Social Media

Share this page on:

Selfie Bikin Merugi, Petani di Kota Batu Tak Lagi Layani Wisata Petik Bunga

11-09-2018 - 17:25
Salah satu kebun bunga peacock di kawasan Desa Bumiaji, Kota Batu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Salah satu kebun bunga peacock di kawasan Desa Bumiaji, Kota Batu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu kini tak lagi bisa menikmati wisata petik bunga. Sebab sebagian petani merugi akibat bunga potong yang ditanam rusak ketika para pengunjung tengah asyik berfoto diri alias selfie.

Seperti pengakuan Didik, salah satu petani bunga di Desa Bumiaji, Kota Batu. Menurut Didik, wisata petik bunga sebelumnya sempat digalakkan sekitar tiga tahun terakhir. "Saat ini petani-petani nggak berani buka petik bunga, karena risiko rusaknya lebih besar," ujarnya.

Petani bunga krisan dan bunga peacock itu mengaku, sebelumnya program petik bunga sempat dirancang layaknya paket wisata lain. Seperti yang marak di sekitar Kota Batu yakni petik apel, petik strowberry maupun petik jeruk. "Dulu gapoktan mau bikin kayak petik apel itu, malah nggak dapat hasil," sebutnya.

Didik mengungkapkan, wisata petik bunga memiliki potensi rusak yang lebih besar. Terutama karena bebungaan sendiri cenderung rapuh dan rentan patah ketika terlalu banyak dipegang orang. "Apalagi ketika mereka masuk ke kebun, kalau sudah pegang handphone terus selfie, nggak kelihatan tiba-tiba bunganya sudah roboh semua," urainya.

Dulunya, wisata petik bunga itu dibanderol sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu untuk tiket masuk. "Selain foto-foto sebenarnya mereka juga dapat bunga. Bisa petik sendiri. Tapi sekali ada yang datang, lebih banyak yang rusak dan tidak bisa dijual lagi. Akhirnya di Bumiaji ini nggak ada yang buka petik bunga lagi," terangnya.

Saat ini, para petani kembali pada kebiasaan sebelumnya yakni menanam untuk dijual atau dikirim keluar daerah. Menurut Didik, selama ini hasil kebunnya banyak dikirim ke wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Lombok, Kalimantan, hingga Sumatera. "Di Jawa kita nggak bisa kirim ke Jawa Barat karena di sana ada Bandung dan Bogor yang juga pusat bunga. Meski secara kualitas, bunga dari Batu ini banyak dicari," urainya.

Harga jual bunga, lanjutnya, juga relatif stabil dengan masa tanam yang pendek. Untuk bunga krisan, sekali tanam biasanya langsung dipanen setelah berbunga pada bulan ketiga penanaman. Bunga krisan dihargai Rp 900 per tangkai. Sementara untuk bunga peacock dihargai Rp 7 ribu per ikat di tingkat petani. "Kalau prospek bunga masih relatif bagus dan stabil. Untuk bunga peacock ini relatif lebih mudah dirawat, satu kali tanam bisa sampai empat kali panen," pungkasnya.


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher :


Top