Social Media

Share this page on:

Impor Sinden, Bupati Malang Rendra Kresna Prihatin

04-07-2018 - 11:41
Bupati Malang Rendra Kresna menyatakan keprihatinannya atas semakin menyusutnya jumlah pesinden di wilayahnya. (Nana)
Bupati Malang Rendra Kresna menyatakan keprihatinannya atas semakin menyusutnya jumlah pesinden di wilayahnya. (Nana)

MALANG TIMES -Bupati Malang Dr H Rendra Kresna secara langsung menyampaikan keprihatinan dengan semakin sulitnya mencari pesinden di Kabupaten Malang. 

Bahkan,  semakin berkurangnya pesinden  membuat setiap upacara adat di berbagai wilayah perdesaan di Kabupaten Malang yang biasanya menampilkan tontonan wayang kulit, untuk sindennya harus impor dari luar kota. 

iklan

"Padahal di setiap bulan Suro atau bersih desa,  berbagai desa masih sering menampilkan wayang kulit yang tentunya membutuhkan sinden. Kebutuhan sinden ini yang sering harus mendatangkan dari luar daerah," kata Rendra Kresna kepada MalangTIMES,  Rabu (4/7/2018). 

Kondisi inilah yang membuat prihatin orang nomor satu di Kabupaten Malang atas semakin berkurangnya para pesinden sebagai pewaris dan penerus kesenian tradisi jawa ini. 

Dari yang disampaikan Rendra, jumlah sinden di wilayahnya sampai saat ini hanya sekitar 30 orang. Total sinden tersebut juga secara usia sudah terbilang tua atau rata-rata di atas usia 40 tahun lebih ke atas. 

Regenerasi pesinden di Kabupaten Malang menjadi persoalan tersendiri dalam menjaga,  melestarikan dan menarik generasi muda untuk mengenal dan mempelajarinya. Ruang untuk menuju ke arah tersebut inilah yang mulai dibangun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang melalui festival sinden. 

atentunya perlu adanya program lain serta tindak lanjut ke depan untuk semakin menguatkan yang telah dilakukan oleh Disparbud Kabupaten Malang. Misalnya dengan semakin memasifkan gelaran sinden diberbagai even resmi pemerintahan maupun lainnya. Atau, program lainnya yang diinisiasi oleh Pemerintahan Kabupaten Malang. 

Rendra pun mendorong seluruh pihak tak terkecuali media untuk ikut serta melakukan gerakan bersama membangun kecintaan generasi muda terhadap kesenian tradisi jawa,  seperti nyinden. 

"Perlu sama-sama untuk membangun hal tersebut agar generasi muda tertarik belajar mengenai kesenian tradisi apapun itu. Sehingga nilai-nilai luhur tradisi melalui kesenian tetap terwariskan," ujar Ketua DPW Partai NasDem Jawa Timur (Jatim). 

Tidak kalah penting,  lanjut Rendra, adalah menghapus kesan negatif dari profesi sinden yang masih melekat dalam masyarakat. Padahal menjadi sinden merupakan suatu profesi seni yang membutuhkan kerja keras dan kemampuan multidimensi. Misalnya, dalam lagu jawa yang dinyanyikan para pesinden tersimpan berbagai unsur filosofi,  nilai luhur serta keindahan sastrawi yang membutuhkan penjiwaan serta teknik vokal tingkat tinggi. 

Bahkan,  menurut Made Arya Wedanthara -kepala Disparbud Kabupaten Malang-,  seorang sinden yang telah jadi secara kualitas suara tidak akan kalah dengan penyanyi nasional. "Kalau Via Vallen lewat sudah," ujarnya. 

Di ujung pembicaraan,  Rendra juga menyampaikan keprihatian atas bahasa Jawa yang semakin tidak dikenal oleh generasi sekarang. "Lebih pintaran Google sekarang kalau bahasa jawa dibanding kita," ucapnya yang membuat Pemerintah Kabupaten Malang selalu aktif dalam acara rembuk nasional bahasa Jawa.  (*)


Pewarta : Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Top