Social Media

Share this page on:

Diperiksa Polisi Terkait Kasus Plagiat, Ini Kata Guru Besar UIN Prof Imam Suprayoga

11-07-2018 - 09:24
Ketua Presidium Forum Independen Masyarakat Malang Raya Subaryo SH mendampingi Guru Besar UIN Maliki Malang, Prof Imam Suprayoga (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Ketua Presidium Forum Independen Masyarakat Malang Raya Subaryo SH mendampingi Guru Besar UIN Maliki Malang, Prof Imam Suprayoga (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kasus plagiat yang dilakukan Pembantu Rektor 1 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki), Dr Zainudin, terus diusut pihak kepolisian. Guru Besar Prof Imam Suprayogo kembali dimintai keterangan tambahan oleh pihak penyidik Polres Malang Kota, (10/7/2018).

Datang ke Polres Malang Kota sekitar pukul 13.00 wib, Prof Imam Suprayogo datang bersama Ketua Presidium Forum Independen Masyarakat Malang Raya, Subaryo SH langsung memasuki ruang penyidik.

iklan

Setelah menjalani pemeriksan selama dua setengah jam, Prof Imam Suprayogo keluar dari ruang pemeriksaan. Ditanya terkait pertanyaan yang diajukan penyidik, pihaknya mengaku bahwa agenda pemeriksaan masih sama dengan agenda pemeriksaan sebelumnya.

Namun yang baru adalah, penyidik meminta keterangan tambahan bahwa apakah memang betul plagiasi tersebut dilakukan tidak hanya pada buku Paradigma Pengembangan Keilmuan Perguruan Tinggi namun juga terdapat makalah-makalah diplagiasi.

"Semula kan mengira bahwa yang diambil dari buku yang dicetak biru itu, setelah diketahui masih ada makalah-makalah lain yang dicetak, maka dikonfirmasi lagi ke saya, ya saya jawab betul," ungkap Prof Imam Suprayogo ditemui di halaman Polres Malang Kota.

Sementara itu, meskipun sebelumnya pada sebuah kesempatan, Zainudin sempat mengatakan bahwa telah memberikan sebuah footnote atau catatan kaki pada buku yang ditulis Zainudin, namun hal tersebut dianggap Prof Imam Suprayoga belum cukup mewakili sebagai sebuah bentuk pengakuan buku yang ia tulis.

"Itu nggak cukup, ada tata cara pengutipan buku, sebagai seorang dosen dia mestinya tahu, bagimana cara mengutip, kalau tiga baris seperti apa, kalau lebih dari satu alinea seperti apa, dan dari situ juga harus mencantumkan di daftar kepustakaan, namun hal itu kan juga tidak dilakukan," jelas Prof Imam.

Lanjut Prof Imam, dengan adanya permintaan maaf Zainudin melalui surat permintaan maaf, dari situ semakin mengerucut jelas, bahwa Zainudin mengakui jika dirinya salah. "Kalau tidak mengaku salah masak minta maaf," ujarnya.

selain itu, Prof Imam Suprayogo juga menyampaikan, ia juga sempat ditanya mengenai seputar Hak Kekayaan Intelektual (HKI), namun dirinya tidak mengetahui jauh terkait hal tersebut. Pasalnya dahulu yang mengajukan ke Dirjen HKI adalah pihak kampus.

"Kalau sertifikat ada, sudah dari dulu-dulu disuruh untuk menunjukan dan sudah diberikan. Ya itu tadi pemeriksaan yang baru bahwa yang diambil bukan dari buku saja, namun ada makalah-makalah," pungkasnya

Disisi lain, Subaryo SH mengatakan, bahwa tentunya hal tersebut tak patut dilakukan seorang PR 1 yang semestinya melakukan pengawasan terkait hal-hal tersebut.

"Misalkan saja ada seorang mahasiswa saat ujian sengaja mencontoh atau ngrepek dan ketahuan pengawas, tentu dia sudah pasti dikeluarkan. Apalagi ini (plagiat) kan sudah jelas," pungkasnya


Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Top