Social Media

Share this page on:

Waria Asal Trenggalek Inilah Petunjuk Jalan Soedirman, Cara Mandinya Sempat Memantik Kecurigaan sebagai Mata- Mata Belanda

11-10-2018 - 08:28
Soedirman saat ditandu dan bergerilya di berbagai hutan. Pemandu jalan menjadi bagian dari perjalanannya selama bergerilya (Ist)
Soedirman saat ditandu dan bergerilya di berbagai hutan. Pemandu jalan menjadi bagian dari perjalanannya selama bergerilya (Ist)

MALANGTIMES - Tidak ada yang menyangka saat pertama kalinya, bahwa sang penunjuk jalan dalam gerilya Panglima Besar Soedirman, yang disebut si Putih warga Desa Jambu, Trenggalek adalah seorang waria. 

Disebut si Putih karena dirinya berkulit putih dengan perawakan kecil, serta berperangai lembut tapi gerakannya lincah. Tidak ada yang mengetahui siapakah sebenarnya si Putih yang telah ikut berperan besar dalam proses gerilya Panglima Besar Soedirman. Yang saat itu sudah tidak mampu untuk berjalan sendiri. 

iklan

Panglima Soedirman harus ditandu untuk menghindari Belanda. Dalam perjalanannya itulah,  Soedirman beserta pasukannya yang bergerilya dan akan memotong jalur Ponorogo-Trenggalek bertemu dengan si putih yang akhirnya menjadi pemandu jalan mereka.  

Di era gerilya Soedirman yang membuat Belanda kerap kewalahan, pemandu jalan merupakan salah satu kunci sukses perang gerilya Soedirman dan pasukannya. Para pemandu jalan yang merupakan penduduk sekitar di wilayah yang akan dilalui Soedirman, dipercaya lebih memahami dan mengetahui berbagai arah jalan yang akan ditempuh. Maupun tempat-tempat aman untuk menyusun siasat perang yang aman. 

Peran para petunjuk jalan dalam perjuangan kemerdekaan, khususnya yang kerap dipakai oleh Soedirman, terekam dalam berbagai kisah yang dilisankan oleh Kapten Tjokropranolo pengawal Soedirman dalam buku berjudul Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman, Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia.

“Menjadi kebiasaan rombongan itu untuk menggunakan tenaga-tenaga setempat sebagai penunjuk jalan,” kata Tjokropranolo. 

Pun dengan kisah si Putih yang ternyata diketahui seorang waria ini. Gegara setiap kali akan mandi,  selalu tidak mau bersama-sama. Konon,  para pasukan dulu lebih suka mandi bersama-sama di sungai. 

Dalam kisah yang dituturkan Tjokropranolo, sekitar tahun 1949. Soedirman dan pasukannya melakukan gerilya dengan cara berjalan kaki dari Desa Jambu menuju Warungbung. Masyarakat setempat yang kerap memberikan berbagai bantuan pada pasukan kemerdekaan saat itu menyarankan agar segera berangkat ke tempat lain.

Karena mereka terlalu dekat dengan markas Belanda yang biasanya berpatroli. Agar perjalanan lancar, Tjokropranolo seperti biasanya mencari pemandu jalan dari warga setempat. Baginya, para pemandu jalan tersebut sangat memahami jalur dan medan yang akan dilewati. 

Saat berada di wilayah tersebut, penduduk memperkenalkan seorang penunjuk jalan bernama Putih. si Putih ini pun menawarkan dirinya untuk tugas tersebut. Dengan senang hati Tjokropranolo menerima tawaran tersebut. Walaupun tetap dirinya waspada dengan adanya si Putih ini. Karena,  saat itu Belanda dengan senang hati akan memberi hadiah siapapun yang bisa memberikan informasi penting mengenai pasukan Indonesia. 

Tjokropranolo, dengan sikap waspadanya secara diam-diam mengawasi si Putih. Serta secara rahasia juga meminta kepada Mustofa, anggotanya, untuk mengawasi ketat. Pasalnya, Tjokropranolo merasa aneh, si Putih yang secara fisik terbilang mungil dengan berani menawarkan dirinya sebagai penunjuk jalan. 

"Padahal di sekelilingnya saat itu banyak orang dengan postur tubuh besar dan kokoh," ujarnya yang juga mengatakan setelah si Putih diterima, dia menjadi pemandu jalan dari Desa Gunungtukul ke desa Ngideng. 

Dua hari dua malam, pasukan Soedirman dituntun Putih dalam perjalanan tersebut. Hingga sampailah rombongan di Desa Ngideng dan disambut oleh seorang penduduk yang secara ekonomo cukup berada saat itu. 

Di sinilah terkuak siapa sebenarnya si Putih. Saat rombongan disambut dengan begitu baik di rumah penduduk serta dipersilahlan untuk mandi di sumur. Pasukan memilih mandi di sungai yang dekat rumah penduduk tersebut. 

Saat itulah kecurigaan Tjokropranolo semakin menjadi-jadi kepada si Putih. Saat mereka mandi bersama di sungai, si Putih tidak mau bersama-sama dengan rombongan. Tjokropranolo pun memerintahlan Mustofa mengikuti si Putih. "Aku takut dia tahu siapa yang kita kawal dan melaporkannya ke Belanda. Ikuti dia," ujarnya. 

Selang beberapa waktu. Mustofa datang melapor kepada Tjokropranolo. Dengan tawa lebar dan berkata, "Si Putih bukan mata-mata Belanda. Dia hanya malu mandi bersama karena dia menganggap dirinya wanita. Wanita bertabiat kelaki-lakian," lapor Mustofa yang membuat Tjokropranolo lega dan menyatakan bahwa si Putih yang nama aslinya tidak diketahui itu ternyata seorang waria. 

“Legalah hati saya, setelah mengetahui bahwa si Putih itu ternyata seorang waria,” kata Tjokropranolo yang mengapresiasi keberaniannya menjadi pemandu jalan serta mampu membuat rombongan selamat dari incaran Belanda. 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :


Top