Social Media

Share this page on:

Brutal, Prajurit Congkel Mata dan Potong Jemari Putra Madura

24-09-2018 - 08:32
Pahlawan Nasional M Sroedji (Ist)
Pahlawan Nasional M Sroedji (Ist)

MALANGTIMES - Banyak kisah brutal atas perlakuan militer Belanda yang diperlihatkan kepada rakyat Indonesia dalam revolusi kemerdekaan. Salah satunya yang terjadi terhadap putra asli Bangkalan,  Madura,  bernama Moch. Sroedji.

Sroedji adalah seorang pejuang pemberani yang kerap dijadikan musuh nomor satu KL (Tentara Kerajaan Belanda), KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda), dan Legiun Tjakra (milisi pribumi yang terdiri dari orang-orang Madura).  

Dalam suatu pertempuran tidak seimbang tahun 1949 di Karang Kedaung, Jember, Sroedji yang bertempur sampai titik darah penghabisan meregang nyawa dan akhirnya tewas. Timah panas peluru militer Belanda menghunjam tubuhnya. 

Karena rasa gusar,  jengkel, marah gara-gara tidak bisa menahan Sroedji hidup-hidup, prajurit KNIL membawa jasadnya ke halaman hotel Jember. Di sanalah tindakan brutal prajurit KNIL dipertontonkan di hadapan khalayak ramai. Secara demonstratif,  jasad Sroedji yang dilahirkan pada 1 Februari 1915 dari pasangan  H Hasan dan  Hj Amni Sroedji dicungkil kedua bola matanya. Selain itu, prajurit tersebut memotong sebagian jari-jemarinya. 

Sroedji, yang saat itu berpangkat letnan kolonel dan memimpin Brigade III Damarwulan sebelum gugur di pertempuran tersebut, menurut sejarawan Irna H.N. Hadi Soewito, mendapatkan laporan atas kedatangan pasukan Belanda bersenjata lengkap. Alih-alih menghindar atau meminta diamankan kepada para pengawalnya, Sroedji memerintahkan untuk melawan kedatangan  Batalyon KNIL Infanteri Ke-23 pimpinan Letnan Kolonel J.H.J. Brendgen dan Legiun Tjakra. Bahkan dirinya secara langsung memimpin dan berada di barisan terdepan dalam pertempuran tersebut. 

"Ada 22 pertempuran hebat yang dilakukan dan Pak Sroedji selalu berada di depan memimpin pasukannya. Saat mereka ditarik ke Kediri dan Blitar, menyusul berlakunya kesepakatan Perundingan Renville pada 17 Januari 1948," tulis Irna. 

Kesepakatan Renville ternyata dicederai Belanda sendiri. Hal ini yang membuat  Jenderal Soedirman mengeluarkan Perintah Siasat No 1 yang memberikan instruksi kepada Sroedji dan pasukannya untuk kembali ke Jember dan mengadakan perlawanan semesta terhadap militer Belanda.

Maka bergeraklah Brigade III Damarwulan dari Kediri dan Blitar dengan melewati pegunungan sempit di sebelah selatan Gunung Semeru yang masih berhutan lebat. Melalui Lodoyo, Binangun, Bantur, Sumbermanjing, Tempursari hingga mencapai Lumajang bagian selatan.

Dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid IX yang dituturkan Kolonel A.H. Nasution tahun 1948, terjadi percakapan. 

“Apakah segala sesuatu untuk memulai gerakan sudah beres?” tanya Kolonel Nasution.

“Sudah beres, hanya…”jawab Letkol Sroedji tanpa melanjutkan laporannya kepada sang atasan. 

Nasution mafhum dengan jawaban yang tidak selesai tersebut. Walau mental dan semangat berjuang tidak pernah mati dari para prajurit TNI kala itu, Nasution tidak menutup mata dengan berbagai kesulitan yang menimpa pasukannya. Kekurangan logistik dan  amunisi telah menjadi masalah biasa di dalam suatu pasukan yang tergabung dalam TNI kala itu.

Berangkatlah Sroedji bersama pasukannya menuju Jember. Dalam berbagai kesulitan yang melanda,  mereka kerap bertempur dengan pasukan Belanda serta selalu lolos dari sergapan Belanda. Sampai akhirnya tahun 1949, pasukan Sroedji dikepung di Karang Kedaung, Jember. Dalam pertempuran tersebut, sebutir peluru menghantam pundak kirinya. 

“Kur! Saya kena!” teriak Sroedji sembari memanggil salah satu pengawalnya yang bernama M. Abdul Syukur. Pengawalnya langsung memapah Sroedji ke sebuah parit. Satu per satu pasukan Brigade III Damarwulan berjatuhan. Melihat hal tersebut, walau terluka kena tembakan, Sroedji kembali bangkit dan mengamuk bagai banteng ketaton terluka. 

“Mati boleh dhah! Mati bagus dhah! Belanda bakero!” terianya sembari menembakkan peluru ke arah pasukan Belanda. 

Dikepung satu kompi Batalyon Infanteri Ke-23 pimpinan Kapten F.G. Schelten, tidak membuat Sroedji menyerah. Walau luka parah, lelaki dari Madura ini terus melawan sampai titik darah penghabisan. 

“Saya mendapat laporan, komandan Brigade III Damarwulan masih melakukan perlawanan dengan tinjunya saat dia sadar pelurunya sudah habis,” ungkap A.H. Nasution dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid X. (*)

 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher :


Top