Social Media

Share this page on:

Tommy yang Bodoh

25-07-2018 - 07:30
Thomas Alva Edison (Ist)
Thomas Alva Edison (Ist)

*dd nana

Ceu Imas penjual kopi tercantik di Desa Kopi Tubruk,  berusaha menahan sesuatu yang akan keluar. Jemari tangannya meremas-remas ujung bajunya. Dadanya turun naik,  mencoba untuk menahan hasrat yang sudah di ujung dan sebentar lagi meledak keluar. 

Parasnya yang bak Nissa Syaban,  kelak kalau berkepala tiga ini,  memerah. Ujung hidung bangirnya pun ikutan memerah. Walau beberapa kali kepalanya digelengkan,  ke kiri dan ke kanan, sesuatu yang dari tadi ditahan,  akhirnya sampai pada klimaksnya. 

Ceu Imas pun menangis. 

Sontak saja para pelanggan setianya yang sedari tadi bingung,  terkejut. Melihat Ceu Imas menangis sesenggukkan begitu rupa. Jari-jari tangan para pelanggan sudah gatal sebenarnya untuk menghapus butiran air mata yang keluar dari sepasang mata yang begitu indah milik Ceu Imas. 

Tapi apa daya. Mereka sadar jemari mereka terlalu kasar dan tentunya kotor untuk menghapus buliran air mata yang dengan lincah menggelincir di pipi mulus tanpa make-up nya Ceu Imas. 

Terpenting lagi,  kalau mereka nekad menghapus air mata itu,  maka bisa dipastikan Ceu Imas akan mengembargo mereka. Warkopnya ditutup dan para pelanggan tidak bisa lagi menikmati kopi racikannya. Yang sangat terpenting lagi,  mereka tidak bisa ngebon dan menikmati keindahan Tuhan yang berwujud Imas. 

Ceu Imas yang sadar,  dirinya diperhatikan para mata pelanggannya,  segera menghapus air matanya. Menenangkan dirinya,  walaupun tetap saja dadanya masih turun naik. Menahan rasa yang sejak tadi coba diredamnya. 

"Ceu punten,  kunaon atuh kok tiba-tiba nangis begitu sedih. Aya naon atuh ceu? (Muhun maaf tidak saya translate ya),  " tanya Ujang Mansyur,  pedagang perabotan keliling yang menetap sementara di Desa Kopi Tubruk. 

Sokib, Somad,  Sukro pun rebutan bertanya tentang hal yang sama. Yang sama-sama jawabannya dibiarkan tanpa jawaban. Ceu Imas masih berusaha meredakan dadanya yang masih saja turun naik,  turun naik. Gerakan yang membuat mata para pelanggannya juga ikutan turun naik. 

Sepeminuman teh (kalau pake sepeminuman kopi, percayalah bisa lama banget), akhirnya ceu Imas menjawab. Bukan dengan suaranya yang merdu,  tapi dengan mengangsurkan handphonenya. 

"Lo opo o ceu mbek handphone ne? Remek tah opo arep didol. Kok ditawano nang arek-arek iki, ," tako Subedjo yang baru saja datang ke warkop ceu Imas. 

Yang lainnya juga kebingungan dan saling toleh. "Tuh baca di handphoneku. Kalian kan heran toh kenapa saya tiba-tiba nangis?" ujar Imas sambil kembali menyodorkan handphone yang diterima Sokib. 

Sokib yang heran, akhirnya membaca tidak dalam hati. Tapi disuarakan dengan cengkok deklamasi. Sebuah pesan WA dengan judul,  "Tommy yang Bodoh". 

Kalimat pembuka dari pesan yang diterima ceu Imas,  seperti ini. "Di Ohio, Amerika Serikat pada tanggal 11 Februari 1847, lahir seorang anak yang dipanggil Tommy. Dia lahir dengan kemampuan biasa-biasa saja, tidak memiliki kecerdasan khusus seperti anak-anak lainnya. Bahkan,  di sekolahnya Tommy selalu mendapat nilai buruk. Tommy tidak mampu untuk mengikuti berbagai mata pelajaran yang diajarkan para gurunya. Dia adalah anak bodoh,  sehingga para guru memilih untuk ‘angkat tangan’ dalam usaha mendidik Tommy.

Pada suatu hari, guru sekolah Tommy memanggilnya dan memberikan sepucuk surat. Dengan pesan, "jangan buka surat ini di perjalanan, berikan kepada ibu mu, ” ucap sang guru dengan tegas. 

Tommy kecil dengan gembira membawa surat itu pulang dan memberikan kepada ibunya. "Ntar,  ntar ini Tommy siape sih di cerita ini. Tommy yang suka balapan mobil dan kini jadi ketua partai yak?" Tak. Suara jitakan sendok kopi tepat kena kepala Sukro yang bikin cerita terhenti. 

"Banyak tanya loe ah kro. Bikin rusak mood orang aja. Kib lanjut baca tuh cerita," ujar Imas ketus sambil mendelikkan mata bola pingpongnya. 

