Social Media

Share this page on:

Guru Bahasa Jepang di Sulawesi Disiksa dan Ditembak Mati, Pejabatnya Diam Saja

25-09-2018 - 07:42
Robert Wolter Mongisidi (tengah) diapit duabrekan seperjuangannya (koleksi foto keluarga MA Kamah)
Robert Wolter Mongisidi (tengah) diapit duabrekan seperjuangannya (koleksi foto keluarga MA Kamah)

MALANGTIMES - ”Dengan bantuan Tuhan, aku menjalani hukuman mati ini. Aku tidak mempunyai rasa dendam kepada siapa pun. Juga tidak kepada mereka yang menjatuhkan hukuman mati ini. Tetapi aku yakin, segala pengorbanan, air mata dan darah para pemuda kita akan menjadi pedoman yang kuat untuk tanah air Indonesia yang kita cintai ini.”

Begitulah pesan Bote, sang Harimau Malalayang (sekarang bagian dari Manado,  red) kepada rekan-rekan seperjuangannya. Pesan kuat atas tekadnya terhadap perjuangan melepaskan kuku penjajah Belanda walau Bote -sapaan akrab Robert Wolter Mongisidi- setelah ditangkap Belanda tahun 1949 mengalami penyiksaan hebat sebelum dirinya dieksekusi tim penembak. 

Dalam peristiwa tersebut, Bote yang dipaksa untuk membocorkan berbagai perlawanan bungkam seribu bahasa. Bahkan, dirinya saat menjelang eksekusi mati, tidak terlontar sepatah kata pun untuk meminta pertolongan kepada para pejabat NIT (Negara Indonesia Timur) yang dibelanya.

Padahal, menurut Maulwi Saelan, pejuang kemerdekaan asal Sulawesi Selatan yang merupakan sahabat Bote, seperti dilansir dari berbagai informasi dan buku sejarah, nyawa Bote  masih bisa diselamatkan andaikan para pejabat NIT memohonkan amnesti kepada Ratu Juliana di Den Haag.

“Bagi para pejabat NIT, Bote tak lebih sebagai penjahat biasa yang harus dienyahkan. Mereka tak lebih sebagai negara bonekanya Belanda," ucap Saelan. 

Lantas apakah yang membuat Belanda serta para pejabat NIT waktu itu begitu geramnya kepada sang Harimau Malalayang yang awalnya merupakan guru bahasa Jepang tersebut sehingga Belanda begitu mengincar untuk menangkap,  menyiksa, dan akhirnya menembak mati?

Dalam buku Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66, Bote menjadi musuh utama Belanda karena sepak terjangnya yang tidak kenal takut dan pantang mundur dalam peperangan.  Setelah melepaskan jabatannya sebagai guru,  tahun 1946, Mongisidi dengan Ranggong Daeng Romo dan lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Bote pun ditunjuk sebagai komandan kelompok Harimau Indonesia yang merupakan bagian dari LAPRIS. 

Laskar Harimau inilah yang kerap membuat berbagai aksi penyerangan nekat dan tidak kenal takut. Sehingga membuat pihak militer Belanda di Makassar kalang kabut setiap kali berhadapan dengan Bote dan pasukannya. 

Bahkan,  tahun 1947, dalam pertempuran besar di wilayah Kasi-Kasi, pasukan LAPRIS dihajar berondongan peluru yang menyebabkan banyak pejuang gugur dan luka-luka. Banyak pejuang mundur ke garis belakang. 

"Namun alih-alih ikut mundur,  Bote dan pasukannya  malah menyelinap masuk kota. Tujuannya memukul kembali musuh dan membunuh para serdadunya sebanyak mungkin untuk membalas kekalahan yang diderita,” ungkap Saelan.  

Tidak hanya berhenti di situ. Sang Harimau Malalayang juga pernah seorang diri merebut sebuah jip Belanda untuk menyerang markasnya. Secara berani, Bote mengendarai jip tersebut dan memberondongkan pelurunya ke serdadu Belanda. 

"Banyak serdadu Belanda yang tewas dan luka-luka atas aksi Bote itu. Berbagai aksinya itu yang membuat intelijen Belanda terus-menerus memburu dan mengamati sepak terjangnya," ujar Saelan. 

Perjuangan Bote untuk menegakkan kedaulatan Indonesia dengan bertaruh nyawa dalam setiap aksinya tersebut ternyata bertepuk sebelah tangan dengan para pejabat NIT waktu itu. Bagi mereka,  Bote adalah kriminal. “Dia dipersalahkan telah melakukan pembunuhan dan aksi teror sepanjang zaman bersiap,” ujar A.H. Nasution dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid X.

Pengadilan atas Bote menjadi bukti bahwa perjuangannya untuk tanah air ternyata dibalas dengan perlakuan tidak patut dari para pejabat NIT. Sehingga hakim  B. Damen meluluskan tuntutan tim oditur militer untuk memberikan vonis mati kepada pemuda kelahiran Malalayang, Sulawesi Utara, pada 14 Februari 1925 tersebut.

Begitu vonis mati ditetapkan, seluruh tokoh masyarakat,  partai politik,  sanak keluarga dan kawan-kawan Bote  meminta  keringanan hukuman kepada pemerintah NIT. Tapi,  permohonan tersebut kandas dan ditolaknya.  Presiden Tjokorde Soekawati, Perdana Menteri Anak Agung Gde Agung, maupun Menteri Kehakiman NIT Dr Soumokil menolak mentah-mentah permohonan tersebut. Mereka sepenuhnya menganggap kasus Bote tak lebih sebagai kasus kriminal biasa.  

Pemerintah Republik Indonesia pun menyesalkan keputusan NIT. Hukuman mati tersebut dianggap menodai semangat persetujuan politik yang justru harus melenyapkan rasa dendam di kedua pihak.

“Seolah-olah mereka mengabaikan begitu saja perundingan yang sedang berlangsung mengenai pembebasan para pejuang yang mereka tahan, yang telah sama-sama disetujui akan dilepaskan selekas mungkin,” ucap Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid XI. 

Harimau tetaplah harimau. Walau dirinya dikhianati pemerintahan sendiri yang dibelanya dengan nyawa, Bote yakin dengan sikapnya yang tidak membocorkan berbagai informasi kepada Belanda. Bahkan, sang Harimau Malalayang ini pun tidak menaruh dendam atas perlakuan tersebut. 

”Dengan bantuan Tuhan, aku menjalani hukuman mati ini. Aku tidak mempunyai rasa dendam kepada siapapun, juga tidak kepada mereka yang menjatuhkan hukuman mati ini. Tetapi aku yakin, segala pengorbanan, air mata dan darah para pemuda kita akan menjadi pedoman yang kuat untuk tanah air Indonesia yang kita cintai ini.” Begitulah pesan terakhirnya. (*)

 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher :


Top