Social Media

Share this page on:

Juni, Kota Malang Catatkan Inflasi Paling Rendah Sewindu Terakhir

02-07-2018 - 18:40
Grafis ilustrasi catatan inflasi Kota Malang selama delapan tahun terakhir. (Grafis: Raafi P/ MalangTIMES)
Grafis ilustrasi catatan inflasi Kota Malang selama delapan tahun terakhir. (Grafis: Raafi P/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kota Malang masih mengalami inflasi pada periode Juni 2018, yakni di angka 0,25 persen. Meski demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat bahwa angka inflasi bulanan tersebut merupakan yang paling rendah dalam kurun waktu sewindu alias delapan tahun terakhir.

Kepala BPS Kota Malang M Sarjan menguraikan, sejak 2011 silam angka inflasi terendah yang terdata yakni 0,31 persen pada Juni 2014 silam. "Juni ini inflasi paling rendah dibanding bulan yang sama delapan tahun terakhir, mulai 2011 inflasinya 0,56 persen. Termasuk juga laju inflasi year on year (YoY) juga paling rendah," ujarnya saat rilis inflasi, siang ini (2/7/2018). Untuk inflasi YoY, Kota Malang mencatatkan angka 2,25 persen. (Selengkapnya lihat grafis.) 

iklan

Menurut Sarjan, rendahnya inflasi pada Juni 2018 menandakan bahwa daya beli masyarakat masih cenderung baik. Meskipun pada bulan lalu terdapat momen Hari Raya Idul Fitri 1439 H yang sebelumnya dikhawatirkan memicu inflasi hingga angka yang signifikan.

"Ternyata prediksi (inflasi meningkat drastis) saat lebaran ini tidak terbukti. Kalau di media sosial heboh ada gejolak harga, itu nggak ada di Kota Malang. Harga-harga masih normal, masih aman," tegasnya.

Sarjan menjelaskan, angka inflasi merupakan titik awal yang urgen untuk melihat ekonomi di Kota Malang terkategori aman atau tidak. "Kemarin kan diumumkan kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), untuk bulan ini belum ada pengaruhnya. Kami berharap Juli juga tidak ada pengaruhnya," urainya.

Pihaknya juga berharap, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang dapat bekerja semaksimal mungkin. Sehingga, kenaikan BBM tidak berpengaruh besar ke inflasi. "Meski ada lebaran dan pilkada, inflasi bisa disebut terkendali, tapi pemerintah nggak boleh lengah," tegasnya.

Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Malang Dwi Handayani Prasetyowati menambahkan, untuk Juni 2018, inflasi Kota Malang juga paling rendah di delapan kota di Jawa Timur. Sementara untuk tingkat provinsi, inflasi berada di angka 0,42 persen dan angka nasional 0,59 persen. Sementara yang tertinggi, yakni Sumenep dengan angka 0,84 persen, Jember 0,74 persen, serta Probolinggo dan Madiun sebesar 0,73 persen.

"Dibandingkan dua tahun sebelumnya, inflasi Kota Malang di 2018 ini relatif flat (datar). Tidak ada gejolak terlalu tinggi atau terlalu rendah, lebih tenang," terangnya.

Kelompok pengeluaran transportasi, lanjut Dwi, memberi pengaruh tertinggi terhadap inflasi. Rinciannya, kelompok transportasi, komunikasi, jasa keuangan mencatatkan sumbangan 1,02 persen. Diikuti kelompok makanan jadi, minuman dan tembakau sebesar 0,26 persen, kesehatan 0,12 persen, serta kelompok bahan makanan 0,06 persen. "Ayam ras agak cukup tinggi harganya. Biaya pendidikan dan perumahan juga naik sedikit," terangnya.

Sementara yang mengalami deflasi yang mengalami penurunan harga signifikan yakni kelompok sandang yang turun 1,16 persen. "Emas perhiasan turun, sehingga terjadi deflasi di kelompok sandang meskipun harga pakaian dan lain-lain mengalami kenaikan," urainya.

Faktor penghambat laju inflasi yang lain, menurut Dwi, yakni penurunan harga komoditas telur ayam ras, bawang merah, bawang putih, cabai merah, tomat sayur, kentang dan minyak goreng.  

Dwi menyebut, inflasi Kota Malang bulan ini hampir sama 2017 lalu. "Bulan ini sedikit turun karena pemerintah mampu mengendalikan harga pangan. Pada Mei lalu juga telah dihajar habis-habisan oleh kenaikan angkutan udara. Jadi meski lebaran kemarin tarif juga naik, tetapi tidak lagi signifikan mendongkrak inflasi," pungkasnya.


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha

Top