"Menerima surat itu, ibu Tommy membacanya, lalu menangis. Sambil berurai air mata, dia membaca surat itu dengan suara keras : “Putra Anda seorang jenius, sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cakap untuk mendidiknya. Agar anda mendidiknya sendiri,” baca sang Ibu dengan suara lantang. 

Ibu Tommy lalu berkata dengan lembut, “Kamu anak yang jenius nak, sekolah belum cukup baik untuk mendidik anak yang hebat seperti kamu. Mulai saat ini ibu yang akan mendidik kamu, ". 

Sejak itu Tommy menjalani pendidikan di rumah.  Di rumah dengan leluasa Edison kecil dapat membaca buku-buku ilmiah dewasa dan mulai mengadakan berbagai percobaan ilmiah sendiri. Tanpa harus memikirkan nilai-nilai pelajaran yang harus dicapainya. Rasa ingin tahunya yang luar biasa besar serta pantang menyerah. Di usia 12 tahun, Tommy kecil sudah memiliki laboratorium kimia kecil di ruang bawah tanah rumah ayahnya. Setahun kemudian dia berhasil membuat telegraf yang sekalipun bentuk dan modelnya sederhana dan primitif tapi sudah bisa berfungsi. 

Keasyikannya belajar dan bereksperimen,  tidak membuat tommy lupa untuk juga belajar berdagang. Di usia 12 tahun ia  bekerja sebagai penjual koran, buah-buahan dan gula-gula di kereta api. Kemudian ia menjadi operator telegraf. Berpindah dari satu kota ke kota lain. Di New York ia diminta untuk menjadi kepala mesin telegraf yang penting. Mesin-mesin itu mengirimkan berita bisnis ke seluruh perusahaan terkemuka di New York.

Pada tahun 1874 ia pindah ke Menlo Park, New Jersey. Disana ia membuat sebuah bengkel ilmiah yang besar dan yang pertama di dunia. Setelah itu ia banyak melakukan penemuan-penemuan yang penting. Pada tahun 1877 ia menemukan fonograf. 

Dalam tahun 1879 ia berhasil menemukan lampu listrik kemudian ia juga menemukan proyektor untuk film-film kecil. Tahun 1882 ia memasang lampu-lampu listrik di jalan-jalan dan rumah-rumah sejauh satu kilometer di kota New York. Hal ini adalah pertama kalinya di dunia lampu listrik dipakai di jalan-jalan. Pada tahun 1890, ia mendirikan perusahaan General Electric.

'Sakeudap punten. Teras nu ngajadikeun Ceu Imas nangis teh naon atuh? Maenya carita kitu bisa bikin ceurik. Abdi mah teu ngartos atuh ceu? " ceuk Ujang Mansyur bingungeun. 

"Sakedap atuh akang. Sok dibaca lagi terusan ceritanya kib," kata Imas. 

"Saat usia Tommy 32 tahun, dunia tidak lagi gelap gulita ketika malam hari. Tommy yang dianggap bodoh waktu kecil itu berhasil menciptakan bohlam lampu pijar, yang mengubah wajah dunia selamanya, " baca Sokib. 

Jauh setelah ibunya wafat dan Tommy telah menjadi orang yang dipandang dunia. Suatu hari di rumahnya dia melihat-lihat barang lama keluarga. Tiba-tiba dia melihat kertas surat terlipat di laci sebuah meja. Dia membuka dan membaca isinya: 

"Putra anda anak yang bodoh.. Kami tidak mengizinkan anak anda bersekolah lagi,” demikianlah isi surat yang sesungguhnya yang dibawa dan diberikan Tommy kepada ibunya, dahulu waktu sepulang sekolah saat dirinya kecil. Tommy menangis berjam-jam setelah membaca surat itu.

Dia kemudian menulis di buku Diary-nya:

"SAYA , THOMAS ALFA EDISON , ADALAH SEORANG ANAK YANG BODOH, YANG KARENA SEORANG IBU YANG LUAR BIASA, MAMPU MENJADI SEORANG JENIUS PADA ABAD KEHIDUPANNYA". 

Suasana warkop ceu Imas tetiba hening. Tetiba pula, sayup-sayup terdengar suara yang masuk pada telinga semua orang. "Ingatlah bahwa Kita BERHUTANG Bukan pada seorang Thomas Alfa Edison.., tetapi kepada seorang ibu yang melihat dengan cara yang berbeda. Cara dari mata kasih orangtua, ". 

Dada Imas kembali turun naik. Matanya mulai kembali berembun. Imas teringat ibunya yang telah lama mati. Teringat anak semata wayangnya yang kadang kerap dimarahinya. 

Suara yang sayup-sayup tanpa ada mulut itu kembali. "Jangan pernah mencap bodoh, lamban, nakal, serta kata-kata negatif pada anak. Jangan biarkan penilaian orang lain terhadap anakmu merampas kasih sayangmu. Jangan kau tak percaya pada anakmu. Temani dia untuk menjadi baik,  baik,  baik..ik..ik... ik, ". 

*Penikmat kopi lokal gratisan

*Sumber di olah. 

 




TAG'S

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Top