Social Media

Share this page on:

Pondok Pesantren Rajut Asa Pecandu Narkoba (1)

Penjara Tak Buat Jera, Pecandu Narkoba Insaf di Pondok Pesantren

20-08-2018 - 17:24
Mantan pecandu narkoba yang nyantri di Ponpes Bahrul Maghfiroh Malang (foto: Yogi Iqbal/MalangTIMES)
Mantan pecandu narkoba yang nyantri di Ponpes Bahrul Maghfiroh Malang (foto: Yogi Iqbal/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Februari lalu, Komjen Budi Waseso (Buwas) yang saat itu masih menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), hadir di sebuah acara yang digelar di Gampong Agusen Kecamatan Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues Aceh. Buwas mengungkap dari hasil survei di 17 provinsi jumlah pengguna narkoba di Indonesia capai 6,4 juta orang. Peredaran narkoba, sebut Buwas, sudah masuk hingga pelosok kampung. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya ada kenaikan. Di 2017, BNN sebut ada 3,5 juta orang penyalahguna narkoba. 

Candu narkoba tak pandang bulu. Artis Jennifer Dunn tergiur mencicipi narkoba karena ingin menghilangkan rasa lelah karena pekerjaan di dunia entertainment. "Jennifer Dunn mengaku mengkonsumsi narkoba untuk menghilangkan rasa capek setelah seharian syuting. Mungkin juga untuk menenangkan diri," ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono (2/1/2018).

Di Jawa Timur, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) menyebut 20 persen pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa. Data tahun 2017 itu pun menunjukkan bahwa pengguna narkoba di Jawa Timur menempati posisi kedua setelah Jawa Barat. Di Jawa Timur, jumlah pengguna lebih dari 900 ribu orang yang didominasi usia produktif yakni 15 hingga 35 tahun. 

Pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba diberikan bantuan rehabilitasi. Hal ini sesuai dengan aturan yang tertera dalam Peraturan Bersama tentang Penanganan Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika ke Dalam Lembaga Rehabilitasi diterbitkan pada tahun 2014. Bantuan rehabilitasi juga tertuang dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2011. 

Sayang, jumlah lembaga rehabilitasi tak sebanding dengan jumlah pengguna narkotika yang kian hari bertambah. Tahun 2016, Kementerian Sosial menyebut ada 40 lembaga rehabilitasi dan baru 6000 pengguna yang mendapatkan layanan rehabilitasi. Lembaga rehabilitasi milik BNN salah satunya ada di Lido, Bogor. Dalam sehari sekitar 300 hingga 400 pengguna keluar masuk. 

Meski minim dari segi fasilitas, BNN terus berupaya melakukan rehabilitasi. Tahun 2018 BNN telah merehabilitasi 18.311 penyalahguna narkoba dan memberikan pelayanan paska rehab kepada 7.329 orang. "Kita juga diskusi dengan dirjen Lembaga Permasyarakatan (Lapas) kalau ada oknum pegawai yang pengguna bisa ditampung di sana," ujar Kepala BNN Heru Winarko, sebagaimana dikutip dari Kompas (12/7/2018).

Dalam prosedur rehabilitasi, seorang pecandu tidak bisa langsung mendapatkan rehabilitasi. Pengguna terlebih dahulu melewati proses assessment medis dan sosial. BNN, sebagaimana dikutip dari Detik, menjelaskan proses assessment bagi pengguna yang tertangkap aparat dan proses hukum berlanjut berbeda dengan yang datang dengan suka rela. Assessment bagi pengguna yang tertangkap aparat didampingi penyidik dari Polri dan BNN. 

Selain penanganan pecandu dilakukan melalui jalur rehabilitasi, fakta mengungkap masih banyak yang dijebloskan ke dalam jeruji. Tahun 2016, berdasarkan data penelitian ICJR (Institute for Criminal Justice Reform), EJA (Empowerment and Justice Action), dan Rumah Cemara di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dakwaan tertinggi yang dijatuhkan kepada pengguna dan pecandu narkotika adalah pasal-pasal dengan label "bandar" karena memiliki dan menyimpan serta menguasai narkotika.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa 61 persen dakwaan yang diajukan jaksa pada pengguna dan pecandu narkotika adalah dengan jeratan pasal 111 dan 112 UU Narkotika dengan ancaman pidana minimal 4 tahun dan maksimal 12 tahun. Pasal-pasal tersebut otomatis mengkategorikan pengguna dan pecandu sebagai "bandar" bukan pengguna. Data di PN Surabaya menunjukkan bahwa 94 persen pengguna dan pecandu narkotika dijatuhi pidana penjara. 


Apakah hukuman penjara dan rehabilitasi efektif membuat pecandu narkotika insaf? 

Psikiater Universitas Indonesia, Dadang Hawari menyebut penyembuhan spiritual bagi pecandu narkotika adalah cara efektif. Di panti rehabilitasi Madani Jakarta Timur yang ia kelola, Dadang menyediakan konselor agama untuk mendampingi pecandu. "Kami mencoba mendekatkan pasien dengan Yang Maha Kuasa. Mereka kami dorong beribadah sesuai agamanya masing-masing," kata dia sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia. 

Dadang menilai sebagian besar warga Indonesia merupakan orang beragama. Karenanya aspek spiritual tidak bisa dihilangkan dari metode rehabilitasi pecandu narkoba. Pendapat psikiater Dadang Hawari agaknya ada benarnya, sebab MalangTIMES menemukan pecandu narkotika lepas dari jeratan narkotika bukan di penjara tetapi justru di pondok pesantren. 

Dinginnya jeruji besi sudah dirasakan seorang pemuda bernama EJ. Selama setahun, EJ dihukum di Lembaga Permasyarakatan Mataram. Pria 24 tahun itu mengungkap shabu-shabu dan ganja menjadi bagian dari hidupnya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). 

Setahun jalani hukuman penjara, EJ mengaku masih menjadi pecandu. Candu narkoba baru lepas setelah ia pergi ke sebuah pondok pesantren di Malang. "Saya di sini merasa bebas nyaman. Lebih tenang. Dulu meski dihukum saya keluar tetap memakai. Bahkan pernah sampai overdosis dan dirawat di rumah sakit," kata dia kepada MalangTIMES. 

Kami menemui EJ di Pesantren Bahrul Maghfiroh. Pondok pesantren ini terletak di Jalan Joyo Agung Tlogomas Kota Malang. Lokasi pondok tidak jauh dari pusat kota. Di sana disiapkan sebuah areal khusus bagi pecandu narkoba. Berdiri di lahan seluas 1,5 hektare tempat rehabilitasi narkoba di Bahrul Maghfiroh dapat menampung hingga 100 orang. Areal bagi pecandu narkoba di ponpes ini dibuka sejak Juni 2015 silam. 

Dari pecandu narkoba, EJ dan ratusan orang berubah menjadi santri. Keseharian mereka tak ubahnya santri biasa. Dan ada satu metode yang membuat hidup EJ berubah. Dari situlah ia bersungguh-sungguh berhenti memakai narkoba hingga akhirnya merasakan ketenangan jiwa.

Simak kisah demi kisah kehidupan insafnya para pecandu narkoba di pondok pesantren pada ulasan kami selanjutnya. (*)


Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES

Top