Social Media

Share this page on:

Bocah Autis Dipaksa Mengundurkan Diri dari Sekolah (1)

Anak Penyandang Autisme 'Dipaksa' Mengundurkan Diri dari SDK Santa Maria 2 Kota Malang

04-10-2018 - 19:34
Verell Reuben Senjaya dengan ibunya Jeanny Herawati
Verell Reuben Senjaya dengan ibunya Jeanny Herawati

MALANGTIMES - Seorang anak penyandang autisme bernama Verell Reuben Senjaya sudah 5 tahun bersekolah di SDK Santa Maria 2 Kota Malang, harus angkat kaki dari sekolah. Verell secara tidak langsung diancam tidak naik ke kelas 6.

Pilihannya ada dua, naik kelas namun pindah sekolah atau tetap di sekolah namun menetap di kelas 5. Kebijakan sekolah ini membuat sang ibu, Jeanny Herawati, merasa Verell didiskriminasi. Mengapa?

iklan

Menurut Jeanny, Verell sudah dari TK sekolah di Santa Maria 2. Suster Veronique Marie adalah kepala sekolah yang baru saja menjabat di SDK Santa Maria II. Sebelum-sebelumnya, tidak ada masalah apa-apa yang berkaitan dengan Verell di sekolah.

“Verell tidak pernah berbuat onar. Autis kan macem-macem. Dia tidak pernah sampai mukul temen. Memang, di beberapa pelajaran tertentu yang dia nggak suka dia memang tidak responsif. Memang nilai-nilai pelajarannya tidak termasuk di golongan yang sangat baik, namun juga tidak buruk, karena masih banyak anak lain yang nilai-nilainya jauh di bawah Verell,” ujar Jeanny.

Jeanny menyatakan bahwa Verell juga tidak pernah menyusahkan guru, sekolah, ataupun mengganggu teman di kelas maupun di luar kelas. Bahkan untuk presentasi dan main drama pun Verell mampu. Menurut dia, Verell paling suka pelajaran matematika, bahasa Inggris, dan geografi.

Jeanny pun membuat petisi berjudul Usut Ketidakadilan bagi Verell Anak Autis yang Kompeten kemarin (3/10). Dalam petisi tersebut Jeanny bertanya apakah dipaksanya Verell mengundurkan diri ini lantaran sekolah khawatir kelulusan di sekolah tersebut kelak tidak 100%. Berikut ini adalah salah satu fragmen dari tulisan Jeanny.

“Dan menurut guru kelas ybs, dari perdebatan panjang di Forum Guru (bukan berdasarkan history nilai2 Verell), diungkapkanlah opsi untuk tidak menaikkan Verell ke kelas 6, dg pertimbangan "lebih baik tidak naik kelas karena hanya diketahui lingkungan sekolah saja, daripada nantinya tidak lulus". 
Kami bertanya, apakah sekolah khawatir nantinya kelulusan SD tidak 100% gara2 Verell? Dan dijawab bahwa kekhawatiran itu HANYA SEBAGIAN KECIL. Pada saat itu kami berpikir: 
1. Lalu apa sebenarnya hal yang lebih besar & prinsip, yang menjadi kekhawatiran sekolah ini? 
2. Alangkah hebatnya orang2 di sekolah ini, bisa memprediksi hal2 yang akan datang & memvonis nantinya Verell akan tidak lulus. Sedangkan anak2 lain yg nilainya jauh di bawah Verell, sepertinya dijamin akan lulus hanya karena mereka normal, bukan penyandang Autisme,” tulisnya.

Hingga berita ini dibuat, petisi sudah ditandatangani oleh 491 orang. Jeanny sendiri menyatakan bahwa tujuannya adalah agar yayasan turun tangan atas apa yang dilakukan Suster Veronique.

“Saya visinya cuma agar yayasan denger. Karena anak saya sudah diperlakukan seperti ini. Maksud saya yayasan ini turuno tangan, lihat suster ini gimana selama memimpin di sana. Banyak teman yang mau membantu saya ke ranah hukum tapi saya nggak kepingin. Saya masih punya hati. Cukup yayasan biar denger saya. Jangan sampai ada lagi anak yang seperti anak saya. Cukup Verell saja,” ungkapnya.

Sementara itu, Suster Veronique sendiri waktu didatangi di sekolah masih enggan menemui wartawan MalangTIMES. Kendati demikian, mendengar kasus ini, salah satu orang tua murid menyatakan keberatan hatinya atas sikap sekolah.

“Anaknya sih memang beda ya cuman nggak pernah ngganggu temen yang lain. Kalau dikeluarkan ya seharusnya dulu waktu kelas dua kelas tiga. Mestinya kan ya awal-awal. Kasihan. Anak kayak gitu kan butuh adaptasi juga. Adaptasi yang anak biasa aja susah apalagi yang seperti itu,” papar Yani, salah satu orang tua murid yang sekolah di SDK Santa Maria 2.

Salah satu teman yang pernah satu kelas dengan Verell Nando Rifqy menyatakan bahwa Verell memang tidak bisa mengikuti pelajaran. Kalau olahraga tidak pernah bergabung melainkan menyendiri. Namun, Nando menyatakan Verell memang pintar matematika meski sering remidi di pelajaran lain.

“Kelas 5 naik ke kelas 6 nggak tau kok dikeluarin. Ya kasihan. Kurang kumpul sama anak-anak. Harusnya dia tetep sekolah karena buat mengembalikan dirinya yang sebenarnya. Harusnya gurunya membimbing lebih giat lagi. Nggak langsung dikeluarin,” ujar Nando.


Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :


Top