilakukan oleh umat Islam, seperti yang dilakukan oleh Gus Muslih, berjalan kaki dari Malang-Surabaya. Ada juga nazar untuk memangkas rambut kepala sampai plontos maupun yang berpuasa. Atau yang mensedekahkan hartanya apabila keinginannya tercapai. Seperti diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq.

Suatu hari ketika Imam Hasan dan Imam Husain sedang sakit. Rasulullah SAW datang menjenguk mereka dan bersabda kepada Imam Ali: ”Sebaiknya engkau bernazar untuk kesembuhan kedua putramu,”. Imam Ali berkata, "Saya bernazar jika kedua putraku ini sembuh, maka saya akan berpuasa tiga hari sebagai rasa syukur kepada Allah."

Sayidah Fatimah dan pembantunya yang bernama Fiddhah juga mengucapkan dan menunaikan nazar tersebut. Akhirnya Allah menyembuhan sakit Imam Hasan dan Imam Husain dan mereka pun menjalankan puasa,”.

“Menunaikan nazar yang tentunya mampu untuk kita laksanakan. Saya juga yakin bisa menunaikan nazar saya berjalan kaki ke Surabaya makanya saya tunaikan. Nazar juga sebagai bentuk mendekatkan diri pada Allah, seperti yang telah dilakukan zaman para nabi terdahulu,” ujar Gus Muslih.

Nazar di era sekarang pun masuk dalam ranah politik. Banyak masyarakat yang melakukan nazar saat calon-calon pemimpinnya berlaga untuk menjadi pemimpin. Saat calon mereka menang, maka mereka pun, baik perseorangan maupun secara bersama-sama menunaikan nazarnya tersebut. Lepas dari bentuknya, kata Gus Muslih, bernazar merupakan bagian umat saat ini untuk andil dalam tradisi baik yang dilakukan oleh para nabi dan orang-orang mukmin zaman dulu. (*)


Pewarta : Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Top