Social Media

Share this page on:

Puluhan Calon Enterpreneur Batik Digembleng Pemkot Malang

04-07-2018 - 23:40
Para peserta pelatihan membatik didampingi instruktur membuat pola-pola batik untuk diaplikasikan sebagai kerajinan di Hotel Pelangi Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Para peserta pelatihan membatik didampingi instruktur membuat pola-pola batik untuk diaplikasikan sebagai kerajinan di Hotel Pelangi Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus menggenjot munculnya enterpreneur-enterpreneur baru. Salah satunya di bidang kerajinan batik. Melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Malang, pemkot kembali mengadakan pelatihan bagi wirausaha baru.

Mengangkat tema Pembinaan dan Pelatihan Keterampilan Kerja bagi Masyarakat Calon Wirausaha Baru, dinkop menggelar pelatihan membatik bagi pemula. Bertempat di Hotel Pelangi, puluhan peserta dilatih sejak Senin (2/7/2018) hingga Jumat (6/7/2018) esok.

iklan

"Ada empat trainer profesional yang kami hadirkan. Mulai dari belajar membuat produk hingga marketing dan strategi bisnis," ujar Kepala Dinkop dan Usaha Mikro Kota Malang Triwidyani Pangestuti. 

Menurutnya, pemilihan batik sebagai kerajinan yang dilatihkan karena banyak potensi pasar yang terbuka. "Apalagi batik kan memiliki nilai luhur, Kota Malang juga banyak memiliki pola-pola yang bisa diangkat ke kancah nasional dan internasional," urainya. 
Yani mengungkapkan, pihaknya tidak hanya menggencarkan pendekatan melalui berbagai pembinaan dan pelatihan. Melainkan juga menangani usaha kecil dari hulu ke hilir.

Artinya, membantu dari bagaimana menumbuhkan, mengembangkan serta menciptakan produk yang berkualitas. "Kemudian melakukan pendampingan, akses permodalan, pemasaran dan seperti apa packagingnya itu juga tidak kalah penting. Itu yang selalu digarap," sebutnya. 

Salah satu pemateri, Konsultan Klinik Bisnis Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Malang Irfan Fatoni juga berbagi tips praktis. Di antaranya soal pentingnya wirausahawan baru melihat dan mengambil peluang yang ada. "Contoh yang out of the box, dari pelatihan batik ini, wirausahawan baru dapat membuka bisnis laundry," tuturnya.

"Atau membuat deterjen yang dikhususkan untuk batik. Itulah peluang yang harus kita ambil," tambahnya. Irfan menjelaskan perbedaan antara entrepeneur dengan survival. Menurutnya, kebanyakan pelaku UMKM hanya berada pada tingkat survival.

"Jadi survival itu asal usahanya jalan saja. Tapi kalau entrepeneur bisa mengembangkan usahanya lebih besar. Menjadi entrepeneur inilah yang kami harapkan dari pelaku UKM," pungkasnya. 


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Top