Social Media

Share this page on:

Lestarikan Bahasa Jawa, SDN Punten 1 Rutin Gelar Sedinten Bahasa Jawi Lengkap dengan Kostumnya

09-08-2018 - 17:49
Salah satu guru saat mengajarkan nembang kepada pelajar di SDN Punten 1, Kamis (9/8/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Salah satu guru saat mengajarkan nembang kepada pelajar di SDN Punten 1, Kamis (9/8/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Sedinten Bahasa Jawi, itu merupakan kegiatan wajib yang diterapkan SDN Punten 1 setiap Kamis setiap bulannya seperti yang dilakukan Kamis (9/8/2018).

Program pembiasaan ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan budaya Jawa.

iklan

Kegiatan ini dilakukan sejak pukul 07.00-15.00 WIB. Pagi harinya pelajar sejumlah 409 anak itu dimulai dengan mendengarkan lagu dolanan sambil menari. Untuk hari ini lagu yang diputar adalah Perahu Layar dan Gethuk.

Sambil mendengarkan lagu, para pelajar itu juga harus melakukannya dengan menari. Jika mereka menari dengan bagus akan mendapatkan reward yakni kue.

“Kalau yang paling bagus dapat reward kue. Yang melanggar atau salah kostum dan tidak pakai harus membaca buku,” ungkap Kepala SDN Punten 01, Prihastutik.

Seluruh pelajar itu juga mengenakan kostum pakaian adat tradisional Jawa. Ada yang memakai pakaian kebaya dan batik mulai dari pelajar hingga guru.

Tidak ketinggalan, sesuai dengan program pembiasaan sedinten bahasa Jawi tentunya mereka juga berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. 

Selain mengikuti jam dan pembelajaran seperti hari biasanya, kali ini mereka bersenandung bersama di halaman sekolah. Mereka bersama-sama nembang menyanyikan lagu Pucung. 

Lalu mereka juga dengan bebas bermain permainan tradisional Jawa seperti egrang, congklak, cublak-cublak sueng dan sebagainya. 

Menurut perempuan yang akrab disapa Tutik ini adanya program pembiasaan Sedinten Bahasa Jawi untuk melestarikan budaya Jawa dan cinta budaya lokal. Agar muncul dampak mulai dari  sopan, santun, tatakrama makin meningkat. 

Porgram ini untuk sedinten sejak 2015 belum memakai kebaya. Dengan memakai pakaian sejak tahun 2017 dan dikembangkan permaianan jawa egrang, congklak, cublak-cublak sueng. 

“Karena jika tidak diajarkan sejak dini akan hilang kebiasan tatakrama yang bagus. Dengan program ini agar anak-anak lebih cinta budaya nusantara khususnya Jawa,” imbuhnya. 

Ia menambahkan jika kegiatan program pembiasaan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 2015 silam.

Tetapi baru tahun 2017 ada pembiasaan untuk menggunakan pakaian tradisional agar mengenal lebih dekat lagi dengan pakaian tradisional.

Dengan adanya program ini, tentunya memberikan perubahan kepada pelajar tidak hanya di sekolah tetapi juga di kalangan masyarakat. 

“Perubahan banyak, walaupun secara bertahap. Seperti sulit berbahasa Jawa sekarang mulai bisa. Sementara jika bicara dengan teman banyak yang pakai bahasa ngoko, kalau ke bapak ibu guru dengan bahasa jawa madya,” kata Tutik kepada BatuTIMES.

Sementara itu, Ardike Yurri Pitra Prastyo siswa kelas IV menjelaskan sangat sedang dengan hari Sedinten Bahasa Jawi. Sebab ia bisa belajar dan menerapkan percakapan dengan teman dan guru menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar.

“Senang, sambil pakai baju pakaian adat khas Jawa saya bisa ngobrol sama teman dan guru pakai bahasa Jawa. Sekalian latihan supaya lancar berbahasa Jawa,” ujar Ardike.


Pewarta : Irsya Richa
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Batu TIMES (Jatim TIMES Network)


Top