Social Media

Share this page on:

Kakatua "Raksasa" Protes Wacana Revisi Aturan Perlindungan Satwa

14-09-2018 - 12:50
Aksi teatrikal penggagalan penyelundupan satwa dilindungi dalam rangkaian peringatan Hari Kakatua Indonesia di depan Balai Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Aksi teatrikal penggagalan penyelundupan satwa dilindungi dalam rangkaian peringatan Hari Kakatua Indonesia di depan Balai Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Aksi teatrikal digelar sejumlah aktivis peduli satwa dalam rangkaian peringatan Hari Kakatua Indonesia (HKI). Unjuk rasa yang berlangsung di depan Balai Kota Malang hari ini (14/9/2018) tersebut merupakan bentuk penolakan atas wacara revisi aturan perlindungan satwa. 

Dalam aksi tersebut, replika-replika kakatua berukuran 'raksasa' tampil dalam sebuah teatrikal yang menggambarkan kekejaman penyelundupan satwa ilegal. Tampak dua ekor burung kakatua dalam konsisi terikat dengan menggunakan tali tampar.

iklan

Burung-burung langka itu dimasukkan ke dalam kantong berwarna hitam. Rencananya, mereka akan diselundupkan keluar Indonesia. Kondisi burung itu pun terlihat cukup memprihatinkan. Namun, aksi penyelundupan tersebut  berhasil digagalkan.

Aksi kampanye yang digelar oleh organisasi perlindungan hutan dan satwa liar PROFAUNA Indonesia untuk memperingati Hari Kakatua Indonesia (HKI) yang jatuh pada tanggal 16 September. Aksi damai tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut menyelamatkan populasi burung yang mempunyai nama latin Cacatua moluccensis itu. 

"Salah satu ancaman serius bagi kelestarian kakatua adalah perdagangan ilegal," ujar juru kampanye Profauna Indonesia Afrizal Abdi. Dia mencontohkan, bukti masih maraknya perdagangan ilegal burung kakatua yakni upaya penyelundupan 38 ekor kakatua di Riau. Burung-burung itu hendak dikirim ke Singapura. Namun, pada 4 September 2018 berhasil digagalkan oleh Kepolisian Resort Indragiri Hilir, Riau.

Afrizal menyebut, dalam kampanye unik yang menunjukan kejamnya penyelundupan burung itu, Profauna juga menyatakan dukungannya terhadap Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2018.

Peraturan No 20 tersebut memuat 921 jenis tumbuhan dan satwa liar dan menggantikan lampiran Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.  Jenis satwa yang banyak masuk daftar dilindungi dalam peraturan ini salah satunya adalah burung nuri dan kakatua.

Saat ini, dari 89 jenis kakatua dan nuri di Indonesia, 88 jenis sudah ditetapkan menjadi satwa dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 20 Tahun 2018. "Jenis-jenis yang dulunya tidak dilindungi misalnya kakatua putih (Cacatua alba) kini mendapat kepastian hukum, sehingga perdagangan dan penangkapannya dilarang," ujarnya.

"Karena sudah ada dasar hukumnya, maka penangkapan dan perdagangan 88 jenis burung kakatua dan nuri dilarang. Termasuk bagi yang memelihara di rumah tanpa izin, bisa dikenakan hukuman penjara," kata Afrizal.

Menurut UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perburuan, perdagangan atau pemeliharaan satwa dilindungi secara ilegal bisa diancam hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Ironisnya, lanjut Afrizal, dua bulan pasca disahkan, pemerintah punya wacana akan merevisi satwa-satwa dilindungi yang sudah tercantum di Peraturan Menteri LHK No 20. Revisi tersebut nantinya akan mengeluarkan tiga spesies burung yang ada dalam daftar dilindungi, antara lain jalak suren (Gracupica Jalla), cica daun besar (Chloropsis Sonnerati), dan cucak awa (Pycnonotus Zeylanicus).

"Yang miris adalah alasan dari ketiga satwa itu dikeluarkan karena adanya tekanan dari sekelompok masyarakat yang berada di sekitar pusaran bisnis perdagangan burung," urainya. Hal tersebut menurutnya merupakan kemunduran sekaligus ancaman bagi dunia konservasi satwa. "Karena, bisa saja mereka menuntut jenis-jenis lain termasuk kakatua dan nuri yang banyak diminati penghobi burung untuk dianulir dan dikeluarkan dari daftar satwa dilindungi," tukas Afrizal.(*)


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
Sumber : Malang TIMES


Top