Social Media

Share this page on:

Dari Petani Menjadi Pencabut Nyawa, 705 Tentara Mati dalam 100 Hari di Tangannya

18-10-2018 - 10:26
Simo sang Malaikat Maut Berbaju Putih (Ist)
Simo sang Malaikat Maut Berbaju Putih (Ist)

MALANGTIMES - Tidak pernah ada yang menyangka, bahwa petani asal Finlandia bernama Simo Häyhä mampu menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa paling ditakuti pasukan Uni Soviet. 

Di tangannya, ratusan prajurit Uni Soviet meregang nyawa. Total ada sejumlah 705 nyawa yang dibantainya selama 100 hari atau hanya 3 bulan saja. Dalam peperangan antara Uni Soviet dengan Finlandia, 1939-1940.

iklan

Simo pun menjadi momok paling menakutkan saat itu bagi pasukan Uni Soviet atau Rusia. Namanya dicatat sebagai malaikat maut berbaju putih (white death) dan menjadi legenda dalam dunia militer. Sebagai pembunuh mematikan dalam barisan sniper atau penembak runduk. Pasukan khusus pembunuh jarak jauh yang sangat berperan dalam berbagai pertempuran di dunia. 

Lantas apakah keistimewaan Simo sebagai sniper,  selain ratusan korban di tangannya. Dalam The Sniper Log Book—World War II dicatat, Simo yang asalnya seorang petani dan pemburu adalah lelaki dengan daya tahan tubuh luar biasa. Dalam berbagai pertempuran dengan cuaca bersalju yang sangat ekstrim, diperkirakan minus 40 derajat saat itu, tidak semua prajurit mampu berkosentrasi menjatuhkan lawannya. 

Tapi, Simo yang hanya mempergunakan senjata sniper standar, mampu membunuh setidaknya 505 nyawa tentara Uni Soviet seorang diri. Senjata Simo saat itu tidak memiliki lensa bidik sama sekali, dan dianggap masih primitif, dibandingkan senjata lawannya. Saat memegang senapan otomatis Suomi KP/-31, dirinya lebih menakutkan lagi. Membunuh 200 orang dari pasukan lawan. 

Korban bidikan Simo, dari berbagai kalangan malah lebih banyak dibandingkan dengan laporan pihak lawan yang mengonfirmasikan korban atas ulahnya. 

Keberadaan Simo sang malaikat maut berbaju putih kelahiran 17 Desember 1905, membuat Uni Soviet mengirimkan berbagai pasukan runduk terbaiknya. Tapi, mereka selalu hilang dan kembali dalam kondisi mati. Hal ini membuat Uni Soviet mengirimkan satu batalion pasukannya yang khusus untuk memburu dan membunuh Simo. Sayangnya, kembali pasukan tersebut hanya tinggal nama. Dibantai peluru Simo yang mampu bertahan dan berdiam diri dalam suhu ekstrim selama berjam-jam bahkan berhari-hari. 

Kelebihan Simo yang menjadi musuh utama Uni Soviet lainnya adalah teknik menyamarnya. Simo ahli berkamuflase layaknya bunglon dalam medan pertempuran. Keahliannya ini membuat dirinya selalu lolos dari berbagai strategi lawan. Dari counter sniper, serangan artileri sampai carpet-bombing di area-area yang diperkirakan sebagai tempat Simo bersembunyi.

Hal menakjubkan lainnya dari Simo adalah kemampuannya bertahan dari jerat maut. Hal ini pernah terjadi di tahun 1940, saat salah satu tentara lawan berhasil menembaknya. Simo tertembak pada bagian mulut dengan kondisi luka mengerikan. Sebagian wajahnya hancur diterjang peluru ledak lawan. 

Melawan sang maut, Simo terkapar koma selama 13 hari. Sampai akhirnya sang maut menyerah untuk mengambil nyawanya. Simo siuman dari koma. 

Tahun 1998, Simo diwawancarai banyak media atas perannya sebagai sniper mematikan. Terutama mengenai bagaimana dirinya menjadi malaikat maut bagi para lawannya. Dimana setiap pelurunya dipastikan bisa merenggut lawannya. 

"Latihan," jawabnya santai. Simo menempa dirinya yang hanya petani dengan berbagai latihan yang sangat keras, sehingga menjelma menjadi sniper mematikan. Pun saat ditanya mengenai ratusan korbannya, Simo mengaku dirinya hanya menjalankan tugas negara. 

Di tahun 2002, Simo menutup matanya di usia senja yaitu 96 tahun di rumah sakit veteran perang. Di nisannya, terukir 3 kata yakni Rumah, Agama, Ibu Pertiwi.


Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :


Top