Social Media

Share this page on:

Warga Kota Malang Masih Lengket dengan Bank Titil, Sektor Formal Diminta Benahi Diri

08-07-2018 - 14:28
ilustrasi (Rumah UKM)
ilustrasi (Rumah UKM)

MALANGTIMES - Anggota DPR RI Komisi XI Andreas Eddy Susetyo menyebut jika lebih dari 40 persen masyarakat di Kota Malang masih terikat dan lengket dengan jasa bank titil alias bank perkreditan. Sehingga ia pun meminta agar sektor formal seperti perbankan  untuk berbenah diri.

Menurut Andreas, masyarakat terutama mereka yang bergerak dalam sektor ekonomi kecil cenderung memilih meminjam modal usaha kepada bank titil atau rentenir daripada harus ke bank. Hal itu dikarenakan bank titil lebih banyak melakukan upaya jemput bola dengan langsung mendatangi para pelaku usaha.

iklan

"Contoh saja di pasar. Banyak pedagang yang lebih memilih bank titil ketimbang sektor formal seperti bank," katanya pada wartawan, Minggu (8/7/2018).

Andreas menambahkan, proses digitalisasi dan kemudahan yang ditawarkan bank titil menjadi alasan masyarakat menggunakan jasa pinjam uang. Meskipun bunga yang ditetapkan bank titil jauh lebih besar dibanding dengan sektir formal.

Dari hasil pantauan di lapangan, bunga yang ditetapkan bank titil selalu di atas 30 persen, bahkan menyentuh 60 persen. Para nasabah pun diminta mencicil atau melakukan pembayaran setiap hari. Jika tidak, akan dikenal denda tambahan yang membuat pembayaran membengkak.

Sementara sektor formal sendiri, lanjut dia, selalu menetapkan bunga di bawah 20 persen. Tentu angka yang jauh lebih kecil ketimbang bunga bank titil itu sendiri. "Ini adalah peluang yang harus dilihat sektor formal. Karena ada banyak masyarakat yang memanfaatkan jasa peminajaman uang," ucap politisi PDIP itu.

Dia pun mendorong agar sektor formal seperti BPR dan perbankan umum meningkatkan inovasi baru untuk merangkul lebih banyak lagi kalangan. Terlebih BPR yang selama ini memang lebih banyak bergelut dengan sektor ekonomi kecil. "Sosialisasi dan inklusi keuangan harus lebih ditingkatkan karena masyarakat selama ini pemahamannya masih kurang akan sektor formal," pungkas Andreas. (*)


Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Top