Social Media

Share this page on:

BBM Naik, Harga Cabai Meroket, Tim Pengendali Inflasi Kota Malang Minta Masyarakat Waspadai Ini

09-07-2018 - 20:47
Wakil Ketua TPID Kota Malang Dudi Herawadi saat menemui awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Wakil Ketua TPID Kota Malang Dudi Herawadi saat menemui awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang tampaknya mesti banyak turun lapangan pada Juli 2018 ini. Pasalnya, ada dua kenaikan harga kebutuhan umum masyarakat. Mulai dari mulai meroketnya harga cabai serta kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di awal Juli lalu.

Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) merevisi harga BBM non subsidi. Yakni untuk jenis Pertamax yang naik Rp 800 dan Dexlite sebesar Rp 1.000 per liternya.

iklan

Wakil Ketua TPID Kota Malang Dudi Herawadi mengungkapkan, selain adanya kenaikan harga BBM pihaknya juga mengantisipasi kenaikan harga cabai. Terlebih kedua bahan pokok tersebut bisa menjadi pemicu inflasi.

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) di Jawa Timur, harga cabai di lima pasar di Kota Malang memang mengalami kenaikan.

Pada tanggal 9 Juli ini, harga cabai berada di angka Rp 47.800 per kilogram. Padahal, pada tanggal 1 Juli lalu, harganya masih di kisaran Rp 41.800 per kilogram.

Dudi mengatakan, harga cabai pada bulan Juli ini memang terpantau ada kenaikan. "Agak naik harganya. Makanya kami mengantisipasi," ujarnya. 

Selain itu, lanjut Dudi, pihaknya juga mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, pihaknya juga menghimbau kepada masyarakat agar tidak memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi.

"Yang mengkhawatirkan itu ekspektasi masyarakat," kata pria yang juga menjabat Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Malang itu. 

"Sekarang beberapa jenis BBM kan sudah ditetapkan naik dan biasanya akan berdampak pada ini-ini. Nah dugaan-dugaan ini kan ekspektasi, kami harus jaga agar masyarakat tidak terbawa," lanjutnya.

Dudi menjelaskan, semua unsur TPID sudah bekerja keras untuk mengendalikan harga pangan di Kota Malang.

Hal itu salah satunya terbukti pada inflasi bulan Juni lalu yang tidak terlalu tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Meskipun berada di momen Ramadhan, inflasi Kota Malang masih berada di angka 0,25 persen. 

Bahkan, Kota Malang mengalami inflasi terendah dibanding delapan kota lain di Jawa Timur. "Berkat kesigapan pemangku kebijakan di bidang masing-masing, jadi bisa diminimalisir. Sehingga bisa dilihat dampaknya," kata dia.

Salah satu contohnya, yakni mengendalikan harga telur ayam ras yang lumayan tinggi. "Kami berusaha untuk mendatangkan dari daerah produsen, seperti Blitar. Sehingga dari Rp 24 ribu turun terus. Di produsen kan Rp 19 ribu, tapi di pasaran Rp 26 ribu. Kami berusaha untuk mendorong," pungkasnya.


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Top