Social Media

Share this page on:

Sekitar 200 Debt Collector di Kabupaten Malang Jadi Incaran, Ada Apa?

07-09-2018 - 21:22
Foto Ilustrasi (Kartu bank)
Foto Ilustrasi (Kartu bank)

MALANGTIMES - Awal bulan September, seolah menjadi masa sulit debt collector. Bagaimana tidak, dalam sepekan dua kejadian penganiayaan dialami para penagih hutang tersebut. Terbaru, Achmad Subahtiar Amirulloh salah satu pekerja debt collector jadi sasaran amukan warga.

Humas Polres Malang Ipda Eka Yuliandri Aska mengatakan, kronologi bermula ketika korban dan dua orang teman seprofesi berkunjung ke rumah Kadis, warga Desa Gunung Rejo Kecamatan Singosari bulan Mei lalu. Tujuan mereka adalah menagih tunggakan sepeda motor yang belum dibayar selama delapan bulan.

iklan

Mengetahui hal ini, pelaku mempersilahkan ketiga debt collector tersebut masuk kedalam rumah. “Di tengah negosiasi, Subahtiar hendak menarik sepeda motor pelaku yang lama tidak diangsur, sebagai jaminan,” terang Aska kepada Malang TIMES jumat (7/9/2018).

Mengetahui itikat tersebut, Rohim saudara kandung Kadis, tidak terima dan mendobrak meja. Suasana seketika menjadi tegang, Kadis yang sudah naik pitam menghajar korban menggunakan pipa besi dengan panjang sekitar satu meter. Mendapatkan kekerasan, korban berupaya kabur dengan dibantu kedua teman seprofesinya.

Mengetahui hal ini, Rohim dan saudara yang lain Sumari mengancam dengan menggunakan golok. Pertikaian antara tiga bersaudara dengan debt collector ini baru mereda ketika warga sekitar melerai kedua kubu. Tiga bersaudara tersebut akhirnya diamankan diamankan polisi Kamis (6/9/2018). “Dari hasil visum menunjukkan adanya penganiayaan, sehingga ketiga pelaku kami amankan,” tutur Aska.

Menanggapi hal ini, Kasatreskrim Polres Malang AKP Adrian Wimbarda mengaku bakal mengambil tindakan. Pasalnya, keberadaan debt collector memang sering meresahkan warga. Alhasil, kekerasan sering dialami pelaku penagih hutang tersebut. Ketika ditanya apa langkah kongkritnya, Adrian mengaku bakal melakukan pembinaan terhadap Debt Collector. Maklum saja, kebanyakan dari mereka kurang memahami dasar hukum dan suka bertindak semaunya sendiri. 

Adrian menambahkan, biasanya warga merasa kesal lantaran kendaraan miliknya disita debt collector secara sepihak. Sedangkan pekerja penagih hutang menganggap dirinya benar dan memiliki surat penugasan dari instansi perusahaan tempat mereka bekerja.

Padahal secara hukum apa yang dilakukan tersebut merupakan aksi Fidusia. Yakni pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Jadi warga yang kredit kendaraan misalnya, tetap berhak atas hak kebendaan dan tidak bisa diambil secara paksa tanpa jalur hukum.

“Saya tidak tahu jumlah pastinya, namun dari data yang kami himpun ada sekitar 200 debt collector yang ada di daerah Kabupaten Malang. Kemungkinan mereka bakal kita bina,” tegas Adrian.


Pewarta : Ashaq Lupito
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
Sumber : Malang TIMES


Top