Social Media

Share this page on:

Tirto.id Telanjangi Konten Media Lain (2)

Tahu Beritanya Ditelanjangi Tirto.id, Timesindonesia Akui Tak Pernah Dikonfirmasi

05-07-2018 - 07:30
Pemimpin Redaksi Media Online Timesindonesia.co.id, Yatimul Ainun (Foto via timesindonesia.co.id)
Pemimpin Redaksi Media Online Timesindonesia.co.id, Yatimul Ainun (Foto via timesindonesia.co.id)

Tirto.id ‘Telanjangi’ Konten Media Lain (2)

JATIMTIMES - Pisau bedah Tirto.id hujam berita beberapa media daring (online) di Indonesia, satu di antaranya ialah www. timesindonesia.co.id.

iklan

Berita timesindonesia.co.id tentang CSR PT Telkom dinilai oleh tirto.id

Tirto.id menurunkan artikel "Disinformasi CSR PT Telkom untuk Gereja dan Masjid" tanggal 25 April 2018 ditulis reporter Frendy Kurniawan. Pada berita tersebut media online timesIndonesia.co.id disebut oleh tirto.id telah mengabaikan konteks.

Pemimpin Redaksi timesIndonesia.co.id, Yatimul Ainun mengakui mengetahui artikel yang ditulis Frendy Kurniawan di kolom Periksa Data itu. Tetapi, hingga tirto.id menurunkan berita tersebut pihaknya belum pernah dikonfimasi. "Tidak pernah Mbak," aku Ainun kepada JatimTIMES.com.

Padahal konfirmasi pada subjek berita adalah hal yang harus dilakukan sebelum berita dipublikasikan. Hal ini diatur secara jelas dalam kode etik jurnalistik. Tirto.id sendiri juga memuat aturan tersebut dalam tulisan berjudul "Kode Etik Jurnalistik" diterbitkan tanggal 12 Mei 2018.

Dalam hal ini konfirmasi ditujukan agar berita cover both sides atau berimbang. Tirto.id dalam tulisan "Kode Etik Jurnalistik" menjabarkan istilah berimbang dengan memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.

Lalu, kemana ruang bagi timesIndonesia.co.id yang produk jurnalistiknya dinilai habis-habisan oleh tirto.id?

Tirto menyimpulkan berita timesindonesia.co.id telah melakukan disinformasi karena angka CSR yang disebut tidak jelas berasal dari narasumber atau bukan.

"Apakah angka itu muncul dalam paragraf ketujuh tetapi dalam bentuk kalimat tidak langsung, bukan kalimat langsung dari narasumber. Kalimat-kalimat langsung yang dinisbatkan kepada narasumber lebih merupakan tanggapan dan bukan sodoran angka", tulis tirto.id.

Tirto lantas mempermasalahkan pernyataan narasumber timesindonesia.co.id yakni Jamal dari Masyarakat Peduli Keadilan (MPK) dalam artikel dengan judul "Setelah PBNU, MUI juga Sayangkan Sikap Deskriminatif PT Telkom" tertanggal 19 April 2018. Angka CSR Rp 3,5 Miliar untuk gereja dan masjid Rp 100 juta, menurut tirto.id, berasal dari pernyataan Jamal.

Menanggapi berita mereka yang dinilai disinformasi oleh media online tirto.id, Ainun menjelaskan perihal narasumber dan verifikasi yangtimesindonesia.co.id upayakan.

"Tapi yang timesindonesia.co.id itu bukan mengulas kasus Telkomnya tetapi memberitakan sesuai apa yang disampaikan oleh narasumber. Misalkan Muhammadiyah itu merilis seperti itu, terus ada aksi. Begitu juga PBNU berkomentar. Nah, persoalan apakah PBNU atau Muhammadiyah ada miskomunikasi itu bukan urusan kita, bukan urusan media. Tetapi kita melakukan konfirmasi mendalam lagi ke pihak Telkom namun tidak berhasil. Dan itu sudah dijelaskan juga dalam berita," jelas Ainun.

Namun, Ainun tidak mau mempermasalahkan penilaian tirto.id bahwa timesindonesia.co.id telah menyebarkan disinformasi.

 "Karena mungkin tirto.id memang satu-satunya media di Indonesia yang mendapat apa itu. Nah itu pola kerjanya seperti apa saya juga tidak tau," katanya.

Tirto.id menyebut mereka merupakan satu-satunya media di Indonesia yang telah terakreditasi oleh International Fact Checking Network sebagai pemeriksa fakta. Penjelasan ini hampir selalu ada di kolom Periksa Data.

Mungkinkah dengan label sebagai media pemeriksa fakta, Tirto digdaya hingga tidak mengindahkan kode etik jurnalistik? Apa kata media daring (online) lain yang beritanya ‘ditelanjangi’ oleh tirto.id tapan ada upaya konfirmasi? Simak ulasan selanjutnya. (*)


Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Heryanto
Publisher :


Top