Social Media

Share this page on:

Bisnis Berita Hoax (Masih) Lahan Subur Raup Duit

01-07-2018 - 11:55
Ilustrasi (www.photocase.com)
Ilustrasi (www.photocase.com)

*dd nana

Ingin perangi berita hoax, maka berangus “Subur” yang memiliki lahannya. Guyon Cak, mohon maaf bagi yang memiliki nama Subur. Maksud saya, berita hoax yang tidak pernah tertidur sekejap pun di jadag maya melalui berbagai media sosial saat ini, tetap menjadi lahan subur. Lahan subur untuk meraup duit, tentunya. Kalau ingin meraup popularitas, jadilah politikus. Atau penyanyi dangdut, ustadz atau profesi yang selalu bergandeng mesra atau dibenci media. Khususnya media sosial yang penghuninya didominasi para pakar berbagai persoalan. Dari masalah busana, makanan, politik, agama dan lainnya. Warganet akan dengan brilian dan ringannya menyampaikan berbagai idenya.

iklan

Kembali ke persoalan berita hoax yang kini menjadi musuh bersama itu, ibarat tokoh protagonist Joker dalam serial film Batman yang tidak ada matinya. Walau di hajar sampai babak belur, dikerangkeng dalam jeruji besi, tetap saja ada dan tertawa dengan gaya  khasnya. Ngeyek. Mati satu tumbuh seribu. Dicabut satu tumbuh sehalaman rumah, mirip juga dengan rumput.

Nah sebagai rumput inilah, berita hoax semakin menarik banyak orang (ingatlah pepatah rumput tetangga selalu hijau menggoda). Baik yang memang mengkhususkan diri untuk mengabdi kepada kebohongan dengan tujuan kapital maupun tujuan politis. Atau bagi kita yang terbiasa dengan ringannya juga me-like, share berita-berita tersebut di berbagai akun medsos yang dimiliki. Bahkan kerap terlihat cepet-cepetan untuk menyebarluaskan berita tersebut. Padahal yak enggak ada untungnya. Pulsa data tersedot, dan parahnya jadi pengikut militan tanpa sadar, dari mereka yang mengelola berita-berita hoax tersebut. Paling-paling yang didapatkan para jempoler ini adalah rasa bangga sedetik saja. Karena merasa paling cepat mengabarkan suatu berita atau peristiwa. Walau berita yang disebarkannya bisa menyulut api dan membakar orang-orang yang berada dalam lingkaran berita tersebut.

“Yang penting gua kekinian. Melek teknologi informasi,”. Mungkin, begitu yang keluar dari isi jempolnya.

Kenapa bisnis berita hoax baik melalui medsos maupun media online tidak pernah ada habisnya? Karena uang brow. Bayangkan saja, kita yang kerja sebagai buruh dengan upah minimum Kabupaten/Kota di Jatim sekitar Rp 2 juta satu bulan. Bangun pagi keluar sore setiap harinya, dikalahkan pendapatannya dengan mereka yang memproduksi berita hoax. 

Dari situs pengukur nilai finansial suatu website bernama Site Worth Traffic, penghasilan pembuat, pengepul berita hoax untuk satu konten berita palsu yang tayang 1.000 kali akan dibayar USD 1 atau USD 0,04 per klik. Apabila dikunjungi sekitar 487 ribu kali, maka di dapatkan duit sebesar Rp 6,4 juta sebulan. BIsa lebih banyak berlipat-lipat kalau pengunjungnya membludak. Setahun mereka bisa mendapatkan duit sampai miliaran rupiah. Dengan duduk depan laptop, meramu berita bombastic dari berbagai situs mainstream, lantas sebarkan ke berbagai platform medsos.

“Wiiihh bikin jadi mau. Yuk bikin berita hoax,” semangat Sukro yang langsung kena jitak Sokib. “Gundulmu kurapan Kro. Di penjara baru nyaho lo. Itu baru di dunia, diakhirat apa lo kagak ditagih tanggungjawab juga,” sungut Sokib.

Lahan subur meraup duit inilah yang dimungkinkan berbagai situs hoax terus saja bergerilya. Walau pemerintah telah membentuk tim cyber, menangkap dan memenjarakan para pelaku, sampai pada berbagai acara seremoni anti berita hoax di seluruh wilayah NKRI tercinta ini.

“Kagak jera mereka ya Kib?” tanya Sukro.

“La buktinya masih banyak tuh berita-berita hoax bergentayangan dan melecehkan kita sebagai masyarakat bodoh yang dengan gampangnya ikut membantu mereka dengan menyebarkan nafsu mereka itu.” Ucap Sokib

Sukro terdiam. Dia mencoba mengingat berapa kali dirinya menjadi korban empuk para monster kata-kata bohong untuk kepentingan mereka itu. Sukro mencoba masuk pada pikiran dan hatinya saat ikut serta tanpa sadar menyebarkan berbagai broadcast hoax di medsosnya ke berbagai group yang dimilikinya. Sukro terhenti saat berjumpa dengan Sukro lain dalam pengembaraannya itu.

“Kebanggaan. Pengakuan diri. Walau lo Kro hanya pedagang kecil tapi melek informasi. Orang-orang akan kagum pada kecepatanmu menyebarkan berbagai berita. Masa bodoh itu berita hoax atau bohong. Bukan begitu Kro?” kata Sukro kepada Sukro.

Sukro satu yang membusungkan dada dengan senyum khas Joker itu kembali bicara. “Jangan mau kalah dengan si Sotoy yang lulusan pesantren itu dalam hal informasi. Walau lo hanya bisa alif, ba, ta…kalau urusan sebar menyebar berita harus yang pertama. Apalagi kalau berita tentang agama kita. Betul begitu Kro?” cecarnya.

Gundul kurapan lo, tuh yang bikin lo jadi pesuruh orang-orang yang batang hidungnya saja kagak lo tau. Semprot Sokib yang membuat sukro geragapan. “Lo kok tau isi benak pikiranku Kib. Gua kan sedang ngomong dalam hati,” ujarnya.

Itulah yang ditangkap dengan culas oleh mereka. Kita disadap pemikirannya yang dahaga atas pengakuan semu. Agar tidak disebut ndeso, bodo, gaptek. “Ini penyakit dasar kita Kib. Kelamaan dijajah orang. Gampang minder dengan otak kita sendiri. Kalau tidak ada yang memantiknya, nih otak walau punya ide cemerlang, mending mundur dan tiarap saja. Bungkam seribu kata-kata. Ini lahan subur mereka,” ujar Sokib yang entah makan sahur dengan apa tadi pagi hingga omongannya sok keminter itu.

“Trus, caranya kita tidak dijajah lagi gimana Kib?”

“Puasakan jempol lo. Jangan mendurhakai ciptaan Tuhan. Jempol itu bukan untuk berpikir. Itu urusan otak. Kalau otak lo kurang gizi, isi dengan belajar. Baca, baca, baca yang kesahihannya telah teruji dan terbukti,” jawab Sokib.

Ribet. Aku matikan saja medsos ku. The-end-kan ?

*Penikmat kopi lokal gratisan



TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top