Social Media

Share this page on:

Usai Berdoa, Seorang Wanita Lempar Koin Tolak Bala ke Wali Kota Batu

18-10-2018 - 08:38
Tampilan tari Bedhayan Among Tani yang dibawakan 17 penari dalam malam resepsi HUT Kota Batu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Tampilan tari Bedhayan Among Tani yang dibawakan 17 penari dalam malam resepsi HUT Kota Batu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Puluhan keping uang rupiah koin dihamburkan Siti Aisyah di halaman Balai Kota Among Tani, Kota Batu. Hal itu dilakukan saat sesi doa usai serah terima 17 tumpeng dari perwakilan masyarakat ke Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. Keping-keping koin itu lantas menjadi rebutan warga, termasuk wali kota dan jajarannya.

Parade 17 tumpeng dan 17 penari mengawali kegiatan malam resepsi HUT ke 17 Kota Batu, Rabu (17/10/2018) malam. Sebagaimana adat Jawa, tumpeng-tumpeng yang sebelumnya diarak itu lantas didoakan bersama oleh para pemuka dari lima agama. Salah satunya oleh Siti Aisyah yang memanjatkan doa dalam bahasa Jawa.

iklan

Dalam doa tersebut, dia berharap selamatan yang dilakukan masyarakat Kota Batu bisa menghindarkan kota apel itu dari marabahaya. Baik dari utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah. Sebagai simbol, dia lantas melemparkan koin-koin ke empat arah tersebut.

Jajaran pimpinan Pemkot Batu dan Forkopimda yang berada di sisi barat panggung pun tak luput dari lemparan itu. Tidak menghindar, para pejabat itu malah berupaya menangkap koin-koin yang berhamburan. 

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono mengungkapkan, arak-arakan tumpeng tersebut juga merupakan pengungkapan bentuk syukur atas berkah kesuburan, hingga pertumbuhan pariwisata di Kota Batu yang mampu menghidupi masyarakat. "Doa dipanjatkan oleh lima pemuka agama sebagai simbol heterogenitas masyarakat Kota Batu yang tetap menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa," sebutnya.

"Selain itu juga ada persembahan khusus tarian kolosal Bedhayan Among Tani yang dibawakan 17 penari," urainya. Tari tersebut tampak istimewa dengan percampuran antara unsur bedhayan dengan tarian beskalan yang khas Malangan. Yang unik, para penari seluruh tubuh dan wajahnya dilulur dengan warna emas. 

Imam menguraikan, bedhayan dimaknai keterbukaan atau kesederhanaan serta terjalinnya hubungan yang harmonis antara satu dengan lainnya. "Bedhayan Among Tani dimaknai hubungan yang harmonis antara para pemimpin dan pemerintah dengan rakyat petani yang ada di Kota Batu. Sehingga ada keselarasan lahiriah dan batiniah," pungkasnya.


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :


Top