Social Media

Share this page on:

Dampak Langsung Polemik Pasar Blimbing

Pedagang Terpaksa Kehilangan Nyawa Istri Akibat Proyek Pasar Blimbing Terbengkalai

18-10-2018 - 06:06
Pasar Blimbing Kota Malang (Igoy/MalangTIMES)
Pasar Blimbing Kota Malang (Igoy/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Delapan tahun sudah revitalisasi Pasar Blimbing Kota Malang diliputi polemik yang tak kunjung menemukan solusi konkret.

Sejak 2011 lalu, proyek revitalisasi yang direncanakan, sampai saat ini masih belum menunjukkan perkembangan yang siginfikan. 

iklan

Dampaknya, banyak pedagang Pasar Blimbing yang menjadi korban. Tak hanya harus kehilangan pendapatan bahkan sebagian mereka  terpaksa kehilangan nyawa orang-orang terdekat yang mereka cintai. Hal tersebut akibat rencana renovasi dan relokasi yang tak ada kejelasan.

Salah satunya dialami Kamat (56) warga Jalan Simpang Candi Panggung 62, Blimbing, Kota Malang.

Ia mengaku tak hanya kehilangan harta bendanya serta omset sekitar Rp 20 juta setiap hari.

Ia bahkan harus kehilangan istri, pendamping hidupnya yang terpaksa hidup susah akibat tak jelasnya pembangunan atau renovasi Pasar Blimbing.

Dalam kondisi serba susah, penghasilan turun drastis, bahkan tidak ada pemasukan sama sekali untuk kebutuhan keluarga, istri Kamat mendadak sakit stroke.

Dalam posisi istrinya sakit itu, ia mengalami kesulitan keuangan sehingga untuk biaya pengobatan sang istri tak mampu ia siapkan.

Sampai akhirnya, Tuhan berkata lain. Istri yang telah menemaninya puluhan tahun, akhirnya meninggalkannya untuk selamanya menghadap Sang Ilahi. Peristiwa ini tentu membuat Kamat begitu terpukul. 

"Sudah sekitar empat bulan istri saya meninggal. Saya sudah banyak berkorban. Bahkan istri saya sampai meninggal karena ngenes (nelangsa) merasakan beban hidup. Saya terus terang melarat karena terus memperjuangkan dan berharap banyak dari Pasar Blimbing," ungkap Kamat ketika ditemui di bekas lahan bedaknya yang dulu menjadi tempatnya berjualan dengan keuntungan jutaan rupiah.

Ia juga menyampaikan tak hanya dirinya saja yang berkorban banyak demi mempertahankan Pasar Blimbing namun juga kawan-kawannya sesama pedagang.

Sekretaris Paguyuban Pasar Blimbing juga bernasib sama dengannya. 

Istrinya juga meninggal dunia akibat nelangsa dengan situasi yang terjadi di Pasar Blimbing. 

"Ada satu lagi teman saya, Pak Takad namanya. Ia harus diceraikan istrinya akibat polemik Pasar Blimbing. Bahkan ia juga pernah masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena stres memikirkan Pasar Blimbing dan akibat peceraian karena ia dituntut untuk memenuhi nafkah namun tidak bisa dipenuhi," terang Kamat.

Sebenarnya, saat itu, dalam rencana pembangunan, puluhan pedagang dipindahkan ke Pasar Pandanwangi. Namun karena di sana sepi, lama-lama pedagang berhenti berjualan lantaran kondisinya tak sama dengan Pasar Blimbing yang ramai pembeli.

"Nah, kemudian tiba-tiba dipindah ke Pasar Stadion. Saya juga nggak diberitahu oleh Pemkot. Kemudian saya tanya, katanya itu permintaan pedagang. Kalau saya meninggalkan Pasar Pandanwangi, di sana kan juga sudah ada yang dibangun, lalu gimana nasib pedagang yang lain, siapa yang tanggung jawab," paparnya

Lanjut Kamat, Pemkot juga ia anggap tidak bertanggung jawab, dengan mencarikan solusi atas polemik ini.

 "Mereka harusnya kan bertanggung jawab, yang nyuruh saya juga Pemkot. Harus segera ada solusi pembangunan," jelasnya.

Sampai saat ini, pihaknya masih terus berjuang untuk mendapatkan keadilan terkait Pasar Blimbing.

Bahkan seminggu yang lalu, pihaknya sudah mengirimkan surat permohonan audiensi ke Wali Kota Malang. Namun hingga saat ini surat permohonannya masih belum direspons.

"Saya juga sudah melaporkan polemik Pasar Blimbing ini ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang khususnya terkait adanya pungutan liar kepada pedagang. Pedagangpun jumlahnya juga bertambah banyak sekali. Namun sampai saat ini saya juga belum tahu perkembangannya. Tapi saya siap bongkar semua, jika perlu saya akam mengadukan hal ini ke pemerintah pusat," tegasnya.

Sementara itu, pantauan MalangTIMES di lokasi bekas bedak dari para pedagang Pasar Blimbing yang sudah dibongkar. Saat ini tampak terbengkalai dan tak terawat.

Banyak sampah berserakan, pecahan kaca, popok dan sampah lain berserakan dimana-mana. 

Stadion Blimbing sebagai tempat penampungan sementara juga tak terawat.

Meski di sana sudah terdapat bedak-bedak meja, namun para pedagang saat ini masih enggan menempati pasar penampungan tersebut. Sebab, lokasi tersebut dianggap belum memenuhi harapan para pedagang.

Pertemuan demi pertemuan serta komunikaai sudah seringkali dilakukan. Namun sampai saat ini masih belum menemukan jalan keluar.

Bagaimana kelanjutan polemik revitalisasi Pasar Blimbing ini? Simak terus hanya di MalangTIMES (JatimTIMES Network).


Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Heryanto
Publisher :


Top