Social Media

Share this page on:

Puncak Peringatan Hari Lansia Nasional, Yayasan Gerontologi Abiyasa Ajak Lansia Tetap Bahagia

09-08-2018 - 18:29
Para anggota YGA yang bersiap untuk merayakan puncak peringatan HLUN 11 Agustus mendatang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Para anggota YGA yang bersiap untuk merayakan puncak peringatan HLUN 11 Agustus mendatang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menyemarakkan puncak Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-22 pada 11 Agustus 2018 di Kota Malang, Yayasan Gerontologi Abiyasa (YGA) Jawa Timur dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang terus mendorong para Lansia untuk tetap bahagia, mandiri dan produktif.

Ketua YGA Jawa Timur, Prof Dr dr H Djanggan Sargowo, Sp.PD, Sp.JP(K), FIHA, FACC mengungkapkan saat ini lansia diharapkan jangan lagi menjadi beban atau merepotkan keluarga mereka.

iklan

Sebagai penduduk senior, para lansia memiliki kebijakan serta kearifan yang lebih.

Pengalaman yang tentu banyak dapat dijadikan teladan bagi para generasi penerus dalam menentukan arah hidup dan pembangunan nasional.

Untuk itu YGA akan berupaya melakukan gerakan atau upaya membuat para Lansia selalu bahagia, mandiri dan terus produktif.

"Dari data tahun 2018, lansia di Jatim 10,40 persen lebih banyak dari Jawa Tengah atau Yogjakarta. Ini tentu harus diupayakan untuk mengurangi angka rasio ketergantungan sebesar 11,90 persen," jelasnya.

Masalah yang muncul dari lansia terkait produktivitas kerja karena lulusan lansia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, terbesar adalah lulusan SD dengan prosentase sekitar 26,84 persen. Sedangkan mereka yang tidak tamat SD sebesar 32,32 persen, perguruan tinggi hanya sebesar 3,4 persen.

"Inilah yang harus kita balik. Kita dorong para lansia yang menurut Departemen Kesehatan (Depkes) berumur 60 tahun ke atas untuk terus belajar, entah itu mengambil paket C atau kuliah. Namun itu memamg sulit. Tapi di YGA ada departemen pendidikan yang akan membantu mereka belajar," bebernya.

Dengan begitu, peningkatan pendidikan, pembelajaran dan pelatihan setidaknya juga bisa berdampak pada ekonomi.

Misalnya, jika mereka yang lulus perguruan tinggi, tentunya bisa mengajar entah itu menjadi dosen atau guru.

"Namun tak hanya itu, untuk membantu permasalahan ekonomi, akan diajarkan dan diberikan pelatihan-pelatihan yang tentu bermanfaat untuk para lansia seperti menghasilkan karya atau produk yang bisa dijual," terangnya.

Selain itu masalah lainnya adalah penyakit, 
banyak laporan menurut data, bahwa lansia banyak menderita penyakit terkait infeksi, kedua penyakit tulang dan penyakit diabet maupun stroke. Namun angka kematian yang banyak menyumbang adalah penyakit jantung dan stroke.

"Makanya YGA juga memperhatikan bagaimana kesehatan para lansia. YGA banyak mengimbau agar pola hidup maupun pola makan harus dalam porsi yang cukup sehat, jangan makan terlalu banyak. Setiap sebulan sekali, mereka juga kami harapkan datang ke Posyandu Lansia yang ada. Semua akan saya berikan doktrin sehat," bebernya.

Selain itu, YGA juga mempunyai mimpi untuk mewujudkan Griya Karangweda. Yakni Griya yang bisa menampung para lansia yang terlantar agar bisa hidup lebih baik lagi. 

"Misalkan kita diberi lahan sekitar lima hektar, akan dibangun tempat tinggal untuk mereka tinggal dengan banyak fasilitas jogging. Nanti di sana pun akan ada pemakaman bagi lansia," terangnya.

Terakhir dikatakannya, penting bagi semua orang untuk menyadari bahwa nantinya pasti tua menjadi lansia, dan itu tidak bisa dihindari.

Maka dari itu, perlu upaya untuk menghadirkan dunia yang layak bagi semua lansia. 

Dengan kematangan pola hidup, harus disiapkan dunia yang layak, yang bisa menjamin ketika nantinya menjadi lansia, agar tetap bisa sehat, bahagia, mandiri, produktif yang berperan dalam melakukan pembangunan dan bukan menjadi beban pembangunan.


Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES

Top