Social Media

Share this page on:

Udara Dingin Menusuk Tulang, Ternyata Ini Penyebabnya

06-08-2018 - 16:15
Ilustrasi kedinginan (Ist)
Ilustrasi kedinginan (Ist)

MALANGTIMES - Udara dingin yang melanda masyarakat Malang Raya sejak beberapa pekan lalu, terbilang ekstrim. Suhu udara yang menusuk tulang,  terutama saat menjelang sore sampai pagi harinya,  terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun lalunya.  

Hal ini sempat membuat masyarakat menduga-duga penyebab udara begitu dingin di bulan Juli sampai Agustus 2018 ini. Sampai menyeruak dugaan bahwa kondisi tersebut dipicu dengan adanya fenomena aphelion,  yaitu kondisi yang menunjukkan bumi berada di titik terjauh dari matahari. Sehingga  menyebabkan suhu bumi menjadi lebih dingin dan mencapai titik minimumnya.

iklan

Dugaan tersebut,  dibantah oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan bahwa dugaan yang sempat ramai di medsos tersebut adalah hoax. 

Kepala Bagian Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko menyatakan, kondisi yang kini melanda pulau Jawa pada khususnya,  disebabkan kandungan atmosfer yang sedikit atau berkurang. 

"Jadi kondisi cuaca dingin bukan karena fenomena aphelion. Tapi penurunan suhu di bulan Juli belakangan ini lebih dominan disebabkan  kandungan uap di atmosfer cukup sedikit," kata Hary seperti dilansir Kompas.com. 

Hary melanjutkan, rendahnya kandungan uap air ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa saat malam hari tidak tersimpan di atmosfer. "Selain hal tersebut, aliran massa dingin dari Australia juga berpengaruh terhadap cuaca di Indonesia," imbuhnya. 

Aliran perubahan suhu dari Australia serta kandungan atmosfer yang sedikit di musim kemarau,  telah membuat masyarakat rentan terhadap beberapa penyakit. 

Ada dua penyakit yang bisa timbul dalam kondisi cuaca dingin yang menusuk tulang ini. Satu, penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya serta rentan kambuh. Misalnya saja asma, pilek alergi, sinusitis serta alergi kulit karena udara dingin.  Penyakit lain yang bisa timbul langsung adalah kulit menjadi kering, kulit telapak kaki menjadi pecah-pecah, timbul pecah-pecah pada bibir dan kadang kala timbul mimisan.

Dr Ari Fahrial Syam, Dekan Fakultas Kedokteran UI memyampaikan,  jika paparan udara dingin terus berlangsung akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia). "Perubahan cuaca yang ekstrim ini akan berpengaruh pada daya tahan tubuh. Jadi lebih mudah terserang penyakit, infeksi, virus atau bakteri. Umumnya berupa infeksi saluran pernafasan atas," ujarnya. 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES


Top